Dikenalkan Oleh Putri Raja, Ini 3 Fakta Sejarah Lulur di Tanah Jawa
Lulur banyak dipraktikkan dalam metode menjaga kulit agar sehat. Ternyata, metode ini sudah digunakan sejak zaman dulu oleh para putri Kraton di Jawa.
Sampai saat ini, metode lulur banyak dimanfaatkan untuk perawatan kecantikan. Metode ini diyakini bisa membuat kulit halus dan kencang.
Dilansir dari Fimela.com, lulur dibuat dari ramuan rempah-rempah. Ternyata, metode lulur untuk menghaluskan kulit sudah dikenal sejak dulu.
Lantas seperti apa sejarah penggunaan lulur bagi kecantikan kulit? Berikut selengkapnya:
Dikenalkan oleh Putri Raja
ilustrasi lulur ©Shutterstock
Dikutip dari Mommyasia.id, tradisi lulur sudah dilakukan oleh para putri-putri raja di Pulau Jawa. Waktu itu, proses luluran diyakini sebagai metode terbaik dalam menjaga kesehatan dan kecantikan kulit.
Biasanya, seorang putri raja akan melakukan perawatan lulur sebanyak dua kali seminggu. Bahkan sebelum pernikahan mereka, para putri Keraton ini akan melakukan ritual luluran setiap hari selama 40 hari berturut-turut.
Ritual Lulur
ilustrasi lulur ©Shutterstock
Dilansir dari Binus.ac.id, ritual lulur dimulai dengan melulur kaki disertai dengan pijat Bali selama satu jam. Setelah itu barulah seluruh tubuh dibalur dengan lulur tradisional Jawa.
Di sini, lulur tersebut dibuat dari campuran beras, kacang-kacangan, akar kunyit, jahe, kayu manis, dan bubuk cendana yang sudah ditumbuk menggunakan lesung dan alu. Setelah itu ramuan ditambah dengan sedikit air dan beberapa tetes minyak bunga melati untuk membuat butir-butiran halus.
Ketika sudah kering, ramuan itu kemudian digosokkan pada kulit untuk melepaskan sel kulit mati dan menggantinya dengan lapisan kulit baru yang lebih sehat. Sisa-sisa lulur itu kemudian dibilas dengan air hangat yang dicedok dengan batok kelapa.
Mandi di Kolam
©2017 Tantri Setyorini
Dilansir dari Binus.ac.id, tahap akhir yang paling menyenangkan dari tradisi lulur adalah bersantai di kolam yang telah ditaburi dengan wewangian bunga-bunga seperti melati, tuberose, kamboja, bunga kacapiring, dan kenanga.
Di Kraton Yogyakarta, ada peninggalan situs Istana Air Tamansari yang dulunya digunakan sebagai tempat mandi para anggota kerajaan. Sementara itu di Bali, ada situs pemandian Tirta Gangga. Pemandian itu dulunya digunakan sebagai tempat pemandian keluarga Kerajaan Karangasem.