Makanan Tolak Bencana Gempa, Ini 4 Fakta Menarik Nasi Liwet Solo
Nasi Liwet merupakan kuliner populer di kalangan warga Solo Raya dan sekitarnya. Namun, keberadaan makanan ini tak bisa lepas dari sejarahnya yang panjang. Bahkan dulunya, makanan ini digunakan untuk ritual slametan tolak bala terhindar dari bencana gempa bumi.
Nasi Liwet merupakan kuliner asli daerah Desa Duwet, Kecamatan Baki, Sukoharjo. Walau begitu, kuliner ini lebih terkenal di kalangan warga Kota Solo karena banyaknya warga di sana yang menyantap nasi liwet sebagai menu sarapan, makan siang, bahkan makan malam.
Dilansir dari Surakarta.go.id, nasi liwet adalah kuliner nasi gurih mirip nasi uduk yang disajikan dengan sayur labu siam, suwiran ayam, dan areh (semacam bubur gurih dari kelapa). Biasanya, makanan ini dijajakan keliling dengan bakul bambu oleh ibu-ibu pada pagi hari atau bisa juga dijual pada warung lesehan.
Seiring berjalannya waktu, makin banyak warga Solo dan sekitarnya yang berjualan makanan ini. Namun, keberadaan makanan ini tak bisa lepas dari sejarahnya yang panjang. Bahkan dulunya, makanan ini digunakan untuk ritual slametan tolak bala terhindar dari bencana gempa bumi. Berikut selengkapnya:
Makanan Tolak Bencana Gempa
©2020 liputan6.com
Serat Centhini (1814-1823) menyebutkan Pulau Jawa baru saja dilanda gempa bumi. Oleh karena itu, para warganya mengadakan slametan untuk terhindar dari gempa susulan. Nasi liwet adalah salah satu makanan yang disajikan dalam acara slametan itu. Kata “liwet” dihadirkan sebagai wujud do’a keselamatan seperti mantra penolak bala.
Selain itu, nasi liwet juga digunakan sebagai menu para pengrawit Kraton Surakarta pada zaman Paku Buwana IX (1861-1893). Saat itu, dia menyediakan nasi liwet kepada para pengrawit Kraton yang hendak pulang agar istri mereka di rumah tidak perlu repot menyiapkan makanan.
Sentra Nasi Liwet
©Wikipedia.org
Walaupun banyak orang yang mengenal nasi liwet sebagai kuliner khas Kota Solo, sebenarnya makanan itu berasal dari Desa Duwet, Kecamatan Baki, Sukoharjo. Di desa itu, hampir semua warganya berjualan nasi liwet sehingga tempat itu menjadi sentra olahan kuliner tersebut.
Dari desa itu, nasi liwet biasanya dijajakan ibu-ibu dengan berkeliling desa menggunakan sepeda onthel dengan membawa keranjang yang dipasang di bagian kanan dan kiri sepeda. Biasanya, harga seporsi nasi liwet berkisar antara Rp 3.000-Rp 10.000.
Makanan Sejuta Umat
©Surakarta.go.id
Seperti halnya Batik Laweyan dan Kauman, keberadaan kuliner tradisional nasi liwet mampu bertahan di tengah makin banyaknya inovasi kuliner modern. Dilansir dari Etnis.id, keberadaan nasi liwet sanggup menerobos batas dan sekat-sekat sosial seperti antara si kaya dengan miskin, pribumi dan non-pribumi, karyawan kontrak dengan tukang becak, dan masih banyak lagi.
Di warung tempat penjualan nasi liwet, mereka duduk lesehan bersama menyantap nasi tanpa beralaskan piring. Makanan ini juga menunjukkan wujud dari kedekatan masyarakat Jawa dengan nasi sebagai makanan pokok warga negara Indonesia.
Nasi Liwet Favorit Ganjar Pranowo
©2020 liputan6.com
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo ternyata merupakan penggemar nasi liwet. Baginya, nasi liwet paling enak ada pada Nasi Liwet Mbak Wanti yang berada di Kartasura. Menurut Ganjar, suwiran ayam pada nasi liwet itu lumayan banyak dan cabainya besar-besar. Selain itu, tersedia juga lauk lain yang bisa dicicipi sebagai pelengkap nasi liwet.
“Bisa nambah lauk lainnya juga. Ada telur, krecek, pokoknya macem-macem. Kalau suka pedas, ada cabenya yang besar-besar. Jangan lupa dilengkapi sama kerupuk,” tulis Ganjar dalam akun Instagram-nya.