LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JATENG

Kisah Mbah Saliyem yang Hidup Miskin di Tengah Kebun, Korban Bantuan Salah Sasaran

Di Indonesia, program bantuan yang salah sasaran dari pemerintah ibarat sebuah lagu lama yang terus berulang. Akibatnya, warga yang sangat membutuhkan tidak memperoleh bantuan. Bantuan itu pula yang akhirnya tidak diperoleh Mbah Saliyem, seorang nenek yang tinggal pada sebuah gubuk di tengah kebun.

2020-05-07 18:18:00
Jateng
Advertisement

Di Indonesia, program bantuan yang salah sasaran dari pemerintah ibarat sebuah lagu lama yang terus berulang. Masalah itu selalu saja terjadi dan tak kunjung diperoleh solusinya.

Akibatnya, warga yang sangat membutuhkan tidak memperoleh bantuan, justru mereka yang secara ekonomi lebih mampu yang memperolehnya.

Inilah yang menimpa seorang nenek berusia 86 tahun bernama Mbah Saliyem. Nenek yang tinggal di pelosok Demak, Jawa Tengah itu tinggal di gubuk pinjaman tetangga yang berada di tengah kebun.

Advertisement

Pada saat Liputan6.com mengunjungi rumahnya, Mbah Saliyem sedang hendak pergi memperbaiki lampu teplok ke rumah tetangga.

Tinggal di Gubuk Seluas 3x4 meter

Advertisement

©2019 Merdeka.com/Bram Salam

Dilansir dari Liputan6.com pada Kamis (7/5), Mbah Saliyem telah menghuni gubuk pinjaman tetangga itu selama bertahun-tahun. Letak gubuk itu berada di tengah kebun dan hanya memiliki luas 3x4 meter.

Kondisi gubuknya pun memprihatinkan. Lantainya beralaskan tanah yang cenderung becek. Sinar matahari sinar menembus masuk ke dalam rumah melalui lubang atap yang bolong.

Untuk memberikan sekat antara tiap bagian rumah, Mbah Saliyem hanya memanfaatkan kain bekas yang sudah sobek dan compang-camping. Kain sobek itu membatasi kamarnya dengan bagian dapur di gubuknya itu.

Masih Kuat Menjalani Puasa

©2020 liputan6.com

Gubuk yang dihuni Mbah Saliyem jauh dari kriteria sehat. Di sana tak ada kamar mandi ataupun toilet untuk membersihkan diri. Kalau buang air besar, Mbah Saliyem melakukannya di bawah pohon bambu.

Walau sudah berusia rentan, Mbah Saliyem masih kuat dalam menjalankan ibadah puasa. Kalau sedang sakit atau membutuhkan beras, Mbah Saliyem tak jadi cengeng. Dia langsung pergi ke perangkat desa untuk meminta bantuan secara pribadi.

“Pak lurah dan aparat desa baik kok,” ujar Mbah Saliyem dilansir Liputan6.com pada Kamis (7/5).

Korban Bantuan Salah Sasaran

©2020 liputan6.com

Kepala Desa Kunir Kecamatan Dempet, Demak, M Romli mengaku prihatin atas kondisi yang dialami Mbah Saliyem. Ia menyayangkan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) di desanya tak tepat sasaran.

Banyak keluarga yang dinilai mampu malah menerima bantuan, sementara para lansia seperti Mbah Saliyem tidak mendapatkan fasilitas apa-apa. Namun pihaknya tetap mengajukan bantuan untuk Mbah Saliyem.

“Mbah Saliyem sudah diajukan usulan untuk Rumah Tangga Tak Layak Huni (RTLH). Mudah-mudahan segera dapat,” ujar Romli dilansir dari Liputan6.com pada Kamis (7/5).

Berharap Ada Peninjauan Ulang

©2020 Liputan6.com/Johan Tallo

Romli menjelaskan pemerintah desa tengah aktif dalam melakukan labelisasi penerima PKH di depan rumah warga yang terdaftar. Dari labelisasi yang dilakukan, terdapat temuan mengejutkan.

“Banyak masyarakat yang ekonominya kuat justru mendapat fasilitas. Saya harap ada peninjauan ulang terhadap pendataan PKH agar bisa tepat sasaran,” ujar Romli dilansir Liputan6.com pada Kamis (7/5).

(mdk/shr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.