LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JAKARTA

'Sejak era Soeharto ketimpangan ekonomi di Jakarta luar biasa'

"DKI ternyata mengalami ketimpangan luar biasa," kata Ichsanuddin Noorsy.

2015-06-04 23:00:00
Jakarta
Advertisement

Pengamat Ekonomi Politik Ichsanuddin Noorsy‎ menyatakan ketimpangan sosial di DKI Jakarta merupakan imbas dari tidak meratanya pertumbuhan ekonomi era Suharto. Sebab, selama ini yang menikmati dana pembangunan hanya kalangan elite semata.
‎
"DKI ternyata mengalami ketimpangan luar biasa. Dari korelasinya menunjukkan bahwa ketimpangan terus berlanjut sejak Soeharto membangun Indonesia hingga hari ini. DKI jadi korban juga dari pertumbuhan ekonomi yang tidak merata," kata Ichsanuddin Noorsy‎ di Gelanggang Pemuda, Jakarta Timur, Kamis (4/6).
‎
‎‎Menurutnya, pembangunan yang dilakukan oleh Soeharto dengan paham developmentalisme, sebenarnya akan melahirkan ketimpangan. ‎

"Istilahnya waktu itu di era Soeharto ialah kita bikin dulu kuenya yang gede, setelah kuenya gede baru kita bagi-bagi. Nah, DKI dapat kue gede tapi ke bawahnya juga enggak netes dengan bener. Itu dalam teori namanya efek menetes nasional gagal, efek menetes di DKI juga gagal," ujarnya
‎
Di sisi lain menurut Noorsi, dari era Soeharto hingga hari ketimpangan ekonomi terus berjalan. ‎DKI memiliki tingkat ketimpangan rasio sekitar 0,4 sampai 0,35 persen.

"Nah, ketika BPS kemarin mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia 4,71 kuartal I. ‎Artinya itu tinggi. Mereka yang di atas itu menikmati. Jadi elite-elite politik termasuk juga elite-elite ulama, elite ekonomi, dan pejabat itu menikmati. Tapi masyarakat bawah gak menikmati," terang dia.
‎
‎Kata dia, melihat dampak ketimpangan itu bisa sederhana. Misalnya dari banyaknya masyarakat yang kesulitan mendapat perumahan, kesulitan biaya pendidikan, dan kesulitan biaya kesehatan.

"Kalau Anda saksikan kenapa orang berani ngantri panjang BPJS, itu kesulitan biaya kesehatan, itu ketimpangan. Begitu juga anda menyaksikan ketika Kantor Pos ramai kartu kesehatan, Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sejahtera itu ngantrinya panjang luar biasa. Gue enggak lihat jauh-jauh gue lihat aja di Mampang sama di Tebet," pungkasnya.‎(mdk/efd)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.