LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JATENG

5 Fakta Unik Gedung Sobokartti, Saksi Kesetaraan Budaya Jawa dan Kolonial

Di Kota Semarang, tepatnya di Jl. Dr. Cipto, terdapat sebuah bangunan tua dengan arsitektur yang unik. Namanya Gedung Sobokartti. Gedung itu pula yang menjadi saksi sejarah pemberlakuan politik etis Belanda.

2022-01-20 15:01:00
Jateng
Advertisement

Di Kota Semarang, tepatnya di Jl. Dr. Cipto, terdapat sebuah bangunan tua dengan arsitektur yang unik. Namanya Gedung Sobokartti.

Gedung Sobokartti bukan bangunan biasa. Banyak kisah-kisah masa lalu di sana. Gedung itu pula yang menjadi saksi sejarah pemberlakuan politik etis Belanda.

Saat ini, bangunan ini masih berdiri kokoh dan berfungsi sebagai markas pergerakan hulu kebudayaan dan kesenian tradisi. Menurut Ketua Perkumpulan Seni Sobokartti, Tjahjono Rahardjo, bentuk bangunan itu sebenarnya tidak berubah sejak dulu.

Advertisement

“Kami tak ingin jadi pusat kebudayaan. Tapi, kami berperan sebagai hulu kebudayaan tradisi,” kata Tjahjono dikutip dari Liputan6.com.

Lantas seperti apa sejarah bangunan tua itu? berikut selengkapnya:

Advertisement

Gerakan Politik Etis di Semarang

©serat.id

Tjahjono mengatakan, pemberlakuan politik etis di Hindia Belanda waktu itu mendapat respons dari berbagai pihak, terutama aktivis pelajar. Di Yogyakarta, adanya kebijakan politik etis membuat kaum terpelajar memperjuangkan agar kebudayaan dan kesenian pribumi mendapat perhatian dan dipelajari secara serius.

Hal ini pula yang kemudian menular ke Kota Semarang. Maka berkumpullah Burgemeester Semarang Ir De Jonghe, Bupati Semarang RMAA Purbaningrat, GPH Kusumayuda dari Keraton Surakarta, pimpinan surat kabar ‘De Locomotive’ Mangkunegara VII, serta arsitek Hindia Belanda Thomas Karsten. Mereka kemudian sepakat untuk mendirikan perkumpulan bernama Sobokartti pada 9 Desember 1920.

“Nama Sobokartti dari Bahasa Jawa Kuno yaitu Sabha yang berarti tempat atau ruang pertemuan dan Kirti yang berarti perbuatan baik,” ucap Tjahjono.

Pembangunan Gedung Sobokartti

©Kemdikbud.go.id

Karena belum memiliki tempat sendiri, kegiatan anggota perkumpulan Sobokartti biasanya diadakan di Paseban Kabupaten Semarang dan di Stadstiun. Namun seiring waktu jumlah peminatnya bertambah banyak. Maka muncul ide untuk membangun sebuah gedung khusus untuk memfasilitasi kegiatan perkumpulan itu.

Berkat ide dari Mangkunegara VII dan rancangan dari Thomas Karsten, pada tahun 1930 sebuah gedung bernama Volkstheater Sobokartti selesai dibangun. Bentuk arsitektur itu tidak mengalami perubahan hingga kini.

“Terlihat betapa unik dan universalnya gedung ini. Masih ada lagi detail bangunan seperti lubang intip penari, loket pembayaran, yang bentuknya sangat khas,” kata Enggar Adibroto, juru bicara Sobokartti.

Simbol Kesetaraan Budaya Jawa dan Kolonial

©serat.id

Dilansir dari Liputan6.com, desain Gedung Sobokartti merupakan wujud dari idealisme antidiskriminasi yang dianut Karsten. Enggar menunjukkan, pada desain penataan tempat duduk, orang pribumi dan orang Belanda ditempatkan duduk bersama dan sejajar.

Selain itu desain arsitekturnya memadukan gaya arsitektur Jawa dan Eropa. Hal ini terlihat dari adanya tiang sokoguru sebagai penopang gedung utama. Namun desain panggung mengadopsi bangunan terater di Eropa. Dengan begitu, tidak ada kuda-kuda yang bisa mengganggu akustik dan mempengaruhi kualitas audio.

“Hebatnya gedung ini juga diproyeksikan sesuai perkembangna zaman. Misalnya bisa memutar film karena ada ruang proyektor. Saat itu, film belum seperti sekarang,” ungkap Enggar.

Saksi Perjuangan

Gedung Sobokartti juga terlibat dalam banyak peristiwa sejarah. Dari menjadi kantor Boedi Oetomo hingga menjadi markas pemuda dalam peristiwa 5 hari di Semarang. Kini, bangunan itu sudah menjadi cagar budaya. Namun roh utama dari keberadaan gedung itu adalah menjadi hulu, bukan pusat kebudayaan.

“Biar saja yang lain menjadi pusat. Kami konsisten menjadi hulu. Jangan heran kalau melihat banyak Tionghoa, Jerman, Arab, semua serius belajar seni Jawa. Karena kami menempatkan kesetaraan sebagai pandora,” kata Tjahjono.

Kegiatan di Gedung Sobokartti

©Kemdikbud.go.id

Sebagai bangunan cagar budaya, Gedung Sobokartti sering digunakan sebagai tempat kegiatan seni budaya seperti tari, karawitan, dan dalang. Sayangnya pada masa pandemi COVID-19 peserta yang hadir berkurang banyak. Padahal iuran dari peserta kegiatan menjadi salah satu sumber pendapatan untuk merawat gedung itu.

Selain itu, sumber pendapatan untuk merawat Gedung Sobokartti juga datang dari warga. Untungnya banyak warga yang peduli karena keberadaan gedung itu berada di tengah-tengah permukiman penduduk.

“Pemerintah tidak terlibat. Semua didanai sendiri, termasuk dana kebersihan, pemeliharaan, dan uang listrik,” kata Soetrisno, Ketua Perkumpulan Sobokartti, dikutip dari serat.id.

(mdk/shr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.