LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JATENG

Konselor Prancis Luncurkan Buku di Yogyakarta, Buka Peluang Kerja Sama

Diskusi buku "Sejarah Panjang Kerja Sama Indonesia-Prancis" berlangsung seru. Tak hanya berbicara soal bukunya, pada momen itu konselor Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia, Dr. Stephane Dovert, juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai komunitas di Yogyakarta.

2022-03-01 10:41:00
Review Buku Populer
Advertisement

Jumat (25/2), suasana langit yang menaungi Ndalem Natan Royal Heritage yang berada di Kawasan Wisata Kotagede, Yogyakarta, tampak mendung. Namun, suasana itu tak menyurutkan semangat masyarakat untuk hadir di bangunan tua yang dibangun oleh orang-orang Kalang itu.

Hari itu Ndalem Natan kedatangan tamu penting. Dia adalah Dr. Stephane Dovert, seorang konselor dari Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia. Ia datang ke Kota Yogyakarta untuk menjadi pembicara dalam diskusi sekaligus peluncuran bukunya yang berjudul “Sejarah Panjang Kerja Sama Indonesia-Prancis”. Dalam menerbitkan buku itu, Stephane menjalin kerja sama dengan Penerbit Afterhours Books yang berbasis di Jakarta.

“Saya meluncurkan buku ini karena saya pernah dengar ada orang ngomong tidak ada hubungan antara Prancis dan Indonesia. Dengan buku ini saya ingin bercerita kalau Prancis dan Indonesia punya hubungan panjang yang sudah dijalin sejak 1950. Saya sengaja cari penerbit yang istimewa demi buku ini,” kata Stephane dalam sambutannya.

Advertisement

Pilih Jogja Jadi Kota Perilisan

©Merdeka.com/Shani Rasyid

Advertisement

Nasir Tamara, penyelenggara acara yang juga pengelola Ndalem Natan mengatakan, Stephane sengaja memilih Yogyakarta sebagai tempat peluncuran buku. Dia menilai Yogyakarta merupakan kota pendidikan, kota dengan banyak komunitas, dan kota tempat lahirnya banyak pemikir yang berperan penting dalam kemajuan bangsa.

“Dia memilih tempat ini sebagai tempat diskusi menunjukkan dia hormat pada orang Indonesia. Dia mengajak ngobrol, mendengar aspirasi dari orang-orang Jogja, dan memilih menggunakan bahasa Indonesia agar lebih komunikatif,” kata Nasir pada Jumat (25/2).

Nasir Tamara juga menjadi pembicara dalam acara tersebut. Ia mengatakan, acara diskusi ini penting diselenggarakan untuk melihat kembali kerja sama yang pernah dibangun antara Indonesia dan Prancis serta potensi kerja sama apa yang bisa dibangun di masa depan. Ia menambahkan berbagai kerja sama yang telah dilakukan antara lain pembangunan Waduk Jatiluhur, Bandara Soekarno-Hatta, pembangunan pelabuhan, pesawat terbang, riset-riset tentang lingkungan, ekonomi, dan masih banyak lagi.

©Merdeka.com/Shani Rasyid

Belum lagi kerja sama di bidang pendidikan seperti pemberian beasiswa pada mahasiswa Indonesia untuk berkuliah di Prancis maupun sebaliknya. Oleh karena itu menurutnya membangun kerja sama dengan Prancis merupakan pertimbangan strategis yang dapat dilakukan pemerintah.

“Prancis merupakan negara dengan ekonomi terbesar ke-2 di Uni Eropa. Kita butuh teknologi, investasi, dan juga pasar bagi produk-produk kita. Selain itu Prancis juga negara dengan tujuan wisata nomor 1 bagi turis mancanegara di Eropa. Kita bisa menjalin kerja sama, misalnya dengan konsep ‘sister city’,” jelasnya lagi.

Berharap Ada Kerja Sama

Selain berbicara soal buku, seminar itu juga menjadi wadah bagi para pegiat komunitas di Yogyakarta untuk berdiskusi dengan Stephane mengenai peluang kerja sama yang bisa dibangun. Triwijatmiko, pegiat dari komunitas warga Kota Gede, sempat berdiskusi dengan Stephane terkait kerja sama dalam bidang pariwisata rakyat.

Pria yang akrab dipanggil Miko itu ingin ada sebuah kerja sama ekonomi antar Indonesia dengan Prancis yang membuat kerajinan perak di Kota Gede bisa bangkit dan kembali berjaya.

“Kerja sama dengan Prancis bisa melahirkan banyak potensi, apalagi negara itu selama ini merupakan pusat fashion dunia. Kita punya produk perak yang bisa mendukung dunia fashion. Dulu kerajinan perak kita pernah dipamerkan dan dibawa ke Paris tahun 2011. Harapannya kerja sama seperti itu bisa terjalin lagi,” kata Miko.

©Merdeka.com/Shani Rasyid

Lain halnya dengan Arahmaiani, seorang pegiat budaya dan lingkungan yang juga tinggal di Yogyakarta. Mengenai diskusinya dengan Stephane, ia berharap ada sebuah kerja sama yang berfokus pada penyelesaian masalah lingkungan hidup.

Perempuan yang telah berpengalaman dalam menghubungkan relasi antar komunitas baik di dalam dan luar negeri ini ingin ada relasi yang terbangun antara komunitas anak muda di Indonesia dan anak-anak muda Prancis guna saling bekerja sama menyelesaikan masalah lingkungan hidup.

“Masalah lingkungan hidup merupakan sesuatu yang mendesak. Apalagi sekarang ada banjir, logsor, kebakaran, dan lain sebagainya. Peluang kerja sama ini sangat bagus. apalagi Prancis mengalami perubahan iklim dan berusaha mengatasi dampak dari perubahan iklim itu. Kita bisa belajar dari sana,” kata Arahmaiani.

Tak hanya soal lingkungan, Arahmaiani juga berharap ada kerja sama dalam bidang budaya, terutama soal pengembalian arsip-arsip maupun artefak-artefak budaya dari Indonesia yang masih disimpan di luar negeri.

“Budaya kita punya sejarah yang panjang. UNESCO (organisasi PBB terkait pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya) itu pusatnya di Prancis. Lembaga itu punya tugas melindungi warisan budaya masa lalu. Jadi Prancis punya peran kuat dalam hal-hal terkait budaya ini,” ujarnya.

Moelyono, pelukis asal Yogyakarta yang juga hadir dalam pertemuan itu, menilai bahwa menjalin hubungan dengan negara lain memang dirasa perlu. Dia mengatakan, dalam dunia seni rupa, seorang seniman akan sangat diakui kalau sudah terkenal sampai ke luar negeri.

“Waktu tahun 2019 dulu ada program dari Kemendikbud bernama ‘Indonesiana’. Lewat program itu saya ikut ke Brazil dan bergaul dengan para seniman dan kurator di sana. Kalau soal hubungan dengan Prancis memang perlu, apalagi negara itu menjadi pusat seni rupa dunia. Harapannya karya-karya seniman kita bisa dipamerkan dan dikenal luas di sana,” terang Moelyono.

©Merdeka.com/Shani Rasyid

Sementara itu para penulis Indonesia yang hadir menghendaki agar ada kerjasama di bidang penulisan dan penerjemahan karya-karya penulis ke dua negara.
Para penulis Yogyakarta juga memberikan buku-buku mereka kepada Stephan Dovert. Acara ini juga disemarakkan dengan pembacaan puisi oleh Dhenok




(mdk/shr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.