LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JATENG

9 Fakta Sejarah El Tor, Wabah yang Mendorong Perilaku Hidup Bersih di Jawa

Pada era dekade 1930-an dan 1960-an, beberapa tempat di Indonesia pernah diserang suatu wabah penyakit bernama El Tor. Wabah itu pertama kali ditemukan di pusat karantina El Tor pada tahun 1905 pada sebuah pusat karantina di El Tor, Mesir. Sempat 32 tahun menghilang, wabah itu justru kembali muncul di Indonesia.

2020-03-24 16:59:00
DIY
Advertisement

Merebaknya Virus Corona membuat pemerintah meminta masyarakat Indonesia mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Salah satu wujud dari perilaku hidup bersih itu adalah rutin mencuci tangan atau membersihkan tangan dengan cairan disinfektan. Mencuci tangan penting dilakukan karena melalui tangan virus bisa menyebar, khususnya apabila tangan telah menyentuh hidung, mata, atau mulut, yang kemudian masuk ke dalam tubuh.

Perilaku hidup bersih dan sehat itu sebenarnya sudah disosialisasikan sejak lama. Orang tua selalu mengajarkan anaknya tentang mencuci tangan sejak keci, begitu pula dengan guru-guru di TK atau SD.

Pada era dekade 1930-an dan 1960-an, beberapa tempat di Indonesia pernah diserang suatu wabah penyakit bernama El Tor. Dilansir dari Liputan6.com (13/3/2019), wabah itu pertama kali ditemukan di pusat karantina El Tor pada tahun 1905 pada sebuah pusat karantina di El Tor. Orang yang menemukannya adalah seorang dokter Jerman bernama E. Gotschlics.

Advertisement

Menginfeksi Jamaah Haji

2020 AFP Photo/Abdel Ghani BASHIR

Advertisement

Selain di Mesir, El Tor juga terdapat pada feses sejumlah jamaah haji. Meskipun menyerupai bakteri kolera, namun bakteri itu tidak menyerang inangnya. Jamaah haji pengidap El Tor tetap sehat dan tidak menunjukkan gejala sakit apapun. Namun setelah 32 tahun, kesimpulan itu terbukti salah.

Kemunculan di Indonesia

2020 liputan6.com

Pada tahun 1937, wabah El Tor muncul di Indonesia. Kasus pertama muncul daerah Pangkajene, 60 km sebelah utara Makassar. Dilansir dari Historia.id, orang yang mengidap El Tor mengalami gejala seperti penderita kolera.

"Mula-mula penderita muntah, diikuti dengan berak-berak yang berupa air beras dengan frekuensi lebih dari 10 kali," tulis Djaja dalam artikel berjudul Usaha Memberantas El Tor, dikutip dari Historia.id.

Media Penyebaran El Tor

Dalam waktu hampir tiga bulan, infeksi El Tor menyebar ke berbagai daerah di Sulawesi. Dalam periode mulai 26 September sampai 11 Desember, terdapat 37 kasus dengan 11 orang meninggal dunia.

El Tor dapat menyebar antara manusia satu dengan lainnya melalui air liur atau feses penderita, air yang terkontaminasi, dan lalat yang membawa bakteri lalu hinggap di makanan. Walaupun epidemi ini cepat menyebar, namun cepat pula mereda. Sehingga penderitanya tidak perlu mengalami isolasi khusus.

Muncul di Jakarta

Setelah sempat dinyatakan hilang di Sulawesi, wabah El Tor kembali muncul di Jakarta pada tahun 1958. Pada awal kemunculannya, hanya ada 4 kasus El Tor di ibukota. Karena kasusnya sedikit, kebanyakan orang menganggap biasa kabar ini.

2020 Merdeka.com/Iqbal Nugroho

Namun dunia kedokteran justru bingung bagaimana caranya El Tor bisa kembali muncul di Jakarta setelah sekian lama menghilang di Makassar.

Merebak di Semarang

Tiga tahun setelah kemunculannya di Jakarta, El Tor justru merebak di Semarang. Dilansir dari Historia.id, diketahui sebanyak 250 orang di sana terinfeksi El Tor. Dalam waktu yang bersamaan pula, wabah itu telah menjalar ke Hongkong, Bangkok, Manila, Makau, dan Sarawak.

Sejak 1961 wabah El Tor telah menjangkit sepanjang wilayah Asia Timur dan menarik perhatian WHO, tulis Jeni Iswandari dan Shinta Njotosiswojo dalam tulisan mereka berjudul Cholera Ek Tor Enteritis in Jakarta dilansir dari Historia.id.

Tak Beda Jauh dengan Kolera

2020 Merdeka.com/ journals.lww.com

Dari hasil pengamatan para dokter mengenai El Tor, mereka berkesimpulan bahwa wabah itu tak beda jauh dengan kolera. Dalam tulisannya itu Jeni menyebutkan hanya ada dua hal yang membedakan El Tor dengan kolera, yaitu karakteristik fisik dan reaksi kimia yang terjadi dalam sel dan organisme hidup.

Tindakan Pemerintah Terhadap El Tor

Menyikapi penyebaran El Tor, pemerintah Indonesia kemudian menggunakan data penelitian kasus El Tor di Jakarta pada tahun 1858 untuk mengambil tindakan. Dilansir dari Historia.id, data penelitian itu meliputi pekerjaan penderita, makanan dan minuman, keadaan rumah dan kondisi lingkungan.

Berdasarkan data-data tersebut, pemerintah kemudian menyerukan maklumat tentang El Tor seperti informasi wabah tesebut, rumah sakit rujukan, dan tindakan yang harus dilakukan jika menemukan penderita El Tor.

Isolasi bagi Penderita El Tor

Setelah maklumat tersebut keluar, pemerintah kemudian menerbitkan UU No. 62 tahun 1962 tentang wabah. Isi peraturan tersebut salah satunya adalah memberikan wewenang kepada Menteri Kesehatan untuk menetapkan suatu daerah sebagai daerah wabah.

Dilansir dari Historia.id, apabila suatu daerah telah dinyatakan sebagai daerah wabah, maka pemimpin setempat dapat menutup tempat tersebut agar wabah tak meluas.
Selain itu, para penderita dikenakan ketentuan isolasi dengan orang lain di sekitarnya. Waktu itu, peraturan tersebut dijalankan dengan keras.

Tertolong Berkat Perilaku Hidup Bersih

Selain mencegah penyebaran wabah El Tor, pemerintah juga membuat vaksin kepada para penderitanya. Karena vaksin El Tor waktu itu belum ditemukan, vaksin kolera digunakan untuk menyembuhkan penderita El Tor. Pada penerapannya, ada pasien yang dapat sembuh dengan vaksin itu namun ada juga yang tidak tertolong.

Tapi, ketiadaan vaksin El Tor tertolong berkat perubahan perilaku masyarakat menuju hidup bersih. Mereka kemudian membangun sanitasi di pemukiman, dan memasak air terlebih dahulu sebelum diminum. Karena kesadaran itu, jumlah penderita El Tor menurun secara bertahap.

(mdk/shr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.