LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JATENG

Manfaatkan Kearifan Lokal, Ini Cara Komunitas Alam Merapi Lakukan Mitigasi Bencana

Salah satu perkumpulan pecinta alam di Jogja, Forum Merapi Merbabu Hijau (FMMH), berupaya mitigasi bencana dengan memanfaatkan kearifan lokal. Oleh karena itu, mereka menggencarkan penghijauan khususnya di kawasan lereng Gunung Merapi.

2022-05-13 14:49:00
Jateng
Advertisement

Gunung Merapi adalah salah satu gunung berapi teraktif di Indonesia. Dalam periode tertentu, gunung itu kerap kali meletus. Oleh karena itu, diperlukan mitigasi yang baik bagi warga yang tinggal di kawasan rawan bencana agar tidak menjadi korban.

Salah satu perkumpulan pecinta alam di Jogja, Forum Merapi Merbabu Hijau (FMMH), berupaya mitigasi bencana dengan memanfaatkan kearifan lokal. Mereka menggencarkan penghijauan khususnya di kawasan lereng Gunung Merapi.

“Kami berupaya mengembalikan ekosistem alam di Merapi sehingga kearifan lokal yang ada kembali berfungsi memperkuat mitigasi bencana warga,” kata Pegiat Forum Merapi Merbabu Hijau (FMMH) Lilik Rudiyanto dikutip dari ANTARA pada Kamis (12/5).

Advertisement

Mengamati Tanda-Tanda Alam

©Twitter/@BPPTKG

Advertisement

Menurut pria yang biasa dipanggil Rudi itu, masyarakat lereng Merapi memiliki kemampuan mitigasi bencana yang diwariskan secara turun temurun yaitu dengan mengenali tanda-tanda alam.

Namun, tanda-tanda alam itu akan lebih mudah diamati kalau ekosistem di lereng Merapi terjaga. Menurutnya, sistem seperti inilah yang sebenarnya lebih dipahami oleh masyarakat lokal untuk meningkatkan kewaspadaan.

“Masyarakat awam kalau kita beri penjelasan yang terlalu ilmiah mereka kurang paham,” kata Rudi dikutip dari ANTARA.

Rudi mengatakan, salah satu tanda-tanda alam yang diyakini menjadi peringatan dini Erupsi Merapi adalah kemunculan satwa-satwa liar yang turun dari puncak gunung. Jika hewan-hewan seperti monyet atau rusa sudah masuk pemukiman warga, masyarakat meningkatkan kewaspadaan karena aktivitas Merapi dipastikan sedang di atas normal.

Ekosistem Alam Rusak

©Agung Supriyanto/AFP

Namun untuk saat ini, kemunculan fenomena alam seperti itu tidak bisa dijadikan patokan. Sebab satwa yang turun dari puncak bukan lagi membawa pesan tentang aktivitas Merapi, melainkan mencari makan seiring dengan rusaknya ekosistem alam habitat mereka.

Pasca erupsi Merapi tahun 2010, FMMH terus menjaga keseimbangan alam di kawasan Merapi dengan menggencarkan penanaman ribuan tanaman secara berkala dengan menggandeng pihak Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM).

Tak hanya itu, FMMH juga melakukan pembibitan bekerja sama dengan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) dan Hutan Lindung Serayu Opak Progo. Tanaman yang dikembangkan antara lain pohon gayam, pohon pule, tengsek, hingga puspo.

“Setiap penghijauan kami selalu melibatkan warga serta tokoh-tokoh agama di Merapi,” kata Rudy.

Merapi Masih Bergejolak

©Agung Supriyanto/AFP

Berstatus siaga sejak November 2020, hingga kini Gunung Merapi masih sering bergejolak. Luncuran lava pijar hingga awan panas masih sering terjadi. Terakhir, guguran awan panas terjadi pada Selasa (10/5).

Saat itu, Gunung Merapi meluncurkan awan panas sejauh 1.800 meter dari puncak. Awan panas itu meluncur ke arah hulu Sungai Bebeng yang berada di sebelah barat daya.

Pada hari yang sama, BPPTKG mencatat guguran lava sebanyak empat kali dalam rentang waktu antara pukul 12.00-18.00 WIB. Hingga kini, BPPTKG masih mempertahankan status Merapi di Level III (Siaga).

(mdk/shr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.