Menilik Ndalem Kemasan, Saksi Bisu Kisah Pilu Permaisuri Paku Buwono VI
Sebuah rumah Joglo yang berada di Jalan Mahesa, Kota Solo itu kondisinya cukup memprihatinkan. Padahal rumah itu memiliki nilai sejarah yang besar. Dulunya, rumah itu menjadi tempat Sinuhun Paku Buwono VI melakukan tirakat. Beberapa seniman terkenal juga dibesarkan di sana. Rumah itu bernama Ndalem Kemasan
Sebuah rumah Joglo yang berada di Jalan Mahesa, Kota Solo itu kondisinya cukup memprihatinkan. Padahal rumah itu memiliki nilai sejarah yang besar. Dulunya, rumah ini menjadi tempat Sinuhun Paku Buwono VI melakukan tirakat.
Selepas Raja Kraton Surakarta itu dibuang oleh Belanda, permaisurinya, Kanjeng Ratu Mas, terusir dari kraton dan kemudian menempati bangunan ini sebagai tempat tinggal. Oleh karena itu, rumah itu kemudian diberi nama Ndalem Kemasan.
Namun di tempat ini, hati Kanjeng Ratu Mas bersedih karena suaminya, Paku Buwono IV diculik oleh Belanda dan dibuang ke Ambon. Matanya sesekali melihat pada sepucuk surat yang dikirim sang suami dari tempat pembuangan.
Saat itulah, tak terasa matanya tanpa sadar meleleh dan mengalir lurus di atas perut buncitnya yang tengah mengandung. Di dalam Ndalem Kemasan, sang permaisuri itu hidup dalam kekurangan dan ketabahan. Berikut selengkapnya:
Hidup Serba Kekurangan
©YouTube/Warta Joglo Channel
Dikutip dari kanal YouTube Warta Joglo Channel, Kanjeng Ratu Mas memang memilih Ndalem Kemasan sebagai tempat pengungsian. Meski dalam hatinya ia sebenarnya ingin kembali ke kampung halamannya di Boyolali, Namun Ratu Mas tidak boleh melakukannya agar status putra mahkota yang disandang anaknya tidak hilang.
Dengan berbagai keterbatasan fasilitas, Ratu Mas tetap tabah tinggal di Ndalem Kemasan. Hingga akhirnya sang anak lahir pada 22 Desember 1830. Sebagai tanda bahwa dia pernah tinggal di luar tembok kraton dan hidup terlunta-lunta, ari-ari sang cabang bayi itu dikubur di halaman Ndalem Kemasan. Kelak, anaknya itu diberi nama Raden Mas Duksino dan menjadi raja Kraton Surakarta bergelar Paku Buwono IX.
Kawah Candradimuka
©YouTube/Warta Joglo Channel
Selain menjadi tempat tinggal Permaisuri Kraton Surakarta, Ndalem Kemasan pernah menjadi semacam kawah candradimuka pada pertengahan abad ke-20.
Tempat itu menjadi lokasi berlatih teater. Bahkan banyak seniman kondang, baik di Kota Solo maupun di kancah Nasional, lahir dari tempat ini. Salah satunya adalah Widji Tukul.
Tak Ada Perubahan Berarti
©YouTube/Warta Joglo Channel
Surodjo mengatakan, dari dulu hingga sekarang, rumah itu tidak mengalami perubahan berarti. Dikutip dari kanal YouTube Warta Joglo Channel, ruang utama bangunan yang berada di tengah memiliki empat soko guru atau tiang utama yang berukuran cukup besar. Tiang tersebut usianya sudah ratusan tahun, namun masih tampak kokoh.
Selain itu di dalam almari yang terdapat di ruang utama, masih terdapat perabot makan dan minum. Perabot itu masih peninggalan asli dari leluhur pemilik Ndalem Kemasan, seperti gelas, piring, sendok, garpu, dan beberapa gerabah kuno.
Tidak Terawat
©YouTube/Warta Joglo Channel
Menurut BRM Kusumo Putro, seorang penggiat budaya dari Forum Budaya Mataram, rumah itu seolah terlihat tidak terawat. Oleh karena itu, dia merasa prihatin dan berencana mengirim surat kepada pemerintah daerah dan pusat untuk memberi perhatian khusus, terutama agar bangunan itu bisa direnovasi menjadi lebih baik.