Kisah Warga Blora Tinggal di Dekat Pabrik Briket, Kerap Hirup Debu hingga Sesak Nafas
Zumrotun (35), Warga Desa Tempel Lemahbang, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora merasa sedih ketika anaknya yang masih balita harus menderita tiap hari karena sesak nafas. Tak hanya itu, baju anaknya juga cepat kotor karena terkena debu yang berasal dari cerobong arang pabrik briket di dekat rumahnya.
Tinggal di dekat pabrik terkadang memang tidak enak. Terlepas dari sisi baiknya yang memberi lapangan pekerjaan bagi warga sekitar, ada saja dampak negatif yang diberikan. Salah satunya asap pabrik yang membuat polusi udara. Kualitas udara yang buruk itu berdampak buruk pula bagi kesehatan warga yang tinggal di sekitar pabrik.
Inilah yang dirasakan Zumrotun (35), Warga Desa Tempel Lemahbang, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora. Dia merasa sedih ketika anaknya yang masih balita itu tiap hari harus menderita karena sesak nafas.
Tak hanya itu, baju anaknya juga cepat kotor karena terkena debu yang berasal dari cerobong arang pabrik briket yang berada di dekat rumahnya. Dia khawatir, bila kondisi itu terus berlanjut, kesehatan anaknya yang baru berusia 2 tahun 5 bulan itu bakal terganggu.
“Saya ya terganggu. Pernapasan jadi sesak semua. Terutama anak saya yang kecil ini, upil menghitam, pernafasan jadi sesak,” kata Zumrotun dikutip dari Liputan6.com pada Rabu (29/7).
Lubang Hidung Penuh Kotoran Hitam
©2020 liputan6.com
Zumrotun bercerita, tiap kali bangun tidur, lubang hidung anaknya penuh dengan kotoran hitam. Dia meyakini kotoran itu berasal dari debu pabrik itu.
Mulanya, Zumrotun mengira debu yang muncul di rumahnya itu adalah debu biasa seperti debu yang muncul di musim kemarau. Namun setelah diamati debu semakin menebal.
“Parahnya jika produksi debu masuk rumah hingga tebal. Awalnya saya kira itu debu saat musim kemarau,” kata Zumrotun.
Diminta Meninggikan Cerobong
©2020 liputan6.com
Hal yang sama juga diungkapkan warga lainnya, Hery Firmansyah (39). Karena terganggu dengan keberadaan pabrik briket itu, dia sudah pernah menyarankan kepada salah satu karyawan pabrik itu untuk meninggikan cerobong. Tetapi saran itu tidak pernah terealisasi.
“Sudah saya kasih tahu karyawannya agar disampaikan ke pemilik pabrik briket. Tapi belum ada respon penanganan,” ungkap Hery.
Pihak Pabrik Belum Pernah Melapor
Sementara itu, Kepala Desa Tempel Lemahbang, Kasbi, mengaku belum mengetahui pencemaran lingkungan yang terjadi di wilayahnya.
Kasbi mengatakan selama dirinya menjabat sebagai kepala desa, pihak pabrik belum memberi laporan kepadanya. Juga, pihak pabrik belum mengadakan sosialisasi kepada masyarakat sekitar.
“Kalau di zaman saya belum pernah, tapi kalau ke kepala desa yang dulu saya belum tahu,” terang Kasbi dikutip dari Liputan6.com.
Pihak Pabrik Telah Siapkan Solusi
©2020 liputan6.com
Sebagai informasi, debu yang berasal dari arang batok kelapa itu berterbangan di sekitar pabrik. Lokasi pabrik yang berada di Desa Lemahbang itu digunakan sebagai tempat proses mengayak dan menggiling briket. Sedangkan proses mencetaknya berada di Desa Kalitengah, Kecamatan Jiken.
Teguh, Kepala Sumber Daya Manusia (SDM) Pabrik Briket di sana mengatakan pihaknya telah menyiapkan solusi penanganan lebih lanjut, dengan melakukan sosialisasi.
“Solusinya kita sudah berupaya beli blower penyedot sama terpal untuk tutup,” ungkap Teguh.
Berupaya Tidak Merugikan Orang Lain
Teguh mengungkapkan, walaupun belum melakukan sosialisasi kepada warga sekitar, namun beberapa warga Desa Tempel Lemahbang ada yang bekerja di pabrik itu. Atas masalah yang menimpa warga itu, Teguh mengatakan pihak pabrik akan terus melakukan berbagai upaya agar tidak merugikan orang lain yang tinggal di sekitar pabrik.
“Secara hukum dan secara apapun kita nggak boleh merugikan orang lain. pabrik ya mendayagunakan masyarakat sekitar,” kata Teguh dikutip dari Liputan6.com pada Rabu (29/7).