LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JATENG

Mengenal Padusan, Tradisi Penyucian Diri Masyarakat Jawa Jelang Ramadan

Padusan adalah salah satu bentuk kearifan lokal Jawa ini konon sudah ada sejak zaman Wali Songo. Tradisi ini bertujuan untuk membersihkan diri baik secara lahir dan batin guna menyongsong datangnya Bulan Ramadhan.

2020-04-23 10:47:00
DIY
Advertisement

Padusan adalah tradisi yang banyak dilaksanakan khususnya di kalangan masyarakat Jawa menjelang Bulan Ramadhan. Salah satu bentuk kearifan lokal Jawa ini konon sudah ada sejak zaman Wali Songo. Tradisi ini bertujuan untuk membersihkan diri baik secara lahir dan batin guna menyongsong datangnya Bulan Ramadhan.

Pada awal mulanya, tradisi ini dilakukan dengan mendatangi sumber mata air murni yang dipercaya masyarakat bisa mendatangkan berkat. Di sana mereka kemudian mandi besar, membersihkan badan dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Seiring waktu, penerapan padusan pada masyarakat Jawa mengalami pergeseran. Ritual mandi besar dalam tradisi padusan tidak lagi harus dilakukan di sumber mata air, namun bisa di rumah masing-masing.

Advertisement

Di tambah lagi saat musim pandemi ini orang tidak boleh keluar rumah dan mengadakan acara yang bisa menciptakan kerumunan. Berikut selengkapnya.

Makna Padusan

Advertisement

2020 Merdeka.com/nu.or.id

Dilansir dari Liputan6.com, padusan sendiri dilakukan sebagai simbol untuk membersihkan jiwa dan raga sehingga bersih lahir batin. Keadaan bersih itu membuat seseorang siap menghadapi Bulan Suci Ramadhan.

Selain itu, padusan juga bisa menjadi momen untuk merenung dan introspeksi diri atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan di masa lampau. Oleh karena itulah padusan harus dilakukan di tempat yang sepi seorang diri.

Dengan keheningan dan suasana yang syahdu, seseorang bisa mengintropeksi diri agar memiliki niat lurus dalam menjalani ibadah di Bulan Ramadhan.

Tradisi Padusan di Yogyakarta

2020 Merdeka.com/indonesia.go.id

Di Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri, tradisi padusan sudah ada sejak zaman Hamengkubuwono I. Waktu itu, tradisi ini rutin diadakan di kolam-kolam masjid atau sumber mata air yang ditentukan Kraton.

Biasanya pada waktu itu para lelaki turun ke kolam-kolam dan menceburkan diri di sana. Sementara itu kaum perempuan tidak melakukan padusan bersama laki-laki tersebut.

Namun, memasuki tahun 1950, terjadi pergeseran budaya. Dilansir dari Liputan6.com, pada waktu itu, padusan tidak lagi dimaknai sebagai pembersihan fisik, namun lebih kepada pembersihan rohani. Mereka-pun tidak lagi mendatangi kolam-kolam di masjid untuk padusan.

"Kalau dulu masyarakat harus mandi di kolam masjid atau datang ke sumber mata air, saat ini orang cenderung membersihkan diri di rumah masing-masing," ujar Romo Tirun, salah seorang kerabat Kraton, dilansir dari Liputan6.com.

Air Murni Banyak Dicemari Warga

2015 merdeka.com/arie sunaryo

Pada waktu tradisi padusan masih sering dilakukan, biasanya lokasi sumber air ditentukan langsung oleh Sultan yang menjabat. Namun kini semakin padatnya pemukiman penduduk, air murni semakin banyak dicemari warga.

Sejak saat itu makin banyak saja sumber air yang tak bisa lagi digunakan untuk padusan. Hal itu pulalah yang melatar belakangi tradisi padusan di rumah masing-masing. Hal ini sangat disayangkan Romo Tirun.

"Air itu sarana utama untuk ritual karena menjadi simbolisasi hubungan manusia dengan Tuhan. Dengan demikian, air yang digunakan harus bersih dan murni," ujar Romo Tirun dilansir Liputan6.com.

Salah Kaprah Padusan

2020 Merdeka.com/jatimnet.com

Dilansir dari Liputan6.com, Romo Tirun juga menyesalkan saat ini terjadi pemahaman yang salah kaprah soal padusan.

Menurutnya, tren yang terjadi di lapangan justru padusan dilakukan bersama-sama antara laki-laki dan perempuan di tempat pemandian umum. Tak jarang pula pakaian yang dikenakan adalah pakaian ketat.

"Filosofi paduan adalah membersihkan diri sehingga ketika kita melakukannya harus benar-benar sesuai ajaran agama. Misalnya, berpakaianlah yang sopan serta tidak bercampur dengan lawan jenis. Dengan demikian, maka tradisi padusan tetap terjaga meski zaman sudah berubah," jelas Romo Tirun dikutip dari Liputan6.com

Bisa Dilakukan di Rumah Masing-masing

2020 liputan6.com

Sementara itu pengelola kantor Takmir Masjid Kauman Yogyakarta Waslan Aslam membenarkan kalau tradisi padusan sudah mengalami perubahan.

Waslan bercerita dulu masyarakat akan berbondong-bondong datang ke kolam masjid atau sumber air yang jaraknya jauh dari rumahnya.

Namun saat ini padusan bisa dilakukan di rumah masing-masing atau di kolam renang. Tapi menurutnya semua itu tak masalah asal niatnya benar.

"Yang terpenting dari tradisi ini adalah niat dalam diri untuk membersihkan diri. Untuk itulah ritual padusan bisa dilakukan di manapun," ujar Waslan dilansir Liputan6.com.

(mdk/shr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.