LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JATENG

Kisah Cipto Mangunkusumo Basmi Wabah Pes di Jawa, Turun Tangan Tanpa Masker

Dr. Tjipto Mangunkusumo adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia. Pada tahun 1910, dia berjasa saat membasmi wabah Pes yang menyerang pulau Jawa. Berikut kisahnya.

2020-03-06 14:16:00
DIY
Advertisement

Dr. Tjipto Mangunkusumo (Cipto Mangunkusumo) adalah salah satu pahlawan nasional Republik Indonesia. Lahir di Jawa Tengah pada 4 Maret 1886, dia adalah anak sulung dari Mangunkusumo, seorang priyayi golongan rendah dalam struktur masyarakat Jawa.

Berkat didikan orang tuanya, Cipto Mangunkusumo tumbuh menjadi pemuda yang berani, penuh talenta, dan berani mengambil resiko dalam melawan penjajah. Saat diberi kesempatan untuk menjadi pegawai pemerintah pribumi yang membantu tugas-tugas pemerintahan kolonial, ia justru menolak. Padahal waktu itu jabatan itu menjadi kebanggaan setiap keluarga di Jawa.

Justru ia meminta restu dari ayahnya untuk melanjutkan pendidikan di sekolah dokter STOVIA dengan harapan bisa lebih dekat untuk membantu masyarakat lemah yang tertindas karena pemerintah kolonial.

Advertisement

Dari pendidikan inilah ia kemudian mempunyai bekal sebagai seorang dokter, yang kemudian ia kerahkan untuk membasmi wabah Pes di Jawa waktu itu. Berikut adalah kisah Cipto Mangunkusumo dalam melawan wabah Pes yang menyerang Pulau Jawa pada 1910.

Dibenci Belanda

Cipto Mangunkusumo merupakan siswa yang aktif semasa menjalani studi di STOVIA. Walaupun berada di sekolah yang memiliki peraturan yang diskriminatif terhadap pribumi, di sekolah itu justru ia menemukan kebebasan untuk berpikir dan mengemukakan semua pemikirannya itu.

Advertisement

Setelah lulus dari STOVIA di tahun 1905, Cipto menjalani masa dinas pemerintah. Dilansir dari Kemendikbud.go.id, saat itu dia dibenci Belanda karena sering menyindir pemerintah Belanda baik dalam sikap maupun tulisan-tulisannnya untuk koran de Locomotief yang terbit di Semarang.

Membuka Praktik Dokter

2020 liputan6.com

Lepas dari ikatan dinas, Cipto Mangunkusumo kemudian membuka praktik dokter di Solo. Praktik itu bernama "Dokter Rakyat". Kemendibud dalam laman resminya menyebut, selama berprofesi sebagai dokter, Cipto Mangunkusumo masuk ke kampung-kampung naik sepeda untuk mengobati rakyat kecil dan tidak meminta bayaran.

Membasmi Wabah Pes Di Malang

Pada tahun 1910, wabah Pes merebak di Malang. Penyakit yang disebabkan karena kutu tikus itu sangat mudah menyebar dan sulit ditangani karena sarana kesehatan dan alat-alat dokter yang tidak memadai. Ditambah itu banyak dokter Belanda yang tidak mau pergi ke Malang untuk menyembuhkan para penderita Pes.

2020 liputan6.com

Mengetahui ini, Cipto yang geram kemudian memberanikan diri menjadi dokter dinas pemerintah agar bisa ditempatkan di Malang. Sesampainya di Malang, ia kemudian membantu menyembuhkan para penderita Pes.

Tanpa memakai masker ataupun penutup hidung dan mulut, Cipto dengan berani masuk ke pelosok Malang untuk memulihkan kondisi para penderita Pes di sana.

Mengangkat Anak yang Disembuhkan dari Pes

Saat mengobati wabah Pes di Malang, Cipto berhasil menyelamatkan seorang anak perempuan yang hampir terbunuh. Saat itu Cipto mendengar tangisan anak dari sebuah rumah seorang penderita Pes. Rumah itu sudah setengah terbakar.

Dengan sigap dia menggendong anak perempuan yang menderita Pes itu. Ia pun kemudian mengobati anak itu sampai sembuh. Anak perempuan yang diselamatkannya itu sudah yatim piatu karena kedua orang tuanya meninggal akibat Pes.

Cipto kemudian mengangkatnya sebagai anak dan diberi nama Pestiati. Pestiati-lah yang setia merawat Cipto hingga akhir hayatnya.

Dapat Penghargaan Dari Ratu Wilhelmina

Atas jasanya dalam membasmi wabah Pes, pada tahun 1912, dr. Cipto Mangunkusumo mendapat penghargaan dari Ratu Wilhelmina. Dilansir dari Kemendikbud.go.id, penghargaan itu berupa suatu bintang jasa Ridder In De Orde Van Oranje Nassau. Namun tidak sampai satu tahun Cipto mengembalikan bintang jasa itu. Alasannya dia tidak diizinkan untuk menangani wabah Pes di Solo.

Soal bintang jasa itu, Cipto punya kisah unik dalam mengekspresikan kekesalannya pada pemerintah kolonial. Dia menempelkan bintang jasa itu di kantung belakang celananya, sehingga, bila ada serdadu yang harus hormat pada penghargaan itu, dia harus hormat pada pantat Cipto Mangunkusumo.

(mdk/shr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.