Mengenal Ngayogjazz, Acara Musik Tahunan di Jogja yang Usung Konsep Unik
Setiap tahun, ada festival unik musik jazz yang diadakan di Jogja. Festival musik itu mengusung konsep unuk karena biasanya lokasi pagelarannya berada di desa-desa. Festival musik ini terkenal dengan nama Ngayogjazz.
Setiap tahun, ada festival unik musik jazz yang diadakan di Jogja. Festival musik itu mengusung konsep unuk karena biasanya lokasi pagelarannya berada di desa-desa. Festival musik ini terkenal dengan nama Ngayogjazz.
Dilansir dari Ngayogjazz.com, setiap tahunnya festival musik itu selalu memilih tempat menyelenggaraan di pedesaan dan melibatkan masyarakat. Biasanya, masyarakat akan memanfaatkan festival ini untuk menggelar jualan dalam sebuah pasar tiban bernama Pasar Jazz.
Tak hanya soal musik jazz, berbagai komunitas di seluruh Jogja bisa ikut berpartisipasi, misalnya komunitas fotografi, komunitas otomotif, hingga komunitas film. Lalu bagaimana sejarah festival yang dulu kehadirannya begitu dinantikan oleh warga Jogja, khususnya anak muda itu?
Jazz Ala Pesta Rakyat
©YouTube/Ngayogjazz
Menurut Hattakawa Board Of Creative Ngayogjazz, festival musik ini diselenggarakan dengan pesta rakyat. Tak hanya jazz, dalam acara ini, berbagai kebudayaan setempat juga dilibatkan seperti parade busana Jawa, pergelaran wayang, dan lain lain sebagainya.
“Jazz itu latar belakang kulturalnya adalah kesetaraan, egaliterian, kemudian di situ ada interaksi-interaksi, saling peduli, kemudian improvisasi, dan ujungnya adalah harmoni,” jelas Hattakawa dikutip dari YouTube Ngayogjazz.
Gratis bagi Semua Kalangan
©YouTube/Ngayogjazz
Dalam setiap pagelaran Festival Ngayogjazz, biasanya pengunjung yang datang tidak dipungut biaya untuk bisa menyaksikan pertunjukan. Mereka cukup membawa buku sebagai pengganti tiket masuk. Konsep ini dilakukan dengan menggandeng kerja sama dengan Komunitas Jendela Jogja.
Tak hanya itu, dalam setiap pagelarannya, Ngayogjazz selalu bekerja sama dengan berbagai instansi seperti Pusat Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, Pusat Kebudayaan Prancis, IFI-LIP, Perkumpulan Pekarya Layang-Layang, komunitas fotografi, dan Festival Bambu Sleman.
“Ada juga satu program baru yang lahir dari pemikiran Djaduk Ferianto, yakni Museum Ngayogjazz. Seperti apa bentuknya, bisa dilihat sendiri saat acara,” kata Bambang Paningron, salah satu Board Of Creative Ngayogjazz, dikutip dari Liputan6.com.
Tingkatkan Perekonomian Warga Desa
©YouTube/Ngayogjazz
Biasanya, pagelaran Ngayogjazz tiap tahun selalu berpindah dari desa satu ke desa lainnya yang tersebar di seluruh Jogja. Dalam setiap pagelaran itu, perekonomian warga desa tempat diselenggarakannya Ngayogjazz secara otomatis terangkat.
Dalam acara itu, mereka bisa menjajakan berbagai makanan, minuman, atau pernak-pernik lainnya. Hal inilah yang diungkapkan Sukiman, Kepala Dusun Kwagon, di mana desanya menjadi tempat diselenggarakannya Ngayogjazz pada tahun 2016 dan 2019.
“Kami bersedia bekerja sama karena banyak hal yang kami dapatkan. Selain meningkatkan perekonomian, acara ini juga bisa memberikan hiburan dan kesenangan kepada warga yang sehari-hari jauh dari perkotaan dan keramaian,” kata Sukiman.
Tahun Terberat
©YouTube/Ngayogjazz
Selama diselenggarakan sejak tahun 2007, tahun 2019 dianggap sebagai tahun terberat pergelaran Ngayogjazz. Pada tahun itu, salah satu pencetus festival tersebut, Djaduk Ferianto, meninggal dunia tak lama sebelum acara itu berlangsung.
Setelah sepakat dengan keluarga Djaduk, Ngayogjazz 2019 tetap digelar dengan tema tambahan yaitu “Tribute to Djaduk Ferianto”.
“Kami tidak rela menghentikan Ngayogjazz. Sekalipun mesin utamanya mati, bahkan kalau harus didorong secara manual tetap kami laksanakan,” kata Bambang dikutip dari Liputan6.com.