MRT Lakukan Studi Lokasi Depo Fase II
Dia menjelaskan, wilayah Kampung Bandan tidak dijadikan depo karena permasalahan hukum soal lahan. Sedangkan Taman BMW yang diusulkan setelahnya, juga tidak memungkinkan untuk dibangun depo karena lahan yang dibutuhkan sedikitnya 12 hektare sedangkan luas lahan di sana sekitar 25 hektare.
PT MRT Jakarta masih melakukan studi untuk lokasi depo proyek fase II yang akan menuju ke arah Jakarta Utara, setelah hampir dipastikan depo di Kampung Bandan dan Taman BMW tidak akan terealisasi.
"Jadi trase atau jalur fase kedua akan menghubungkan Bundaran HI sampai Kota, tidak ke Kampung Bandan sesuai rencana awal. Sekarang sedang di studi mau dimana deponya, yang pasti harus di Utara," kata Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar seperti dilansir dari Antara, Selasa (15/1).
Dia menjelaskan, wilayah Kampung Bandan tidak dijadikan depo karena permasalahan hukum soal lahan. Sedangkan Taman BMW yang diusulkan setelahnya, juga tidak memungkinkan untuk dibangun depo karena lahan yang dibutuhkan sedikitnya 12 hektare sedangkan luas lahan di sana sekitar 25 hektare dan direncanakan akan dibangun Stadion BMW untuk Persija.
Hal itu juga diperkuat oleh Dirut PT Jakarta Propertindo (Jakpro) Dwi Wahyu yang menilai tidak mungkin membangun depo yang merupakan objek vital nasional bersanding dengan ruang publik seperti Stadion BMW.
"Kemungkinan di BMW hanya stasiun. Namun yang memutuskan lokasi deponya tetap pemerintah, kami hanya mengerjakan," jelas William.
Adapun untuk kontraktor pengerjaan proyek MRT fase II ini, dia mengungkapkan, belum diputuskan karena saat ini masih dalam tahap tender. Namun dia menyatakan kontraktornya akan berasal dari Jepang mengingat dana pengerjaan merupakan pinjaman dari JICA (Japan International Cooperation Agency) sebesar Rp 25 triliun.
"Kontraktor belum ada, tapi sudah mulai tender. Kontraktornya Jepang lagi pasti karena dananya dari Jepang. Biaya pembangunan sendiri fase dua sepanjang 8,3 kilometer dengan delapan stasiun perkiraannya sekitar Rp 22,5 triliun," ujarnya.
Pembangunan fase II yang lebih mahal dibanding fase pertama yang menghabiskan biaya Rp 16 triliun dengan panjang 16 kilometer, tambah William, dikarenakan tingkat kesulitan yang lebih tinggi.
"Itu karena di trase tersebut lewat bawah tanah semua, dengan kedalaman 20-30 meter di bawah tanah dan di bawah kali, lalu masuk ke Kota Tua banyak heritage, ke kawasan pantai jadi tingkat kesulitannya lebih tinggi secara teknis," tutupnya.
Baca juga:
Bank Mandiri Girang Saat LRT MRT Beroperasi, Transaksi E-money Meningkat
Pemerintah Buka Peluang Serahkan Pengelolaan Moda Transportasi Jabodetabek ke DKI
MRT Lebak Bulus-Bunderan HI Diperpanjang Hingga Tangerang
Presiden Jokowi: Kerugian Akibat Macet Jabodetabek Rp 65 Triliun per Tahun
Menengok Pusat Layanan Informasi MRT di Jakarta
Car Free Day di HI Dimeriahkan Tari Massal Sambut MRT Jakarta