Mengenal Alopecia atau Gangguan Rambut Rontok secara Tiba-Tiba, Ketahui Penyebabnya
Dalam dunia medis, kondisi rambut rontok yang terjadi secara tiba-tiba ini disebut dengan alopecia areata. Pada kondisi ini, gejala rambut rontok biasanya berkembang hanya dalam beberapa hari atau beberapa minggu saja.
Rambut rontok merupakan salah satu gangguan umum yang sering terjadi. Kondisi ini terjadi ketika beberapa helai rambut rontok atau lepas dari kulit kepala. Bisa jadi, rontok dari pangkal atau akar rambut, bisa pula rontok dari batang rambut yang patah.
Kondisi rambut rontok masih dikatakan wajar ketika berada pada jumlah yang tidak terlalu banyak. Namun, jika kerontokan rambut terjadi secara tiba-tiba dan cenderung ekstrem, tentu kondisi ini tidak boleh disepelekan. Terlebih lagi, jika rambut rontok yang terjadi menyebabkan sebagian atau beberapa bagian kepala mengalami kebotakan.
Dalam dunia medis, kondisi rambut rontok yang terjadi secara tiba-tiba ini disebut dengan alopecia areata. Pada kondisi ini, gejala rambut rontok biasanya berkembang hanya dalam beberapa hari atau beberapa minggu saja. Penderita juga mungkin mengalami beberapa gejala yang mengganggu seperti rasa gatal dan sensasi terbakar di area kepala.
Konon, penyakit ini dapat terjadi pada siapa saja tanpa memanjang usia dan jenis kelamin. Dengan begitu, penting bagi Anda untuk mengenal apa itu alopecia, gejala apa saja yang mungkin muncul, hingga faktor apa yang menjadi penyebab seseorang terkena penyakit ini. Dilansir dari Medical News Today, berikut kami merangkum berbagai informasi mengenai alopecia atau gangguan rambut rontok secara tiba-tiba, perlu diketahui.
Mengenal Alopecia dan Penyebabnya.
©2019 Shutterstock
Alopecia areata adalah gangguan yang menyebabkan kerontokan rambut yang terjadi secara tiba-tiba atau tak terduga. Biasanya, orang yang mengalami gangguan ini dapat mengembangkan kerontokan rambut hanya dalam beberapa hari atau beberapa minggu saja.
Dilihat dari penyebabnya, alopecia areata merupakan salah satu gangguan autoimun, yang terjadi ketika sel darah putih menyerang sel-sel di folikel rambut. Kondisi ini lebih lanjut membuat rambut semakin menyusut dan proses pertumbuhan rambut yang semakin lambat. Terkadang, kondisi ini dapat menyebabkan kerontokan total rambut di kulit kepala (alopecia totalis).
Secara umum, gangguan ini dapat terjadi pada siapa saja. Namun, orang yang memiliki riwayat keluarga dengan kondisi ini mempunyai risiko yang lebih besar. Dikatakan, satu dari lima orang yang mengalami alopecia areata juga memiliki anggota keluarga yang pernah mengalami kondisi tersebut.
Penelitian lain menemukan bahwa banyak orang dengan riwayat keluarga alopecia areata juga memiliki riwayat gangguan autoimun lainnya, seperti atopi, kelainan yang ditandai dengan kecenderungan hiperalergi, tiroiditis, dan vitiligo.
Sementara baru sedikit penelitian yang membuktikan bahwa stres turut berkontribusi sebagai faktor penyebab gangguan alopecia areata. Di mana kasus stres ekstrem berpotensi berpotensi memicu kondisi tersebut, namun penelitian terbaru lebih menunjukkan adanya pengaruh dari faktor genetik.
Gejala Alopecia
©2014 Merdeka.com/Shutterstock/sezer66
Setelah mengetahui kondisi umum dan penyebab, berikutnya terdapat beberapa gejala alopecia yang perlu Anda ketahui. Gejala alopecia areata yang paling menonjol adalah kerontokan rambut yang terjadi di kepala. Gejala ini dapat terlihat dari kondisi kebotakan di sebagian atau beberapa bagian hingga terlihat kulit kepala.
Kerontokan rambut bisa tiba-tiba, berkembang hanya dalam beberapa hari atau selama beberapa minggu. Mungkin ada rasa gatal atau terbakar di area tersebut sebelum rambut rontok.
Bagi sebagian penderita, gejala kerontokan rambut tidak membuat folikel rambut hancur, sehingga rambut dapat tumbuh kembali ketika peradangan mereda. Bahkan, penderita yang hanya mengalami sedikit kerontokan rambut sering kali mengalami pemulihan spontan dan penuh tanpa perawatan apa pun.
Selain mempengaruhi pertumbuhan rambut di kepala, gangguan ini juga berdampak di beberapa area rambut lainnya seperti janggut dan bulu mata. Bukan hanya itu, ternyata gangguan ini juga dapat mempengaruhi pertumbuhan kuku jari tangan dan tangan. Ini termasuk gejala awal yang menandakan bahwa gangguan ini sedang berkembang.
Pengobatan
shutterstock
Setelah mengetahui gejalanya, terakhir yang tak kalah penting untuk diketahui adalah langkah pengobatan yang bisa dilakukan untuk membantu penyembuhan alopecia areata. Sejauh ini, belum ada obat khusus yang dikembangkan untuk membantu proses penyembuhan alopecia areata.
Biasanya, dokter hanya memberikan beberapa bentuk pengobatan yang dapat membantu merangsang pertumbuhan rambut lebih cepat. Bentuk pengobatan alopecia areata yang paling umum adalah penggunaan kortikosteroid, dan obat antiinflamasi kuat yang dapat menekan sistem kekebalan tubuh. Sebagian besar obat ini diberikan melalui suntikan lokal, aplikasi salep topikal, atau secara oral.
Obat lain yang dapat diresepkan yang dapat meningkatkan pertumbuhan rambut atau mempengaruhi sistem kekebalan termasuk Minoxidil, Anthralin, SADBE, dan DPCP. Meskipun beberapa di antaranya dapat membantu pertumbuhan kembali rambut, namun beberapa obat tersebut tidak dapat mencegah kebotakan baru di area kepala.
Perlu dipahami, gangguan alopecia areata ini tidak langsung membuat penderita sakit, tidak juga menular. Namun, kondisi ini sering kali membuat penderita sulit beradaptasi secara emosional.
Bagi banyak orang, alopecia areata adalah penyakit traumatis yang memerlukan perawatan untuk mengatasi aspek emosional yang sedang dialami. Kelompok pendukung dan konseling pun disarankan bagi penderita untuk membantu mengatasi tekanan emosional selama mengalami gangguan ini.
(mdk/ayi)