5 Pesona Menara Baskoro di Klaten, Dulunya Petilasan Raja Solo
Di Klaten, ada sebuah bangunan yang unik. Bangunan itu bernama Menara Baskoro. Di balik keindahannya, Menara Baskoro menyimpan kisah sejarah masa lalu. Dulunya menara itu diyakini menjadi tempat Raja Keraton Solo, Pakubuwono X menjalani ibadah.
Di Desa Soropaten, Kecamatan Karanganom, Klaten, ada sebuah bangunan yang sangat unik. Bangunan itu berbentuk menara tunggal yang tinggi menjulang. Bangunan itu bernama Menara Baskoro.
Di balik keindahannya, Menara Baskoro menyimpan kisah sejarah masa lalu. Dulunya menara itu diyakini menjadi tempat Raja Keraton Solo, Pakubuwono X menjalani ibadah.
Namun karena termakan usia, bangunan yang tersisa hanyalah pondasinya. Pada tahun 2017 menara itu dibangun kembali sebagai replika bangunan yang lama.
Lantas seperti apa keunikan bangunan itu? berikut selengkapnya:
Petilasan Pakubuwono X
©Instagram/@edwinpsolo
Dulunya, Menara Baskoro menjadi tempat Pakubuwono X melakukan salat istikharah. Selain menjadi penanda tempat, menara itu juga merupakan simbol kedekatan Pakubuwono X dengan leluhur desa setempat yang bernama Ki Karsorejo.
Tidak diketahui secara pasti kapan bangunan itu didirikan. Namun seiring waktu warga setempat meruntuhkan bangunan itu karena takut keberadaannya diketahui orang-orang Belanda yang ditakutkan akan menyerang kampung itu.
Dibangun Kembali
©Instagram/@rinimurita
Karena dimakan usia, bangunan Menara Baskoro seiring waktu kian memprihatinkan. Bahkan pada tahun 1965, bangunan itu tinggal menyisakan pondasinya saja. Baru pada tahun 2017 bangunan itu dibangun kembali. Pada 12 Maret tahun 2020, bangunan itu jadi dan diresmikan langsung oleh Bupati Klaten Sri Mulyani. Dia berharap keberadaan bangunan itu bisa menjadi destinasi wisata baru di Klaten.
“Untuk itu harapan saya menara bersejarah ini mari kita jaga dan rawat bersama. Selain itu viralkan juga tempat wisata bersejarah ini,” ujar Sri Mulyani dikutip dari Klatenkab.go.id
Makna Filosofis
©Instagram/@vierdajanti
Di balik keindahannya, bangunan Menara Baskoro memiliki makna filosofis-nya sendiri. Menara itu sendiri dibangun setinggi 11 meter dengan 5 tangga. Tangga yang berjumlah 5 itu bermakna rukun Islam dan juga jumlah sila dari Pancasila.
Anggaran Membangun Menara Baskoro
©klatenkab.go.id
Dikutip dari Klatenkab.go.id, untuk membangun menara yang baru itu Pemkab Klaten menghabiskan biaya Rp300 juta. Dana itu bersumber dari APBD Klaten sebesar Rp100 juta dan swadaya masyarakat Rp200 juta. Bangunan itu sendiri dibangun atas prakarsa Sanggar Seni dan Budaya Bumi Manunggal Pandanwangi, Dukuh Pandanan.
“Semangat gotong-royong warga Soropaten ini patut dicontoh. Buktinya pembangunan menara ini lebih banyak menggunakan anggaran swadaya masyarakat. Saya berharap semangat gotong-royong ini terus berlanjut untuk menjaga situs-situs bersejarah di Soropaten,” kata Sri Mulyani.
Sering Jadi Tujuan Gowes
©Instagram/@wigpran
Masyarakat Klaten dan sekitarnya sering menjadikan Menara Baskoro sebagai tujuan gowes. Sesampainya di sana mereka biasanya berfoto selfie di depan bangunan itu.
Selain itu, dari atas Menara Baskoro pengunjung bisa melihat keindahan Gunung Merapi dan juga suasana Kota Klaten. Untuk bisa menikmati itu semua, pengunjung tidak dipungut biaya alias gratis.
Pertunjukan wayang kulit yang rutin digelar setiap malam Jumat legi menambah suasana di sekitar menara itu makin bergeliat.