Parasetamol Cemari Teluk Jakarta, DPR Kritik Pengelolaan Limbah Farmasi Buruk
Politikus PKS ini mendorong pemerintah untuk mengatur tata kelola limbah farmasi dengan tegas. Khususnya pengelolaan limbah cari baik yang diproduksi rumah tangga maupun pabrik.
Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani menyoroti tingginya kadar parasetamol di Teluk Jakarta. Ia mengatakan, hal tersebut menunjukan pengelolaan limbah farmasi.
"Tingginya kadar parasetamol tentu berbahaya bagi kehidupan biota laut dan juga manusia yang mengonsumsi makanan dari laut. Kondisi ini menunjukkan cara pengelolaan limbah farmasi yang buruk dan tidak tertata dengan baik," ujar Netty kepada wartawan, Senin (4/10).
Pemerintah didesak memperhatikan masalah pengelolaan limbah farmasi harus menjadi perhatian pemerintah. Netty mengingatkan, konsumsi obat-obatan meningkat pada saat pandemi Covid-19 berdampak pada tingginya limbah farmasi.
Politikus PKS ini mendorong pemerintah untuk mengatur tata kelola limbah farmasi dengan tegas. Khususnya pengelolaan limbah cari baik yang diproduksi rumah tangga maupun pabrik.
"Sikap tegas diperlukan agar tidak berdampak buruk pada kerusakan lingkungan. Harus ada sanksi bagi rumah tangga, apartemen, industri dan lain-lain yang membuang limbah cair sembarangan," kata Netty.
Pemerintah harus menyiapkan sanksi serta melakukan edukasi kepada publik terkait pemakaian produk farmasi yang benar.
"Edukasi dan sanksi akan membuat masyarakat lebih bertanggungjawab soal pengelolaan limbah. Sisa obat yang tidak digunakan tidak boleh dibuang sembarangan," tuturnya.
Netty juga meminta pemerintah DKI segera melakukan investigasi penyebab tingginya kadar parasetamol di perairan Teluk Jakarta.
"Apakah ini akibat konsumsi masyarakat yang tinggi atau memang berasal dari industri atau rumah sakit yang sistem pengelolaan air limbahnya sembarangan. Tindak tegas apabila terjadi kelalaian agar menjadi pelajaran bagi yang lainnya tentang pentingnya menjaga lingkungan," katanya.
Baca juga:
Peneliti BRIN Sebut Limbah Paracetamol Ditemukan di Brebes, Tapi Tak Setinggi DKI
Limbah Medis di Jakarta Naik 200 Persen Sejak Juni 2021
Bisa Olah Limbah Masker Medis, Peneliti UGM Kembangkan Tempat Sampah Unik Ini
Wapres Ma'ruf Minta Insinerator Limbah Covid-19 Berstandar Nasional
Limbah Alat Suntik Berserakan di Bekasi Diduga dari Toko Hewan