LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JATENG

Bebas dari COVID-19, Begini Cerita WNI Asal Jogja yang Tinggal di Pulau Christmas

Pulau Christmas merupakan pulau kecil yang menjadi bagian dari negara Australia. Letak pulau ini persis di selatan Pulau Jawa. Letaknya yang terpencil dan protokol kesehatan yang ketat membuat pulau ini bebas dari Virus Corona. Hal itulah yang dirasakan seorang WNI asal Jogja yang bekerja di pulau itu.

2021-04-06 11:30:00
DIY
Advertisement

Pulau Christmas merupakan pulau kecil yang menjadi bagian dari negara Australia. Letak pulau ini persis di selatan Pulau Jawa. Dibandingkan dengan dataran Australia, jarak pulau ini dari Pulau Jawa cenderung lebih dekat.

Melansir dari Wikipedia.org, pulau ini diberi nama Pulau Christmas atau Pulau Natal karena sang penemunya, Kapten William Mynors melewati pulau ini pada hari Natal tahun 1643. Pada tahun 1688, Kapten William Dampier dari Inggris menjadi pengunjung pertama pulau itu. Saat kunjungannya, dia mengklaim bahwa pulau ini tidak dihuni manusia.

Seiring waktu, penjajah mendatangkan para pekerja dari Malaysia dan Singapura untuk bekerja di pertambangan di sana. Kini makin banyak warga yang tinggal di Pulau Christmas. Tercatat, populasi penduduk di pulau itu ada 1.938 jiwa.

Advertisement

Salah satunya adalah WNI asal Jogja yang menikah dengan warga negara Australia dan sempat tinggal di pulau itu untuk urusan pekerjaan. Berikut selengkapnya:

Kisah Kehidupan WNI di Pulau Christmas

Advertisement

©2021 Liputan6.com

Salah satu WNI asal Jogja, Safira, berkesempatan tinggal di Pulau Christmas selama 10 bulan dalam rangka mendampingi suaminya yang bertugas sebagai dokter di sana. Safira mendapat kesempatan untuk menjadi petugas kesehatan.

Dia mendapat tugas menangani pasien rumah sakit yang sudah tua dan merawat komunitas anak-anak difabel. Setelah melalui pelatihan intensif selama dua minggu, Safira yang sebelumnya tidak tahu-menahu tentang pekerjaan perawat menghabiskan waktu dua bulan di sana.

“Setelah selesai training kami dilepas. Kami mengurus pasien, makanan mereka, obat-obatan, dan segalanya. Semuanya manual handling. Sudah langsung jadi ahli,” kata Safira mengutip dari Liputan6.com.

Pulau yang Aman dan Bersahabat

©2021 Liputan6.com

Mona, salah satu WNI kelahiran Medan, sudah 10 tahun tinggal di pulau tersebut. Selama hidup di sana, dia merasa aman. Bahkan pernah suatu hari dia meninggalkan rumah untuk liburan dalam keadaan pintu tidak terkunci dan di dapur rumahnya tersimpan uang sebesar 1.000 Dollar. Saat dia kembali, uang itu masih ada di sana.

Karena populasinya yang relatif sedikit, Mona bisa cepat berbaur dengan warga non-Indonesia di sana, seperti warga Malaysia, Filipina, dan Australia.

“Saya rasa pergaulan saya dengan orang Melayu dan Barat di sini cukup erat seperti di Indonesia. Kalau kita sakit atau ada musibah, orang-orang di sekitar mendukung kita,” kata Mona.

Melekat di Hati

©2021 Liputan6.com

Bersama suaminya, Matt, Safira mengaku hanya tinggal di Pulau Christmas selama 10 bulan sebelum harus kembali lagi ke rumah mereka di Brisbane, Australia. Walau begitu, pesona tempat dan orang-orang di pulau itu tetap melekat di hati mereka. Bahkan suatu hari ia pernah bilang pada sang suami kalau dia akan lebih senang kalau kelak ketika punya anak mereka bisa membesarkan anak-anak mereka di Pulau Christmas.

“Karena kami pikir it’s very safe. The community is great dan dekat. Kalau kita punya keluarga, anak-anak bisa belajar dengan alam karena di sana ada migrasi kepiting, berenang dengan ikan paus dan hiu, dan pergi ke kapal,” kata Safira.

Bebas Dari COVID-19

©Wikipedia.org

Pada masa awal pandemi COVID-19, Pulau Christmas menjadi tempat karantina bagi warga Australia. Sejak 18 Maret 2020, larangan berkunjung ke Christmas Island diberlakukan, kecuali bagi warga yang tinggal di sana ataupun seorang pekerja yang punya urusan penting. Karena menerapkan protokol yang cukup ketat, hingga September 2020 belum ada satupun kasus positif COVID-19 di sana, sehingga dianggap sebagai wilayah bebas virus Corona.

“Lokasi terpencil dan fasilitas kesehatan yang terbatas membuat komunitas kami lebih rentan terkena virus dan beberapa orang mungkin akan dievakuasi,” kata Natasha Griggs, Administrator Wilayah Samudra Hindia Australia dikutip Merdeka.com dari Liputan6.com pada Selasa (6/4).

(mdk/shr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.