Usai direvitalisasi, Gedung OLVEH kembali eksis di Kota Tua
Penurunan banguan terjadi karena adanya peninggian permukaan jalan sebagai cara penanggulangan banjir di Kota Tua.
Beberapa pekerja mulai membongkar keramik putih yang berkualitas rendah serta menggali tanah urukan yang berada di lantai satu gedung yang dibiarkan kosong oleh pemiliknya yakni PT Jiwasraya. Bangunan ini tidak jauh dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij (BEOS) yang dikenal sebagai Stasiun Jakarta Kota sebuah bangunan tua simetris kini lahir kembali setelah tak digunakan sejak 1980an.
Sebuah perusahaan asuransi jiwa asal Belanda, Onderlinge Levensverzekering Van Eigen Hulp (OLVEH) siap eksis di Kawasan Kota Tua setelah direvitalisasi oleh Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC), Konsultan Bhirawa Architects dan Independent Research & Advisor Indonesia (IRAI) yang konservasinya telah dilakukan setahun terakhir.
"Pengerjaanya sendiri dari April hingga Desember 2015. Tapi ada perbaikan lagi hingga Maret," ujar Project Manager JORTC Anneke Prasyanti kepada merdeka.com, Kamis (24/3).
Perbaikan lanjutan sendiri terjadi karena adanya air yang keluar dari bawah lantai dan dinding gedung dikarenakan menurunnya bangunan. Menurut Arkeolog yang juga Tim Tim Ahli Cagar Budaya DKI Jakarta Candrian Attahiyat, penurunan banguan terjadi karena adanya peninggian permukaan jalan sebagai cara penanggulangan banjir di kawasan Kota Tua.
Candrian menjelaskan bahwa permukaan lantai bangunan-bangunan tua jalan Jembatan Baru umumnya berada 100 cm di bawah permukaan jalan yang sekarang, karena berbagai catatan sejarah menyebut bahwa kota Batavia sering terkena banjir dan penanganan bencananya cenderung dilakukan dengan peninggian permukaan jalan.
Sebuah mozaik, OLVEH van 1879 yang berada di depan gedung disebut-sebut sebagai temuan yang mengungkapkan secara jelas bahwa gedung OLVEH berada di bawah permukaan jalan. "Kayak bangunan kate terbenam setengah. Kita menggali satu meter lebih untuk menemukan lantai aslinya," kata Anneke.
Menjaga keaslian gedung agar tampak seperti tahun 1922 tahun di mana gedung OLVEH resmi dioperasikan, pihak JORTC selain melakukan pengerukan tanah juga membuat instalasi pipa baru untuk mengantisipasi apabila banjir melanda. Di lantai dua gedung, bata ekspos terlihat di berbagai sisi tembok. Bukan tanpa alasan, hal ini ternyata bukan untuk menghilangkan gambaran asli bangunan tetapi tetap menjaganya utuh. Masalah lembap air dan berjamur membuat dinding terpaksa dikerok.
"Kalau dicat lagi kemungkinan akan berlumut lagi karena masalahnya kapilaritas bata. Baik dari belakang, samping. Jadi solusi yang kita putuskan di hari ini dikupas semua," tambah Anneke.
Selain gedung OLVEH, JORTC juga memiliki proyek lain yang serupa. Terdapat 12 gedung yang ditangani di kawasan Kota Tua Jakarta antara lain Kantor Pos, Apotik Chung Hwa dan Blok Kerta Niaga. Gedung OLVEH sendiri merupakan project ke tiga. "Sebisa mungkin sih masih kita yang mengelola, dalam wacana masih mengundang pihak- pihak lain. Pengelolaan ke depan masih dibentuk belum ada wacana," tambahnya.(mdk/hhw)