Mengenali Kandungan dan Bahaya Limbah pada Air
Ada tiga upaya SPALD yang dilakukan Pemprov DKI yaitu membangun SPALD di skala pemukiman warga, memberikan subsidi revitalisasi tangki septik rumah tangga, dan merevitalisasi pengolahan air limbah domestik.
Sebagai daerah hilir, permasalahan air di Jakarta cukup kompleks. Tak hanya soal banjir, pengelolaan air limbah menjadi konsentrasi Pemprov DKI Jakarta agar sungai, waduk, tidak tercemar limbah berbahaya.
Mengutip dari informasi yang disampaikan Pemprov DKI melalui akun twitter resmi @DKIJakarta, upaya Pemprov DKI mengelola limbah air dirangkum dalam kebijakan sistem pengelolaan air limbah domestik (SPALD). Langkah ini merujuk kepada Pergub nomor 79 tahun 2021.
Ada tiga upaya SPALD yang dilakukan Pemprov DKI yaitu membangun SPALD di skala pemukiman warga, memberikan subsidi revitalisasi tangki septik rumah tangga, dan merevitalisasi pengolahan air limbah domestik.
Dalam penjelasan Pemprov DKI, pengolahan air limbah merupakan langkah penting untuk mencegah penyakit bawaan air akibat pencemaran air limbah domestik. Sebab, air limbah dipastikan banyak terkontaminasi zat tidak sehat yang akan mencemari dan merusak lingkungan, terlebih lagi siklus air berputar dan akan kembali ke masyarakat.
Contoh jenis limbah air dan bahayanya yaitu:
1. Minyak dan lemak dapat menghalangi masuknya sinar matahari dan menurunkan konsentrasi oksigen terlarut;
2. TSS menyebabkan air jadi keruh;
3. Amonia bersifat racun yang menimbulkan bau;
4. Total Coliform indikasi bakteri E-Coli penyebab penyakit diare keracunan dan infeksi pencernaan;
5. BOD dan COD indikasi adanya zat organik dan anorganik menimbulkan bau dan menurunkan oksigen terlarut;
6. PH yang tidak memenuhi baku mutu menyebabkan korasi (pengikisan tanah) keracunan dan kematian biota air.
Pencemaran air di laut Jakarta sebenarnya pernah diungkapkan oleh peneliti bernama Wulan Koagouw dan Zainal Arifin dari Pusat Penelitian Oceanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Mereka menemukan kandungan tinggi paracematol di Angke dan Ancol yang berada di kawasan Teluk Jakarta.
Temuannya, dua dari empat titik yang diteliti di Teluk Jakarta yakni di Angke terdeteksi memiliki kandungan paracetamol sebesar 610 nanogram per liter dan di Ancol mencapai 420 nanogram per liter.
Hasil penelitian tersebut masuk dalam publikasi LIPI yang diunggah pada 14 Juli 2021 melalui laman resminya lipi.go.id, terkait tingginya konsentrasi paracetamol di Teluk Jakarta, dengan judul High concentrations of paracetamol in effluent dominated waters of Jakarta Bay, Indonesia.
(mdk/fik)