Mengunjungi Astana Oetara, Kompleks Peristirahatan Terakhir Mangkunegara VI
Astana Oetara telah dipersiapkan oleh Mangkunegara VI sejak 1909 sebagai tempat peristirahatan terakhirnya kelak. Tahun 1962, tanah lapang yang berlokasi di Desa Nayu tersebut kemudian mulai dibangun dengan menyongsong arsitektur perpaduan Jawa dan Eropa.
Astana Oetara alias Pasarean Nayu merupakan salah satu cagar budaya di Surakarta yang tepatnya Terletak di Desa Nayu, Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah.
Astana Oetara merupakan kompleks pemakaman Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VI beserta keluarga, dan abdi dalemnya. Tak hanya itu beberapa tokoh nasionalis seperti K.R.M.H. Jonosewojo dan Roy B.B. Janis juga dimakamkan di Pesarean tersebut.
Untuk mengetahui sejarah Astana Oetara lebih dalam, simak informasi yang telah dirangkum merdeka.com berikut:
Mengenal Astana Oetara
©2023 Merdeka.com/Website surakarta.go.id
Berasal dari serapan bahasa Jawa, Astana mengandung makna makam, sementara Oetara berarti Utara, sehingga bila diartikan maka Astana Oetara merupakan pemakaman yang berada di utara.
Astana Oetara menjadi tempat peristirahatan terakhir Mangkunegara VI. Tak ayal tempat itu juga disebut sebagai Pasarean Giri Yasa yang merupakan sebutan untuk Mangkunegara VI yang memiliki sifat jujur dan tanpa pamrih.
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VI merupakan salah satu penguasa di Mangkunegaran sebelum digantikan oleh keponakannya, KGPAA Mangkunegara VII. Putra dari pasangan Mangkunegara IV bersama istrinya Raden Ayu Dunuk, Mangkunegara VI lahir pada 1857 dengan nama RM Suyitno. Saat usia 17 tahun, ia kemudian mengambil nama Kanjeng Pangeran Arya Dhayaningrat. Mangkunegara VI meninggal dunia pada tahun 1928.
Seperti namanya, Astana Oetara berada di bagian utara Pura Mangkunegaran yang menjadi bagian dari wilayah Desa Nayu, Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari, Surakarta. Pasarean tersebut memiliki luas hingga 1,4 hektar yang mencakup beberapa bangunan lain seperti pendopo utama, galeri, masjid, dan makam keturunan serta kerabat Mangkunegaran VI.
Sejarah Astana Oetara
©2023 Merdeka.com/Website puromangkunegaran.com
Dikutip dari surakarta.go.id, Astana Oetara telah dipersiapkan oleh Mangkunegara VI sejak 1909 sebagai tempat peristirahatan terakhirnya kelak.
Tahun 1962, tanah lapang yang berlokasi di Desa Nayu tersebut kemudian mulai dibangun dengan menyongsong arsitektur perpaduan Jawa dan Eropa.
Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VI ingin dimakamkan di Astana Oetara agar tetap dekat dengan rakyatnya. Pada Pasarean tersebut, tak hanya terdapat makam Pangeran Mangkunegara VI saja, melainkan juga K.R.M.H. Jonosewojo dan Roy B.B. Janis, yang merupakan tokoh nasional.
Kompleks Astana Oetara pada 2014 ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh Pemerintah Kota Surakarta.
Astana Oetara sempat mengalami renovasi pada 2020 lalu, tepatnya pada bagian museum dan area putro yang diberi pondasi dinding dan memperkuat struktur, perbaikan kaca patri pada area makam utama, peninggian lantai masjid, penggantian lantai depan dan plafon, serta perbaikan sumur.
Keunikan Astana Oetara
Astana Oetara kini menjadi salah satu destinasi wisata religi di Surakarta. Astana Oetara menjadi lokasi ziarah dan napak tilas bagi umat muslim yang ingin memanjatkan doa untuk Mangkunegara VI dan keluarga, beberapa tokoh nasionalis, serta para abdi dalemnya.
Menyandang status sebagai situs sejarah, Astana Oetara memiliki keunikan yang menari wisatawan kala mengunjungi Surakarta.
Salah satu keunikan paling menonjol adalah desain arsitekturnya yang bergaya Art Nouveau, yakni perpaduan antara arsitektur Jawa dengan Eropa yang konon didesain oleh presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Desain tersebut menjadi pembeda Astana Oetara dengan makam adipati Mangkunegara lain.
Selain itu, Astana Oetara juga menjadi pusat berbagai kegiatan masyarakat, seperti kegiatan kesenian, budaya, dan keagamaan.
Beberapa kegiatan yang dilaksanakan di Astana Oetara antara lain Laras Madyo, Mocopatan, diskusi kebudayaan, kegiatan ibadah, dan Grebeg Astana Oetara. Grebeg Astana digelar untuk memperingati penobatan Mangkunegara VI yang digelar setiap tanggal 21 November.
Dengan keunikan dan keindahan yang dimilikinya, Astana Oetara menjadi salah satu tempat yang menarik untuk dikunjungi bagi wisatawan, khususnya apabila tertarik dengan sejarah dan budaya Jawa.