Cerita Susy Susanti di Olimpiade Barcelona, Kesulitan Dapat Surat Administrasi Negara
Baru-baru ini, Susy Susanti bercerita mengenai pengalamannya saat berlaga di Olimpiade Barcelona. Ia juga berbagi kisah tentang kesulitannya berlaga di luar negeri.
Legenda bulu tangkis putri Indonesia, Susy Susanti, tercatat sebagai atlet Indonesia pertama yang meraih medali emas di level Olimpiade. Susy Susanti dan Alan Budikusuma, yang kemudian menjadi suaminya mampu mempersembahkan dua medali emas pertama Indonesia di perhelatan Olimpiade pada tahun 1992 di Barcelona.
Susy Susanti sukses mempersembahkan medali emas pertama Indonesia setelah 40 tahun sejak pertama kalinya mengikuti Olimpiade 1952. Selain perolehan medali di Olimpiade yang membanggakan bagi Indonesia, ternyata ada cerita menarik di balik perjuangannya saat berlaga di Olimpiade Barcelona.
Baru-baru ini, Susy Susanti bercerita mengenai pengalamannya saat berlaga di Olimpiade Barcelona. Ia juga berbagi kisah tentang kesulitannya berlaga di luar negeri.
SBKRI
You Tube - Helmy Yahya
Hal itu diungkapkan Susy Susanti dalam video perbincangannya bersama Helmy Yahya yang diunggah di kanal YouTube Helmy Yahya pada Senin (2/8). Dalam kesempatannya tersebut, Susy Susanti berbagi kisahnya.
Saat Susy Susanti berlaga di Olimpiade Barcelona, ternyata ada surat administrasi negara yang belum diselesaikannya. Surat itu berisi keterangan bahwa Susy Susanti adalah orang asli Indonesia dengan keturunan Tionghoa.
"Jadi sebetulnya bukan status kewarganegaraan (yang belum beres) tapi waktu itu karena kami ini dari suku minoritas sebagai keturunan Tionghoa tentunya ada satu yang harus kita punya yaitu SBKRI (surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia)," jelas Susy Susanti.
"Jadi waktu saya main itu sebetulnya nggak ngerti, karena semua surat sudah diurusin oleh orang tua saya," tambahnya.
Lahir di Indonesia
Satu hal yang membuat Susy Susanti bertanya, bahwa ia, orang tua dan kakek neneknya sudah tinggal di Indonesia sejak lahir. Dengan demikian, mengapa harus mempunyai surat administrasi negara yang menyatakan bahwa ia adalah seorang WNI.
"Kenapa SBKRI, karena untuk kami yang diatas 17 tahun itu harus ada pemisahan dari orang tua. Padahal orang tua saya, kakek nenek saya, saya ini generasi keempat yang lahir di Indonesia," ungkap Susy Susanti.
"Jadi saya pikir saya lahir di Indonesia tidak ada bedanya dengan warga negara yang lain, suku-suku dari yang lain. Pada saya main di barcelona pun saya tidak tahu surat SBKRI saya belum selesai," tuturnya.
Muncul ke Media
Setelah melakukan urusan administrasi, surat itu tak langsung keluar, Susy Susanti membutuhkan waktu selama 8 tahun. Prosesnya dipermudah, setelah Susy Susanti memunculkan permasalahan tersebut di media.
"Dari situlah saya muncul ke media, karena wkatu itu prosesnya cukup panjang sekitar 8 tahun. 8 tahun tidak beres, jadi setiap orang tua saya mengajukan surat-surat selalu ada yang kurang," ucapnya.
"Akhirnya pada saat saya angkat ke media dalam hitungan satu bulan sampai dua bulan itu keluar surat SBKRI," pungkasnya.