LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JATENG

Aman dari Efek Samping, Ini Kata Guru Besar UGM Tentang Kemanjuran Vaksin Sinovac

Berdasarkan uji klinis, Vaksin Sinovac dinyatakan aman dari efek samping. Walau begitu, ada pihak yang meragukan mengingat tingkat kemanjurannya hanya 65 persen. Namun, Guru Besar Farmasi UGM punya penjelasan mengenai munculnya angka presentase itu.

2021-01-12 14:38:00
DIY
Advertisement

Kedatangan Vaksin Sinovac di Indonesia membawa secercah harapan baru melawan pandemi COVID-19. Dengan adanya vaksin, makin sedikit orang yang tertular, makin berkurang nyawa yang harus dipertaruhkan, dan perlahan-lahan perekonomian yang ambruk dibangun kembali.

Berdasarkan uji klinis, Vaksin Sinovac dinyatakan aman dari efek samping. Walau begitu, keberadaan vaksin ini sempat memicu keraguan karena berdasarkan uji klinis itu, tingkat efikasi atau kemanjuran vaksin ini hanya 65 persen, berbeda dari Vaksin Pfizer dan Moderna yang tingkat kemanjurannya mencapai 90 persen.

Walau begitu, Guru Besar Farmasi UGM, Prof. DR Zullies Ikawati, Apt punya penjelasan tersendiri mengenai munculnya angka tersebut. Menurutnya, ada banyak faktor yang mempengaruhi hasil perhitungan tingkat kemanjuran tersebut. Apa saja faktor-faktor itu?

Advertisement

Cara Menghitung Tingkat Kemanjuran

©REUTERS/Thomas Peter/File Photo

Advertisement

DR Zullies menerangkan, misalkan ada 1600 orang yang diuji klinik, terdapat 800 orang yang diberi Vaksin Sinovac dan 800 orang yang diberi vaksin kosong atau tidak diberi vaksin. Dari jumlah 800 orang yang divaksin, ada 26 orang yang terinfeksi (3,25 persen atau 0,0325) sementara dari jumlah yang sama orang yang tak diberi vaksin, terdapat 75 orang yang terinfeksi (9,4 persen atau 0,094).

Dari data tersebut, cara menghitung tingkat kemanjuran vaksin adalah sebagai berikut: (0,094 - 0,0325) / 0,094 x 100% = 65,3 %.

Faktor yang Menentukan

©2021 Merdeka.com

Dari perhitungan tersebut, tingkat kemanjuran itu sangat ditentukan oleh karakteristik subyek ujinya. Bila 1600 orang itu diambil dari orang yang berasal dari kelompok risiko tinggi, maka akan tinggi pula hasil presentase yang keluar.

Hal inilah yang terjadi di Brazil di mana subyek uji klinik vaksin tersebut diambil dari kelompok berisiko tinggi yaitu para tenaga kesehatan. Sedangkan di Indonesia, sampel 1600 orang itu diambil dari populasi masyarakat umum yang tingkat risikonya lebih kecil.

Maka katakanlah, apabila kalau dari 800 orang berisiko tinggi yang divaksin itu, ada 26 orang yang tetap terinfeksi (3,25 persen atau 0,0325), sedangkan dari 800 orang yang tidak diberi vaksin, terdapat 120 orang yang terinfeksi (15 persen atau 0,15), maka hasil tingkat kemanjurannya adalah: (0,15 – 0,0325) / 0,15 x 100% = 78,3%.

Berdampak Besar

©2020 Merdeka.com/freepik

Menurut DR Zullies, tingkat presentase 65 persen itu sebenarnya sangat bermakna dan bakal menciptakan dampak positif yang panjang dalam mengurangi kasus COVID-19 di Indonesia.

Katakanlah, dari 100 juta orang Indonesia, jika tanpa vaksinasi maka ada 8,6 juta orang yang terinfeksi, sedangkan jika ke-100 juta orang itu diberi vaksin, maka hanya akan ada 3 juta penduduk yang terinfeksi. Maka jumlah kasus dapat dikurangi hingga 5,6 juta kasus.

DR Zullies menjelaskan, angka 5,6 juta itu akan sangat bermakna bagi penyediaan fasilitas perawatan kesehatan. Apalagi secara tidak langsung, jumlah tersebut bisa mencegah penularan pada orang-orang yang tidak mendapatkan vaksin, jika sudah terdapat kekebalan komunal atau herd immunity.

(mdk/shr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.