LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JATENG

Heboh Anarkisme Suporter Sepak Bola, Psikolog UGM Jelaskan Penyebabnya

Kerusuhan yang melibatkan suporter Persis Solo dengan warga Jogja pada Senin (25/7) lalu menjadi keprihatinan banyak pihak. Psikolog UGM, Prof. Koentjoro mengatakan bahwa tindakan anarkis itu dipengaruhi oleh jiwa massa yang dimiliki setiap individu. Lantas apa yang dimaksud dengan jiwa massa?

2022-07-28 12:38:00
DIY
Advertisement

Pada Senin (25/7) lalu, terjadi kerusuhan yang melibatkan suporter klub sepak bola Persis Solo dengan warga Jogja. Kerusuhan itu terjadi di berbagai titik seperti di Flyover Jombor, Jalan Gejayan, dan kawasan Tugu Jogja. Kerusuhan ini menjadi keprihatinan banyak pihak, apalagi massa suporter sepak bola sempat melakukan penyerangan terhadap toko-toko milik warga.

Keprihatinan itu pula yang diungkapkan Psikolog UGM Prof. Drs. Koentjoro. Ia mengatakan tindakan anarkis oleh oknum suporter sepak bola itu mereka lakukan karena terpengaruh jiwa massa.

Lantas apa yang dimaksud dengan jiwa massa? Berikut selengkapnya:

Advertisement

Munculnya Jiwa Massa

©REUTERS/Phil Noble

Advertisement

Koentjoro menjelaskan saat berada di tengah massa atau gerombolan, seseorang akan bersikap berbeda dibandingkan saat ia sedang sendiri. Di saat itu, akan timbul suatu perilaku atau tindakan yang tampak berbeda.

“Jiwa massa ini timbul ketika mereka berada di antara massa lalu memunculkan perilaku aneh yang saat sedang sendirian dia tidak bisa melakukan hal-hal itu. Apalagi kalau ditambah dengan mengenakan pakaian atau atribut yang menggambarkan kalau mereka itu satu bagian,” kata Koentjoro, ,mengutip dari Ugm.ac.id pada Selasa (26/7).

Terhipnotis Lingkungan

©2019 Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Koentjoro mengatakan bahwa saat seseorang berada di tengah massa dan mengenakan berbagai atribut yang menjelaskan kalau dia bagian dari massa itu, dia akan lebih berani melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan saat sendiri. Baginya hal ini tak hanya ditemui pada suporter sepak bola, namun juga dalam kerumunan massa lainnya seperti saat kampanye maupun demo.

“Misalnya di tengah kampanye atau demo ada pemimpin yang meneriakkan kata-kata dan melakukan kegiatan tertentu. Secara tidak sengaja akan tertular. Orang sering kali kehilangan kesadaran saat sudah berkumpul karena terhipnotis lingkungan,” ujar Koentjoro.

Pengendalian Massa

©Liputan6.com/Faizal Fanani

Guna mencegah kericuhan, Koentjoro mengusulkan agar aparat keamanan melakukan pengendalian massa. Salah satu cara pengendalian massa yang dapat dilakukan antara lain memecahnya dalam kelompok-kelompok kecil agar massa tidak terlalu solid. Selain itu, aparat juga dapat membuat waktu kepulangan suporter dalam beberapa kloter.

“Kalau jiwa sudah dikendalikan massa itu susah apalagi kalau ada penyusup seperti adu domba atau konten buat viral. Ini mengerikan, jadi konsentrasi massa harus dilakukan untuk mencegah kericuhan,” terang Koentjoro, mengutip dari Ugm.ac.id.

(mdk/shr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.