Asal Usul Pulau Misterius di Demak yang Jadi Sumber Rezeki Warga Pesisir
Para nelayan juga bisa mencari uang tambahan dengan menyewakan perahu.
Berjarak sekitar dua kilometer dari Balai Desa Surodadi, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, terdapat endapan pasir baru yang sering disebut Pulau Arnavat. Pulau seluas 60 hektar itu dianggap bisa jadi benteng dari bahaya abrasi pantai di desanya dan menyelamatkan perekonomian.
Kepala Desa Surodadi, Supriyanto, mengatakan munculnya pulau baru di perairan utara kini mendatangkan penghasilan bagi warga terutama nelayan. Para nelayan juga bisa mencari uang tambahan dengan menyewakan perahu.
"Jadi selain mencari ikan, di hari libur nelayan bisa menawarkan jasa angkut wisatawan pakai perahu yang ingin berkunjung ke pantai Pulau Arnavat untuk menikmati keindahan laut pantai utara," kata Supriyanto.
Pulau yang muncul dari permukaan air laut. Sekarang kita kelola sama-sama dengan masyarakat desa. Masyarakat atau wisatawan yang ingin ke Pulau Arnavat harus menggunakan perahu dengan melintasi muara yang dikelilingi hutan bakau sepanjang 500 meter.
"Harus pakai perahukarena masih terbatasnya infrastruktur ke wisata pesisir itu. Maka, kita tingkatkan jadi potensi pesisir, wisata, buat peningkatan ekonomi," ungkapnya.
Sedangkan untuk menyewa perahu biasanya sesuai biaya yang disepakati bersama dengan pemilik perahu. Sedangkan jumlah pengunjung setiap harinya lumayan.
"Pengunjung sementara di hari biasa, pengunjung sekira 30-40 orang. Kita harap keberadaan Pulau Arnavat jadi potensi peningkatan ekonomi," jelasnya.
Terlebih masyarakat sudah banyak berjibaku dengan rob yang sudah bertahun-tahun berdampak pada ekonomi, kesehatan, pendidikan. Maka, karena itu, pihaknya minta uluran tangan dari segala sektor, daerah, pusat dan lainnya.
"Karena saat ini keterbatasanya ada di dana. Tapi sedikit demi sedikit pasti akan kami tingkatkan atau benahi,” ujarnya.
Terkait fenomena muncul pulau baru, pihaknya tidak mengetahui secara pasti. Namun Pulau Arnavat merupakan sedimentasi pasir yang mengendap lama di permukaan air laut.
"Munculnya sebenarnya sudah lama, 2023 dua tahunan lalu dan masih hilang-hilang. Baru muncul pasir puluhan hektare itu sekitar 4 bulan lalu,” terangnya
Pemerintah Desa (Pemdes) Surodadi baru dalam waktu dekat akan melakukan percepatan pembangunan. Terutama infrastruktur, akses masuk ke pantai. Karena untuk jalur utama menuju lokasi itu sekitar 2 km masih jelek.
"Nanti juga akan dibangun tempat berteduh dan trek jembatan agar wisatawan bisa masuk ke wilayah seberang, Pantai Mangrove,” pungkasnya.