Cerita Pertempuran Plataran di Sleman, Kini Diabadikan dalam Sebuah Monumen
Di Kecamatan Kalasan, Sleman, ada sebuah monumen yang menjadi saksi bisu perjuangan para taruna Angkatan Militer melawan penjajah Belanda. Namanya Monumen Plataran. Di tempat itu sebanyak 8 orang pejuang muda gugur sebagai pahlawan bangsa.
Di Kecamatan Kalasan, Sleman, ada sebuah monumen yang menjadi saksi bisu perjuangan para taruna Angkatan Militer melawan penjajah Belanda. Perjuangan ini terjadi pada masa Agresi Militer II yang dimulai pada akhir tahun 1948.
Pada masa itu, para personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) menyerang garis-garis komunikasi Belanda, memutus kawat-kawat telepon, merusak jalan kereta api dan jembatan, serta menyerang konvoi tentara Belanda.
Tak hanya para anggota TNI yang sudah terlatih dan punya pangkat di militer, para calon-calon tentara yang tergabung dalamMilitaire Academy (MA) juga ikut terjun ke medan perang. Perjuangan merekalah yang kemudian diabadikan di Monumen Plataran. Lantas seperti apa cerita perjuangan mereka? Berikut selengkapnya:
Cerita Perjuangan di Medan Plataran
©YouTUbe/BPCB Yogyakarta
Wahyu Sri Hartadi, penggiat sejarah Monumen Plataran, bercerita bahwa peristiwa pertempuran Plataran terjadi setelah para anggota Militaire Academy berpindah markas dari Kotabaru ke daerah Selomartani, Kalasan. Waktu itu mereka harus berpindah markas karena keadaan darurat di mana Kota Yogyakarta diserbu tentara Belanda.
Pertempuran Plataran bermula saat tertembaknya seorang Vaandrig Cadet bernama Abdul Djalil pada 22 Februari 1949. Waktu itu Abdul Djalil sedang melakukan patroli bersama pasukannya dan kebetulan berpapasan dengan patroli Belanda.
Buku Harian Abdul Djalil
©YouTUbe/BPCB Yogyakarta
Saat papasan itu, terjadi baku tembak yang menewaskan Abdul Djalil. Dari Abdul Djalil, tentara Belanda merampas buku hariannya. Dari buku harian itulah terungkap lokasi-lokasi markas di daerah Selomartani.
Pada 23 Februari malam, para pasukan MA melakukan penyerangan terhadap pos Belanda di daerah Bogem. Pada 24 Februari dini hari, mereka pulang menuju ke markas. Pada perjalanan itu, salah satu pleton pasukan MA, yaitu Pleton Z, dikejar oleh tentara Belanda.
“Jadi pada saat itu, para anggota MA yang berjalan pulang menuju markas masing-masing, bertemu di tempat ini. Dari timur, selatan, dan barat. Jadi monument ini merupakan titik pertempuran saat itu," kata Wahyu, mengutip dari kanal YouTube BPCB Yogyakarta.
Pejuang yang Gugur
©YouTUbe/BPCB Yogyakarta
Wahyu mengatakan, pertempuran Plataran menyebabkan 8 orang pejuang gugur. Mereka terdiri dari dua orang perwira remaja, lima orang taruna, dan satu orang tentara pelajar.
“Jadi yang berjuang di sini kebanyakan masih siswa. Pendidikan mereka belum selesai. Tapi dihadapkan pada praktik perang beneran,” kata Wahyu.
Di monumen itu, terdapat patung kecil berjumlah 8 buah. Wahyu mengatakan patung-patung itu merupakan simbol pahlawan yang gugur di sana.