Tak Boleh Asal Bicara Keluarga Pasien Ginjal Akut di RSCM
Suasana hangat terasa menyelimuti lantai basement 1 RSCM Kiara, Senin (24/10). Di tempat itu, para orang tua pasien gagal ginjal akut menunggu Balita kesayangannya dirawat.
Suasana hangat terasa menyelimuti lantai basement 1 RSCM Kiara, Senin (24/10). Di tempat itu, para orang tua pasien gagal ginjal akut menunggu Balita kesayangannya dirawat.
Mereka tampak akrab. Saling menguatkan satu sama lain. Enam orang tua duduk membentuk setengah lingkaran. Ruangan itu cuma beralaskan karpet pink.
Sesekali mereka bergurau, menghibur diri meski tak bisa menyembunyikan rasa cemas, khawatir tentang kondisi sang anak di ruang perawatan.
Namun, suasana hangat itu seketika hilang. Ketika merdeka.com masuk dan duduk di ruangan tersebut. Para orang tua langsung menoleh dan berhenti berbicara. Melihat orang asing datang. Mereka tahu bahwa kami bukan keluarga dari salah satu pasien.
"Dari mana? Sudah hubungi Satpam? Ke Satpam dahulu ya," sahut mereka bergantian.
Mereka juga langsung menutup pintu ruang tunggu tersebut. Tidak lama, salah satu petugas rumah sakit langsung menghampiri. Merdeka.com dibawa ke pos sekuriti. Setelah itu, diarahkan ke ruangan humas.
Seperti diketahui, RSCM tengah merawat sebanyak 49 anak yang menderita gagal ginjal akut progresif atipikal, terhitung dari Januari 2022. Pemerintah bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan RSCM pun membentuk tim untuk mengamati dan menyelidiki kasus gangguan ginjal akut pada anak dipicu zat berbahaya dari obat sirop.
merdeka.com sampai di ruang Humas RSCM. Terlihat beberapa media yang sedang bernegoisasi agar bisa mewawancarai keluarga pasien gagal ginjal akut. Kami sekadar ingin tahu, bagaimana kronologi anak-anak mereka bisa terkena penyakit berbahaya itu.
Namun, pihak RSCM tidak mengizinkan wartawan mewawancarai keluarga pasien gangguan ginjal. Sub Koordinator Humas RSCM Yani Astuti mengatakan, pihaknya tak mengizinkan untuk mewawancarai keluarga pasien apabila berada di lingkungan rumah sakit.
"Saya sudah sampaikan dari awal bahwa sesuai dengan arahan pimpinan kami tidak ada wawancara di dalam rumah sakit. Di luar rumah sakit, monggo silakan saja, tapi kalau masih di dalam rumah sakit berarti masih kewenangannya kita," kata Yani.
Meskipun demikian, RSCM tidak mengizinkan awak media untuk meminta langsung kontak keluarga pasien. Menurutnya, perlu ada izin dari RSCM yang disetujui oleh Direktur Utama (Dirut) RSCM Lies Dina Liastuti.
Yani juga mengatakan, keluarga pasien yang akan diwawancara setelah media mendapatkan izin adalah keluarga yang telah mengisi formulir dari pihak RSCM.
"(Ada) Form persetujuan publikasi. Betul, karena memang semuanya kami kan melindungi hak privasinya pasien dari keluarga ya. Jadi dia harus ada form-nya di kami. Kalau keluarga sudah menyetujui, dia (keluarga) harus tanda tangan dulu," ucapnya.
merdeka.com sempat bertemu dengan orang tua pasien. Mereka pun mengaku khawatir jika bicara ke media tanpa izin dari RSCM. Terlebih, saat ini anaknya sangat membutuhkan perawatan di rumah sakit pemerintah itu.
Penyebab Penyakit
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkap penyebab 241 anak Indonesia menderita gagal ginjal akut. Rupanya, itu disebabkan senyawa kimia berbahaya dari pelarut obat sirop.
Budi mengatakan, penyakit gagal ginjal anak awalnya masuk dari obat sirop yang dikonsumsi. Menurut dia, dalam setiap obat sirop digunakan pelarut tambahan.
"Ini adalah pelarut tambahan yang memang sangat jarang ditulis di senyawa aktif obat dan pelarut tambahan sebenarnya tidak berbahaya. Tapi kalau kualitas produksi pelarut tambahan buruk, dia menghasilkan cemaran cemaran," jelas Budi saat konferensi pers di Kemenkes, Jakarta, Jumat (21/10).
Cemaran tersebut yakni ethylene glycol (EG), diethylene glycol (DEG) danethylene glycol butyl ether (EGBE).
Budi mengatakan, tiga senyawa tersebut masuk ke tubuh dan terjadi proses metabolisme tubuh. Metabolisme tubuh yang alamiah itu mengubah senyawa tersebut menjadi asam oksalat, zat kmia berbahaya.
"Metabolisme mengubah jadi asam oksalat, nah ini berbahaya asam oksalat itu kalau masuk ke ginjal bisa jadi kalsium oksalat. Jadi kaya kristal kecil tajam. Sehingga kalau ada kristal kecil tajam di Balita kita ya rusak ginjalnya," kata Menkes.
Menkes mengungkap, pihaknya sempat menguji beberapa kali para Balita yang terkena gagal ginjal akut. Seperti pengujian patologi, namun rupanya gagal.
Hingga akhirnya, WHO menginformasikan bahwa penyebab gagal ginjal akut karena ada zat kimia berbahaya. Seperti yang terjadi di negara Gambia.
"Kalau ada logikanya kalsium oksalat masuk ke ginjal, ginjalnya rusak,”
"Meningalnya gara-gara ini," ujar Menkes lagi.
Sumber dari Obat Sirop
Kemenkes membuka daftar 102 obat sirop yang dilarang sementara. Obat tersebut diduga mengandung zat kimia berbahaya pemicu terjadinya gagal ginjal akut pada anak. Hal itu dilakukan atas perintah Presiden Joko Widodo (Jokowi).
"Setelah kita lihat obatnya ini, itu kami melapor ke presiden, presiden bilang, pak menkes dibuka saja biar tenang masyarakat. Kita lakukan transparansi ke publik, jadi kita buka," kata Menkes saat jumpa pers di kantornya, Jumat (21/10).
Menkes bercerita, dirinya sudah mengunjungi rumah 156 pasien yang terkena gagal ginjal. Hasilnya, memang ada obat-obatan dalam list tersebut yang digunakan oleh pasien.
Menkes menegaskan, larangan peredaran ini hanya sementara. Nantinya, jika produsen bisa membuktikan bahwa kandungan zat kimia berbahaya tersebut sudah sesuai aturan, maka obat tersebut boleh diperjualbelikan lagi.
"Kita lihat lagi siapa bisa membuktikan kadar impuritisnya di bawah ambang batas kita bolehkan," ujar dia.
Namun dia mengatakan, daftar obat yang dibuka tak seiring dengan produsennya pula. Karena khawatir akan membuat kegaduhan. "Tapi kita tutup nama produsen," ujar Menkes.
(mdk/rnd)