LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JATENG

Mengunjungi Desa Kartun di Purbalingga, Rumah Warga yang Dijadikan Wadah Seni

Ketika berkunjung ke Desa Sidareja, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga, akan terasa ada yang beda dengan desa-desa pada umumnya. Di sana, tembok-tembok rumah penduduk diisi oleh lukisan yang beragam. Oleh masyarakat setempat, desa itu lebih dikenal dengan sebutan desa kartun.

2020-10-18 11:30:00
Jateng
Advertisement

Ketika berkunjung ke Desa Sidareja, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga, akan terasa berbeda dengan desa-desa pada umumnya. Di sana, tembok-tembok rumah penduduk diisi oleh lukisan yang beragam. Oleh masyarakat setempat, desa itu lebih dikenal dengan sebutan desa kartun.

Selain lukisan-lukisan unik yang terdapat di tiap tembok rumah penduduk, di sana terdapat juga sekolah seni bernama Kie Art Cartoon School yang diperuntukkan bagi anak-anak desa setempat.

Melansir dari Liputan6.com, desa kartun itu merupakan hasil kolaborasi 8 seniman yang terdiri dari kartunis dan muralis. Sebelum membuat desa kartun, para seniman melakukan observasi selama pandemi untuk menggali legenda desa dan tradisi yang sudah ratusan tahun tidak dilestarikan kembali.

Advertisement

Dengan konsep desa kartun, diharapkan para generasi muda peduli terhadap tradisi mereka yang telah lama hilang. Lalu apa saja yang terdapat di desa kartun itu? Berikut selengkapnya:

Ingin Memajukan Perekonomian Desa

Advertisement

©Purbalinggakab.go.id

Walaupun baru dirintis dan dikembangkan sejak awal masa pandemi COVID-19, ide untuk membuat desa kartun di Sidareja sebenarnya sudah tercetus dua tahun sebelumnya. Slamet Santosa, salah satu orang yang menginisiasi adanya desa kartun, mengatakan bahwa melalui kartun dia ingin meningkatkan perekonomian masyarakat dengan mengadakan berbagai kegiatan dan mendatangkan banyak orang.

“Saya merasa tertantang karena masing-masing desa di Purbalingga punya desa wisata. Tapi desa ini lain dari pada yang lain karena kami mengangkat budaya khusus untuk Sidareja. Selain itu kami juga mendidik warga lewat kampung terutama anak-anak zaman sekarang,” kata Slamet dikutip dari ANTARA pada Kamis (10/9).

Angkat Kembali Budaya Nenek Moyang

©Instagram/@cartoonvillagesidareja

Selain untuk mengangkat perekonomian warga, adanya desa kartun diharapkan dapat meningkatkan kecintaan anak-anak terhadap tradisi leluhur atau nenek moyang bangsa Indonesia melalui kartun. Oleh karena itu, nantinya setiap rumah akan ada lukisan mural yang bercerita tentang legenda yang berkembang di Desa Sidareja. Untuk menggali legenda itu, Slamet mengaku banyak menggali informasi pada sesepuh desa.

“Kita banyak terpapar oleh dunia luar. Tetapi ini ada suatu tempat yang tidak hanya Instagramable namun juga edukatif di mana mereka bisa mengenal kembali nenek moyang mereka,” ujar Slamet.

Sekolah Kartun Gratis

©Instagram/@cartoonvillagesidareja

Untuk mengembangkan skill anak-anak sekitar dalam melukis kartun, di sana ada sekolah kartun yang diberikan secara gratis. Sekolah itu dinamakan Kie Art Cartoon School.

Untuk sementara sekolah kartun itu melayani anak usia SD dari kelas satu hingga kelas lima. Di sana mereka diajarkan tentang kartun dan lukisan dengan kurikulum yang jelas.

“Nah, sekolah kartun ini sudah ada kurikulumnya. Jadi dengan 8 bulan berjalan, anak-anak akan dilatih dasar-dasar menggambar, bagaimana mencari ide, hingga akhirnya pada bulan kedelapan mereka akan berkompetisi,” ungkap Slamet.

Dapat Tanggapan Positif

©Instagram/@cartoonvillagesidareja

Keberadaan Desa Kartun dengan sekolah kartunnya mendapat tanggapan positif dari banyak pihak tak terkecuali Sekretaris Desa Sidareja Wasis Wangsa Wijaya. Dia berharap adanya sekolah kartun itu bisa mengurangi dampak penggunaan handphone pada anak-anak. Selain itu, dengan melukis diharapkan timbul jiwa yang jujur pada anak.

Sementara itu salah seorang remaja, Pandu Wicaksono mengaku senang oleh kegiatan yang dilakukan Koe Art School. Sebelum ada sekolah itu, dia tidak bisa melukis sama sekali.

“Sebelumnya saya memang tidak bisa melukis namun dengan adanya sekolah kartun saya jadi bisa melukis. Pada acara ini, saya ditugaskan untuk melukis anak-anak yang sedang bermain permainan tradisional,” kata Pandu dikutip dari ANTARA.

(mdk/shr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.