LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JATENG

Kisah Hidup Oei Hui Lan, Putri Raja Gula Semarang yang Jadi Ibu Negara Tiongkok

Oei Hui Lan merupakan putri kedua dari seorang Raja Gula dari Semarang, Oei Tiong Ham. Sewaktu kecil dia merupakan seorang gadis kesayangan sang ayah dan segala keinginannya selalu terpenuhi. Walau begitu, bukan berarti hidupnya tidak penuh dengan lika-liku.

2020-09-23 11:30:00
Jateng
Advertisement

Oei Hui Lan lahir pada 2 Desember 1889 di Semarang. Dia merupakan putri kedua dari seorang Raja Gula dari Semarang, Oei Tiong Ham. Sebagai seorang anak dari Raja Gula yang juga merupakan orang terkaya se-Asia Tenggara, kehidupan Oei Hui Lan senantiasa bergelimang harta. Apalagi, sewaktu kecil dia merupakan seorang gadis kesayangan sang ayah dan segala keinginannya selalu terpenuhi.

Walau begitu, bukan berarti hidupnya tidak penuh dengan lika-liku. Saat tumbuh besar, kehidupannya justru penuh drama dan terjebak pada berbagai kisah percintaan yang rumit. Hal ini tak lepas dari pergaulannya yang luas dan hubungannya dengan para orang-orang besar.

Maka tak heran bila wanita itu menjadi istri dari Presiden Tiongkok dan menjadi ibu negara pertama atau “first lady” negara itu. Lalu seperti apa kisah hidup putri sang Raja Gula itu sampai ajal menjemputnya? Berikut selengkapnya:

Advertisement

Gadis Tomboi

©Unair.ac.id

Advertisement

Semasa kecil, Oei Hui Lan tumbuh menjadi anak tomboi yang lebih suka permainan anak laki-laki. Karakternya berbeda dengan kakaknya, Oei Tjong Lan, yang cenderung lemah lembut seperti perempuan kebanyakan.

Melansir dari Unair.ac.id, semasa kecilnya Oei Hui Lan hampir tidak pernah merasakan kesusahan karena apa yang ia minta selalu didapatkan dengan mudah. Walau begitu, Hui Lan tidak tumbuh sebagai anak yang sombong. Di istananya yang megah, dia sering berbincang dan berbagi cerita dengan para pembantunya.

Pandai Bergaul

Semasa kecil, baik Hui Lan maupun kakaknya sering diajak ibunya Liburan ke Singapura dan keliling Eropa. Karakter Hui Lan yang pandai bergaul dengan siapa saja membuatnya memiliki banyak teman. Selain itu, kefasihannya dalam berbahasa China, Inggris, dan Perancis membuat mereka mudah diterima di kalangan bangsawan Eropa.

Hal inilah yang mengantarkannya pada kisah asmara dengan Beauchamp Forde Gordon Caulfield-Stoker, seorang berdarah Inggris-Irlandia yang menjadi agen konsuler Inggris di Semarang. Merekapun pada akhirnya menikah pada 1909 dan pada tahun kedua pernikahan mereka pindah ke London.

Hubungan yang Berantakan

©Wikipedia.org

Dari pernikahannya dengan Stoker, Hui Lan dikaruniai seorang putra. Anaknya bernama Lionel Montgomery Caulfield-Stoker. Walau begitu, hubungan antara Hui Lan dengan suaminya itu diwarnai dengan berbagai ketidakcocokan, baik dalam gaya hidup maupun pemikiran. Puncaknya, Hui Lan menggugat cerai suaminya pada tahun 1919.

Sebuah surat kabar di Inggris, Birmingham Daily Gazette, bahkan menggambarkan ketidakcocokan ini seperti cerita dalam novel Java Head karya Joseph Hergesheimer yang menggambarkan “ketidakcocokan antara orang Amerika dengan istri seorang Tionghoa dari keluarga bangsawan sehingga mereka harus berpisah”.

Jadi Ibu Negara Tiongkok

Tak lama setelah perceraian itu, ibu Hui Lan, Goei Bing Nio mendorong putrinya untuk menerima pinangan dari politikus asal Tiongkok bernama Wellington Koo. Merekapun akhirnya menikah di Brussels, Belgia, pada 9 November 1920.

Pada 1 Oktober 1926, Wellington Koo bahkan terpilih menjadi Presiden Republik Tiongkok yang membuat Hui Lan menjadi Ibu Negara Tiongkok dengan nama baru, Madame Wellington Koo. Walau begitu, jabatan itu tak berlangsung lama. Pada 16 Juni 1927, Wellington Koo melepas jabatannya dan setelah itu menetap di Shanghai, kota pelabuhan terbesar keempat di dunia.

Masa Tua Hui Lan

©Wikipedia.org

Kondisi Perang Dunia II yang tak berkesudahan merenggangkan hubungan antara Hui Lan dengan suaminya. Pasangan itupun bercerai pada 1958. Sejak saat itu, Hui Lan menjalani sisa hidupnya di New York City.

Selama sisa hidupnya itu, dia menulis dua autobiografi yang dikerjakan secara kolaborasi. Autobiografi pertama ia tulis pada 1943 dengan berkolaborasi bersama kolumnis The Washington Post, Mary Van Rensselaer Thayer, dan kemudian pada 1975 berkolaborasi dengan wartawan Isabella Thaves.

Pada 1980 ia terlibat dalam serangkaian usaha gagal di Indonesia meliputi perkapalan, tembakau, dan sepeda. Pada 1992, Hui Lan meninggal dunia meninggalkan mantan suami dan dua orang putranya.

(mdk/shr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.