Mengenal Gurah, Pengobatan Tradisional yang Unik ala Masyarakat Imogiri Bantul
Masyarakat di Imogiri, Bantul mempunyai metode pengobatan unik bernama “gurah”. Gurah biasa digunakan untuk orang-orang yang memiliki gangguan pada hidung atau penyakit sinusitus. Metode itu diperkenalkan pertama kali oleh Kyai Marzuki, seorang warga Desa Giriloyo, Kecamatan Imogiri, Bantul pada tahun 1900.
Selama ini, kawasan Imogiri di Kabupaten Bantul dikenal sebagai kawasan makam raja-raja. Kawasan itu berbukit-bukit dan hamparan sawah membentang di bawahnya. Pemandangan itu begitu memesona sehingga memanjakan mata bagi setiap insan manusia yang melihatnya.
Namun di samping itu, ada keistimewaan tersembunyi di balik indahnya alam dan bersejarahnya kawasan Imogiri. Masyarakat di sana mempunyai metode pengobatan unik bernama “gurah”.
Dilansir dari Ugm.ac.id, metode gurah diperkenalkan pertama kali oleh Kyai Marzuki, seorang warga Desa Giriloyo, Kecamatan Imogiri, Bantul pada tahun 1900. Hingga kini, metode pengobatan itu masih dilestarikan oleh warga Imogiri. Lantas seperti apa pengobatan itu? berikut selengkapnya:
Sejarah Gurah
©YouTube/Pondok Gurah dan Bekam
Dikutip dari Sobatjogja.com, metode pengobatan gurah pertama kali diperkenalkan oleh tokoh terkenal asal Giriloyo bernama Kyai Marzuki pada tahun 1900. Waktu itu, pengobatan gurah dimanfaatkan untuk menjernihkan suara para qori dalam membaca Alquran. Pada masanya, Kyai Marzuki merupakan seorang pengasuh pondok pesantren besar di Giriloyo yang terkenal sebagai penghasil qori berkualitas di Jogja.
Mendengar manjurnya pengobatan gurah dalam menjernihkan suara para qori, para pesinden lokal mulai berdatangan dan merasakan dampak dari pengobatan ini. Sejak itulah pengobatan gurah menjadi terkenal di kawasan Jogja.
Tata Cara Pengobatan Gurah
©YouTube/Pondok Gurah dan Bekam
Dilansir dari Ugm.ac.id, bahan yang dipakai untuk pengobatan gurah adalah akar pohon srigunggu basah yang kemudian dikeringkan. Setelah kering, akar itu kemudian digilas hingga muncul busa. Busa itu kemudian disaring dengan kain bersih hingga cairannya jernih lalu dicampur dengan air masak. Cairan campuran inilah yang kemudian diteteskan pada hidung dan memperlancar ingus agar keluar.
Menurut dr. Soepomo Soekardono, Guru Besar Ilmu Penyakit Tenggorokan, Hidung, dan Telinga (THT), metode gurah terbukti bisa mengurangi keluarnya ingus dan frekuensi bersin pada hari kedua setelah digurah. Namun pada hari kesepuluh, efeknya mulai berkurang. Walaupun bisa meredakan ingus maupun bersin, dalam kondisi tertentu metode ini bisa menimbulkan komplikasi antara lain tuber kataralis, otitis media, rinosinusitis, dan tonsilofa-ringitis.
Praktik Pengobatan Gurah Kini
©YouTube/Pondok Gurah dan Bekam
Terlepas dari manfaat dan efek sampingnya, efektivitas gurah dalam mengobati penyakit sinusitis atau gangguan pada hidung masih menjadi perdebatan panjang. Dilansir dari Alodokter.com, metode inipun masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.
Sementara itu, para murid lulusan pondok pesantren asuhan Kyai Marzuki membawa metode penyembuhan itu ke tempat asal mereka yang tersebar di seluruh Indonesia. Akhirnya gurah mulai dikenal dan dipraktikkan pada beberapa wilayah. Begitu pula hingga kini, pengobatan itu masih banyak dijumpai pada rumah-rumah warga di kawasan Imogiri, Bantul.