LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JATENG

Kisah Inspiratif Haji Haryanto, Anak Petani yang Kini Sukses Bikin Perusahaan Bus

Haryanto dilahirkan dari orang tua yang bekerja sebagai petani dan pedagang di Kudus, Jawa Tengah. Berkat kerja keras dan doa, PO Haryanto kini berkembang pesat menjadi sebuah perusahaan transportasi massal yang disegani. Begini kisahnya yang inspiratif.

2023-01-08 12:17:00
Jateng
Advertisement

PO Haryanto dikenal sebagai perusahaan bus dengan pelayanan yang maksimal. Bukan hanya ke penumpangnya saja, tapi juga kepada para sopir hingga kru, difasilitasi dengan baik dan layak. Di balik itu, ada sosok owner yang inspiratif dan berpengaruh bernama Haji Haryanto.

Beberapa waktu lalu, ia sempat berbagi pengalamannya mendirikan salah satu perusahaan bus termasyur di Jawa Tengah itu. Menurut Haji Haryanto, banyak keajaiban yang membuat usahanya berkembang hingga maju setelah ia rintis di tahun 2000-an silam.

Usaha ini tidak ia bangun dengan mudah. Haryanto dilahirkan dari orang tua yang bekerja sebagai petani dan pedagang di Kudus, Jawa Tengah. Berkat kerja keras dan doa, PO Haryanto kini berkembang pesat menjadi sebuah perusahaan transportasi massal yang disegani dan inspiratif. Tak hanya itu, Haryanto juga dikenal sebagai orang yang dermawan.

Advertisement

Sejak Kecil Terbiasa Bantu Orang Tua

©2023 Instagram PO Haryanto Official/ Merdeka.com

Advertisement

Terkait latar belakang orang tuanya, Haryanto mengaku terbiasa hidup dengan kondisi prihatin. Saat kecil ia sudah aktif membantu perekonomian kedua orang tua yang bekerja serabutan.

Bapak dari Haji Haryanto merupakan seorang petani, dan menyambi usaha sebagai pedagang. Begitu juga dengan sang ibu yang berprofesi sebagai penjual makanan di wilayah Kudus. Dari situ, Haji Haryanto membantu berjualan dagangan orang tuanya untuk kebutuhan sehari-hari.

“Berbicara PO Haryanto ini jangan liat sekarangnya, tapi bagaimana dulu keadaannya. Jadi saya itu anaknya petani, pedagang lah, buruh kasaran. Dari situ, sejak SD saya sudah aktif bekerja, baik di sawah, jualan es dan pagi saya ngarit itu bisa ditukar dengan nasi satu piring,” kenang Haji Haryanto, mengutip kanal YouTube PO Haryanto Official.

Melamar Jadi Tentara Demi Ekonomi

Setelah menyelesaikan sekolah selama tiga tahun, Haji Haryanto mendapat kesempatan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang SMP dan STM. Namun, ia merasa berat menamatkan sekolahnya lantaran tidak punya biaya.

Berbekal ijazah SMP, dirinya mendaftar diri sebagai tentara agar bisa hidup mandiri dan tidak memberatkan orang tuanya. Ia mendaftar pada tahun 1979. Di tahun yang sama, Haryanto ditugaskan di wilayah Tangerang, Banten. Ia memutuskan untuk melakoni pekerjaan apapun agar bisa mencukupi kehidupan di kota orang, sebagai sambilan dari pekerjaan utamanya.

Selama di Tangerang, ia memulai kehidupan barunya termasuk berumah tangga. Saat itu, ia berkesempatan membeli angkot doyok sebagai usaha tambahan.

“Tahun 79 itu saya ada jalan bersosialisasi, ikut-ikut dengan warga Tangerang, termasuk di angkot sampai saya ada rezeki dikit buat kredit angkot doyok. Saat itu karena sudah berkeluarga, saya harus berpikir bagaimana bisa hidup (bersama istri) di kampung orang,” katanya lagi.

Jadi Sopir Angkot

Selama bekerja sambilan, dirinya juga belajar dengan orang-orang di Tangerang untuk mengemudikan angkot, hingga berpenghasilan lumayan cukup. Uang pendapatannya ia gunakan untuk membeli  angkot lagi, dan disisihkan untuk investasi lain salah satunya membeli tanah.

Dalam satu hari, di tahun 1984, Haryanto bisa mengantongi kurang lebih Rp10 ribu dalam sehari. Ia juga sempat menjadi calo hingga mendapat penghasilan yang cukup besar, untuk mencukupi kebutuhannya. Tak cepat puas, ia terus menambah angkotnya dan membangun garasi-garasi dan musala di Tangerang.

“Saya nyopir angkot di Tangerang itu, dapat sepuluh ribu, terus kita kumpulin. Ya alhamdulillah, dari situ saya beli lagi, saya beli lagi jadi angkotnya makin banyak. Subhanallah ya, ada rezeki lagi saya belikan tanah dan dari situ, saya bisa kayak gini karena dibangun rumah, garasi angkot, musala,” katanya lagi.

Jadi Agen Bus

©2023 YouTube PO Haryanto Official/ Merdeka.com

Selain nyalo, ia juga mengaku pernah menjadi agen salah satu bus di wilayah Tangerang hingga Pulogadung. Saat itu, ia mengawal sebuah bus bernama Garuda Mas. Dari situ Haji Haryanto mendapat upah Rp1.000 untuk sekali mendampingi.

Di sana banyak pelajaran yang ia ambil dan menjadikannya bekal untuk membuka perusahaan bus kelak.

Walau hanya mendapat Rp1.000, tetap disyukuri lantaran ia melakukan pekerjaan tersebut dengan bahagia, sekaligus bisa menambah penghasilan. Pekerjaan ini ia lakukan di tengah pekerjaannya sebagai tentara dan mengelola angkot.

“Waktu itu saya nyalo dan busnya kalo nggak salah Garuda Mas. Dulu dari Tangerang ke Pulogadung saya bisa dapat seribu rupiah. Saya ikut, ikut, dan saya senang dengan ini, bersyukur walaupun pendapatannya tidak besar,” katanya.

Atur Waktu Sebaik Mungkin

Di tengah padatnya rutinitas, Haryanto sebisa mungkin mengisi waktu luang dengan kegiatan-kegiatan yang menghasilkan. Ia akhirnya mampu mendapatkan penghasilan tambahan untuk masa depannya.

Ini menjadi tantangannya karena harus mengatur waktu sebaik mungkin. Pekerjaan di luar dinas, ia mulai lakukan pada sore hari.

“Itu posisinya saya masih dinas (di tentara), bagi waktunya setelah dinas saya lakukan, karena dinas kan berangkat pagi selesai jam 14.00 WIB siang. Saat itu nggak ada kegiatan, nggak ada apel ya saya ke luar, belajar sama orang,” katanya.

Dirikan Perusahaan Bus Tahun 2002

Setelah krisis moneter, banyak perusahaan angkot yang gulung tikar termasuk milik Haji Haryanto. Tak putus asa, ia  menjual angkot-angkotanya dan mulai membeli beberapa unit bus. Walau demikian, usahanya masih belum berjalan mulus.

Belum genap satu tahun, usaha busnya gagal. Di tahun 2004, ia mulai bangkit dengan mendirikan PO Haryanto dan mulai membuka trayek ke luar daerah.

Haji Haryanto membocorkan usahanya bisa sukses lantaran menghormati orang tua, dan sempat memberangkatkan orang tuanya untuk haji. Sebelumnya, ia juga memperdalam agama, hingga gemar bersedekah dan membangun musala.

“Tahun 2002 saya mulai coba bikin perusahaan bus, karena usaha angkot mulai susah. Namun gagal. Lalu 2004 saya mulai bangkit dan bikin ini (PO Haryanto). Sebelumnya di tahun 1997 itu saya berangkatkan haji orang tua dengan biaya yang pas-pasan, terus ada gempa saya bangunkan musala juga,” lanjutnya.

Jadi Perusahaan Bus yang Dermawan

Hingga kini, PO Haryanto masih dikenal sebagai perusahaan bus yang dermawan. Ini karena seluruh pegawainya, mulai dari kru, sampai para sopirnya dijamin sejahtera oleh Haji Haryanto.

Tak jarang, Haji Haryanto juga memberangkatkan karyawannya untuk pergi haji. Ia juga membangunkan musala, rumah makan dan memberikan sederet fasilitas perjalanan antar kota agar penumpang nyaman.

Para pegawainya juga diminta menaati perintah agama, dan tetap melaksanakan salat ketika azan berkumandang.  Haji Haryanto membeberkan bahwa usaha bisa berjalan dengan baik jika diiringi dengan ibadah.

"Uang itu didapatkannya salat dhuha, salat malam, salat sunnah-sunnah, membangun masjid itu adalah penyedot uang,” tandasnya.

(mdk/nrd)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.