Mencicipi Kepelan, Camilan Gurih Khas Klaten yang Cocok untuk Hidangan Buka Puasa
Kepelan merupakan makanan ringan yang terbuat dari bahan yang sederhana yaitu tepung terigu dan campuran bumbu-bumbu seperti bawang merah, bawang putih, merica, garam, air, dan sedikit penyedap rasa. Makanan ini mudah ditemui pada sore hari di sepanjang jalan utama Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten.
Ada banyak menu yang bisa dicoba saat waktu berbuka puasa tiba. Pada umumnya, kebanyakan orang berbuka puasa dengan makanan ringan seperti gorengan, buah-buahan, kue, camilan, dan sejenisnya. Berbicara soal makanan ringan, Klaten punya kuliner unik yang bisa dicicipi dengan harga murah meriah. Nama kuliner itu adalah Kepelan.
Dilansir dari Klatenkab.go.id, Kepelan merupakan makanan ringan yang berasal dari Desa Keden, Kecamatan Pedan, Klaten. Makanan ini terbuat dari bahan yang sederhana yaitu tepung terigu dan campuran bumbu-bumbu seperti bawang merah, bawang putih, merica, garam, air, dan sedikit penyedap rasa.
Makanan ini mudah ditemui pada sore hari di sepanjang jalan utama Kecamatan Pedan.
Sejarah Munculnya Kepelan
©Klatenkab.go.id
Dilansir dari akun YouTube Radar Solo, kuliner Kepelan sudah berkembang sejak tahun 1970-an. Dulunya Kepelan bisa populer karena makanan itu menjadi hidangan wajib yang harus ada saat acara pertemuan warga di Pedan.
Seiring berjalannya waktu, para pembuat Kepelan di tahun tersebut masih melestarikan makanan itu hingga kini. Oleh para warga Pedan, Kepelan dijajakan pada sore hari di sepanjang jalanan utama yang membentang di Kecamatan Pedan.
Tidak Seramai Dulu
©Klatenkab.go.id
Mbah Suwarni, salah satu penjual Kepelan, mengaku sudah berjualan makanan itu sejak tahun 1990-an. Waktu itu dia menjual Kepelan di pasar. Tapi kemudian dia memindah usahanya di rumah sendiri karena di sana jajanan itu tetap diminati orang.
Dilansir dari akun YouTube Rada Solo, Mbah Suwarni mengatakan bahwa setiap harinya, ia membuat makanan itu mulai pukul 7 pagi. Setiap harinya ia menjual Kepelan dari pukul 9 pagi samapi pukul 11 malam.
Menurut Mbah Suwarni, permintaan Kepelan untuk saat ini tidaklah seramai dulu. Bila dulu dia bisa menghabiskan 10 sak tepung terigu untuk membuat makanan itu, kini dia paling banyak menghabiskan tepung sebanyak setengah kuintal.
Proses Menggoreng Kepelan
©Inibaru.id
Keunikan lain dari kuliner Kepelan ini adalah setiap penjual memiliki cara memasak yang berbeda. Salah satu penjaja Kepelan, Mbok Parti, menjelaskan banyak orang yang ketagihan dengan kepelan buatannya karena terkenal renyah dan gurih.
Untuk membuat kepelan yang diminati banyak orang itu, Mbok Parti menggunakan teknik menggoreng yang berbeda. Dilansir dari Milesia.id, awalnya dia menggoreng adonan Kepelan yang basah dengan setengah matang saja. Kemudian Kepelan itu ditiriskan dan dibiarkan sampai dingin sebelum akhirnya digoreng hingga matang.
Dikembangkan Jadi Desa Wisata Kuliner
©Kulinerasik.com
Menjamurnya para penjaja Kepelan di Kecamatan Pedan membuat salah satu desa di Kecamatan Pedan mendapat julukan sebagai Desa Kepelan. Pemerintah Desa Keden, Pedan, bahkan berencana menjadikan Kepelan sebagai ikon kuliner di Keden.
Nantinya usaha Kepelan akan mendapat bantuan dari dana Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) sehingga Desa Keden akan dijadikan sebagai salah satu daerah wisata kuliner bagi para wisatawan.