Mengunjungi Pasar Kotagede, Pasar Tradisional Tertua di Jogja
Pasar Kotagede merupakan salah satu bangunan tertua di Jogja. Lokasinya tidak jauh dari makam raja-raja Mataram di Kotagede. Pasar ini dibangun oleh Ki Gede Pamanahan pada abad ke-16.
Pasar Kotagede merupakan salah satu bangunan tertua di Jogja. Lokasinya tidak jauh dari makam raja-raja Mataram di Kotagede. Pasar ini dibangun oleh Ki Gede Pamanahan pada abad ke-16.
Meskipun telah mengalami pemugaran beberapa kali, letak pasar ini tak pernah berubah sejak awal berdirinya. Pasar Kotagede menjadi bagian dari konsep Catur Gatra Tunggal, yaitu empat wahana yang menjadi satu kesatuan tunggal, terdiri atas pasar, masjid, alun-alun, dan keraton.
Hingga kini, pasar ini masih aktif dan digunakan sebagai aktivitas warga. Tidak hanya sayur mayur, di Pasar Kotagede ini juga ada penjual pakain bekas, hingga keperluan lainnya.
Pasar Kotagede Era Mataram Islam
©Jogjaprov.go.id
Dilansir dari Jogjaprov.go.id, pada zaman dulu, Pasar Kotagede berbeda dengan yang sekarang. Dulu di Pasar Gede ini ditumbuhi banyak pohon perindang.
Gambaran pasar zaman dulu dengan zaman sekarang cukup jauh. Dulu, transaksi jual beli dilakukan di bawah pohon perindang.
Waktu itu para penjual duduk di atas tanah.
Barang-barang yang diperdagangkan sebagian besar merupakan hasil tani yang berupa beras, sayur-mayur, dan buah-buahan. Hasil bumi itu dibawa ke pasar dengan cara dipikul atau digendong dari desa tempat ditanamnya hasil bumi tersebut.
Hari Pasaran
©Jogjaprov.go.id
Transaksi paling ramai di Pasar Kotagede terjadi di hari pasaran Legi. Saat itu, para pedagang tak hanya menjual kebutuhan sehari-hari. Mereka juga menjual barang-barang antik seperti kain batik, lalu ada pula perkakas yang terbuat dari besi dan tembaga antara lain sabit, pisau dan cangkul. Ada pula aneka gerabah seperti kendil, kendi, dan kain. Dijual pula alat untuk membatik seperti lilin, malam, dan celupan.
Selain itu, perhiasan yang terbuat dari emas, perak, dan batu permata juga meramaikan transaksi yang terjadi di Kotagede. Di samping itu juga ada keris, tangkai keris, sarung keris, cincin keris, timang, rantai, anting-anting, cincin, piring, tutup gelas, patung kecil, dan ikat pinggang.
Banyaknya barang-barang yang dijual di Kotagede itu membuat pengunjung yang datang ke pasar ini dapat dengan mudah mendapatkan kebutuhan yang diperlukan, terutama hasil kerajinan yang tidak ditemukan di tempat lain.
Kuliner Pasar Kotagede
©Jogjaprov.go.id
Selain perkakas kebutuhan sehari-hari, Pasar Kotagede juga menjual berbagai macam kuliner, beberapa di antaranya adalah kipo dan yangko.
Yangko di Kotagede sudah ada sejak tahun 1921, yaitu sejenis kudapan yang terbuat dari beras ketan.
Lalu juga ada kipo. Makanan ini terbuat dari beras ketan, kelapa, dan gula Jawa. Karena jenis makanan ini tidak awet, maka tidak banyak warga Kotagede yang meneruskan usaha ini.
Perkembangan Pasar Kotagede
©Jogjaprov.go.id
Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Pasar Kotagede mengalami pembangunan pesat. Salah satunya adalah pembangunan los-los pasar yang seragam seperti pasar tradisional lain.
Menjelang tahun 1960, berdiri kios di sebelah utara dan barat Pasar Kotagede. Kawasan Pasar Kotagede waktu itu masih dikelilingi pagar kawat berduri dan di dalam pasarnya ditumbuhi pohon waru besar.
Di dalam pasar pada waktu itu ada warga pendatang dari luar Kotagede yang menetap di sana antara lain pedagang arang, kayu bakar, warung nasi, dan aneka minuman panas dan dingin. Salah satu penghuni pasar yang legendaris adalah Beles. Ia terkenal karena profesinya sebagai bandar judi yang digelar tiap malam di tengah pasar.