Reformasi birokrasi Anies-Sandi akan lebih objektif
Konsep itu menekankan penghargaan setinggi tingginya untuk yang berprestasi dan memberikan hukuman bahkan sampai pemetaan kepada siapa saja birokrasi bermasalah.
Calon Gubernur (Cagub) DKI Jakarta, Anies Baswedan, menawarkan reformasi birokrasi dengan pendekatan berbeda dari pemerintahan gubernur petahana. Menurut mantan Mendikbud ke-29 itu, dia akan mempertahankan konsep reward and punishment yang ada saat ini.
"Memang di mana-mana seluruh dunia memakai konsep rewards and punishment," kata Anies saat mengunjungi daerah Pesing, Jakarta Barat, Selasa (24/1) kemarin.
Konsep itu menekankan penghargaan setinggi tingginya untuk yang berprestasi dan memberikan hukuman bahkan sampai pemetaan kepada siapa saja birokrasi bermasalah. Untuk menjalankan itu nantinya Anies akan memberikan pendekatan berbeda pada konsep tersebut.
"Bukan sekadar reward and punishment, pendekatan kami akan lebih objektif," jelas Anies
Menurut Anies, jika caranya dilakukan secara objektif maka akan efektif memberikan pengaruh kepada kemajuan birokrasi dan pegawai. Namun pemimpin juga tak selalu saklek pada reward and punishment.
"Pemimpin juga harus memberikan contoh yang baik dan tak mempermalukan pejabat publik itu di depan umum," tambah Mantan Rektor Paramadina itu.
Jika konsep penilaian objektif ini dijalankan maka reformasi birokrasi di Jakarta akan menjadi lebih baik lagi.
Baca juga:
Anies-Sandi tak sabar ingin gelar syukuran kemenangan
Pilkada DKI Jakarta banyak 'omong, iming, emeng'
Anies soal LSI: Surveinya gonta-ganti terus tak usah ditanggapi
Penjelasan Sandi soal niat lepas saham Pemprov DKI di perusahaan bir
Gerindra: Pesta demokrasi harus jadi lebaran buat warga DKI