Kisah Para Veteran Belanda Kembali ke Indonesia Setelah Perang, Sampaikan Penyesalan
Pada tahun 1949, perang revolusi antara Indonesia dengan Belanda berakhir. Sekian lama berlalu, para veteran perang Belanda bicara soal apa yang pernah mereka lakukan di Indonesia. Beberapa dari mereka memberanikan diri untuk kembali mengunjungi Indonesia untuk membuka kembali memori masa lalu.
Pada tahun 1949, perang antara Indonesia dengan Belanda berakhir. Kembalinya para tentara Belanda ke negeri asalnya setelah perang menyisakan luka dan trauma bagi penduduk Indonesia. Apalagi banyak pejuang yang gugur saat perang itu.
Sekian lama berlalu, para veteran perang Belanda bicara soal apa yang pernah mereka lakukan di Indonesia pada masa lampau. Sebagian mengakui kejahatan yang telah mereka lakukan pada penduduk, namun sebagian lagi tidak mengakuinya dengan berbagai alasan.
Selain itu, beberapa dari mereka memberanikan diri untuk kembali mengunjungi Indonesia. Tak hanya mengenang teman-teman mereka yang gugur dalam perang itu, para veteran juga meminta maaf dan mengungkapkan rasa penyesalan pada warga, khususnya bagi yang kerabatnya ikut tewas di medan perang itu.
Lalu seperti apa perjalanan para veteran mengunjungi kembali Indonesia dan bertemu para warga yang dulu menjadi musuh mereka saat perang? Berikut selengkapnya, dikutip dari kanal YouTube Album Sejarah Indonesia:
Perasaan Tidak Menentu
©YouTube/Album Sejarah Indonesia
Perasaan Joop Hueting terasa tidak karuan saat berada di dalam kereta api yang membawanya ke tempat saat ia ditugaskan saat perang revolusi. Dari Surabaya, ia melakukan perjalanan dengan kereta api menuju Jember. Saat dulu berada di Jember, ia merupakan salah seorang prajurit yang menjadi bagian dalam misi “aksi pembalasan” para serdadu Belanda.
Hueting mengatakan, saat misi itu, ia dan rekan-rekannya mengepung sebuah kampung dan mengejar para pemuda yang melarikan diri. Namun saat itu, dua rekan Hueting tewas. Saat itu sopir kendaraan yang ditumpangi para serdadu Belanda, seorang pemuda dari Brabant, turun dari truknya dan mengambil sebuah senjata Owen Gun milik tentara Belanda.
Sejenak ia melihat sekeliling dan melihat pula ke arah Hueting dan rekan-rekannya. Namun sesaat kemudian pemuda itu melepas kunci pengaman dan menembak ke arah dua rekan Hueting hingga tewas.
Veteran Belanda Bertemu Veteran Indonesia
©YouTube/Album Sejarah Indonesia
Hari Suroso, seorang veteran Indonesia, bercerita pada Henrie Pezy, seorang veteran asal Belanda dengan menggunakan bahasa Belanda. Hari berkata, saat perang revolusi dulu, ia dan teman-temannya sudah tiarap sejak pukul 6 pagi untuk menunggu konvoi tentara Belanda yang dikabarkan akan melakukan perjalanan dari Purwokerto menuju Ajibarang. Konvoi itu akhirnya tiba di tempat Hari pada pukul 3 sore.
Saat konvoi itu lewat, Hari dan teman-temannya membiarkan beberapa kendaraan lewat terlebih dahulu. Lalu mereka menembak tiga kendaraan terakhir dalam konvoi itu. Saat mereka menembak ke arah tentara Belanda, Hari dan kawan-kawan mendengar suara teriakan “Ibu! Ayah!” dari para tentara Belanda itu. Teriakan itu terdengar cukup mengerikan. Mendengar cerita Hari, Henrie menjelaskan bahwa para tentara Belanda itu hanyalah para pemuda yang dikirim ke Indonesia untuk menjalankan tugas wajib militer.
“Kami harus melakukannya, dan memang semestinya. Itulah perang. Kami tidak bisa menahannya. Tapi juga tidak menyenangkan bagi kami,” kata Hari menjawab tanggapan Henrie, mengutip dari kanal YouTube Album Sejarah Indonesia.
Sampaikan Rasa Penyesalan
©YouTube/Album Sejarah Indonesia
Dalam film dokumenter Belanda berjudul “Tabee Tuan” yang diproduksi tahun 1996, seorang veteran Belanda bernama Wim Scott menemui keluarga yang salah seorang anggotanya menjadi korban perang revolusi. Saat itu Wim bertemu dengan Karsomo.
Dalam kesempatan itu, Karsomo bercerita pada Wim kalau sepupunya dibacok tiga kali dengan parang oleh seorang serdadu Belanda. Dalam keadaan sekarat, dia ditembak dengan pistol hingga akhirnya tewas. Bagi Karsomo, pembunuhan kejam yang dilakukan seorang Belanda terhadap sepupunya itu terasa sangat menyakitkan.
Serdadu Belanda yang membunuh sepupu Karsomo tak lain adalah Wim sendiri. Setelah mendengar cerita itu, Wim memohon maaf pada Karsomo atas apa yang pernah ia lakukan.
“Maaf? Baiklah saya maafkan,” ujar Karsomo lirih.