Kisah Raden Ayu Tan Peng Nio, Pendekar Perempuan yang Dijuluki 'Mulan van Java'
Di daerah Kebumen, Jawa Tengah, ada sebuah makam tua yang berada di tengah sawah. Makam itu adalah milik seorang perempuan keturunan Tionghoa bernama Tan Peng Nio. Ikut serta dalam perang melawan Belanda, banyak orang yang menjulukinya 'Mulan van Java'.
Di daerah Kebumen, Jawa Tengah, ada sebuah makam tua yang berada di tengah sawah. Uniknya, di sana ada sebuah gapura bergaya arsitektur Tionghoa.
Dari keterangan sebuah nisan, makam tua itu adalah milik R.A K.R.A.T Kalapaking III, atau bisa disebut Raden Ayu Tan Peng Nio.
Dikutip dari Wikipedia.or.id, Raden Ayu Tan Peng Nio merupakan seorang pejuang Indonesia keturunan Tionghoa. Ia ikut berperang dalam perang Geger Pecinan melawan Tentara Belanda.
Atas keberaniannya, banyak yang menjuluki perempuan itu dengan sebutan “Mulan van Java”.
Lalu seperti apa kisah hidup Tan Peng Nio? Berikut selengkapnya:
Pelarian ke Kebumen
©Tionghoa.info
Tan Peng Nio merupakan anak dari Jenderal Tan Wan Swee. Sebelumnya, Tan Wan Swee berselisih pendapat dan melakukan pemberontakan yang gagal terhadap Kaisar Qian Long (1711-1799) dari Dinasti Qing. Ia kemudian menitipkan Tan Peng Nio kepada sahabatnya, Lia Beeng Goe, seorang ahli pembuat peti mati dan ahli bela diri. Setelah pemberontakan itu gagal, Tan Peng Nio menjalani pelarian bersama Lia Beeng Goe ke Singapura, lalu berpindah ke Sunda Kelapa (sekarang Jakarta).
Pada tahun 1970, terjadi sebuah huru-hara yang terkenal dengan nama Geger Pecinan. Saat itu, terjadi pembantaian terhadap etnis Tionghoa oleh tentara VOC. Saat pembantaian itu terjadi, Lia Beeng Goe dan Tan Peng Nio mengungsi ke arah timur hingga tiba di Kutowinangun, Kebumen. Di sana mereka bertemu Kiai Honggoyudho yang mahir membuat senjata.
Ikut Perang Kuning
©Tionghoa.info
Ketika terjadi peperangan dan penyerbuan selama 16 tahun (1741-1757) atau Perang Kuning oleh Pangeran Garendri, Tan Peng Nio dikabarkan ikut bergabung ke dalam 200 tentara bentukan KRAT Kolopaking II yang dikirim untuk ikut membantu pasukan Garendri. Saat itu, Tan Peng Nio dikabarkan menyamar menjadi prajurit laki-laki.
Peperangan itu kemudian berakhir dengan terjadinya Perjanjian Giyanti. Setelah perang berakhir, ia menikah dengan KRT Kolopaking III dan menetap di Kutowinangun, Kebumen. Dari pernikahannya, mereka dikaruniai dua orang anak yaitu KRT Endang Kertawangsa dan RA Mulat Ningrum.
Tan Peng Nio menetap di Kebumen hingga akhir hayatnya. Saat meninggal, ia dikebumikan di Desa Jatimulyo, Kecamatan Alian, Kebumen. Makamnya dibangun dengna gaya Tionghoa. Hingga kini makamnya cukup sering didatangi peziarah.
Kondisi Makam Tan Peng Nio
©aroengbinang.com
Dikutip dari aroengbinang.com, makam Tan Peng Nio terlihat cukup unik. Selain letaknya yang berada di tengah sawah, makam itu disangga oleh empat pilar dan atap lengkung berbentuk pelana khas Tionghoa.
Namun makam itu terlihat tidak terawat. Di sekitar makam banyak ditumbuhi alang-alang yang tinggi. Selain itu di bagian belakang pohon tumbuh sejumlah pohon seperti pohon pisang dan beberapa pohon perdu.
Sebuah cungkup kecil berdiri di samping makam. Di dalam cungkup itu ada semacam altar bertuliskan “Fu Shen” yang diukir di dinding. Fu Shen adalah dewa kekayaan, harta, atau rezeki dalam mitologi Tionghoa.