Kronologi Penggusuran Sunter: Demo, Listrik Diputus, Alat Berat Datang
Hasan Basri, merasa sangat terpukul dengan keputusan Pemprov DKI yang menggusur tempat tinggalnya. Sudah tiga tahun, dia jadi warga Jalan Agung Perkasa 8, Sunter Jaya, Jakarta Utara.
Hasan Basri, merasa sangat terpukul dengan keputusan Pemprov DKI yang menggusur tempat tinggalnya. Sudah tiga tahun, dia jadi warga Jalan Agung Perkasa 8, Sunter Jaya, Jakarta Utara.
Dia bercerita, kabar penggusuran ia dapat melalui surat pemberitahuan satu bulan lalu. Dari surat itu, warga protes, melakukan aksi demonstrasi di Gedung Balai Kota, DKI Jakarta, tempat gubernur Anies Baswedan berkantor.
Demo tak didengar. 7 Hari setelah demo, aliran listrik di rumahnya langsung diputus.
"Listrik baru dipasang seminggu sudah diputus lagi," kata Hasan sambil memandangi rumahnya yang sudah rata dengan tanah, Senin (18/11).
Dia dan 60 pemilik rumah lainnya digusur demi proyek pengerukan kali yang dekat dengan tempat tinggal mereka.
Alat Berat Datang
Pada Kamis (14/11) pagi, personel gabungan dari Polri, TNI serta Satpol PP datang dengan membawa alat berat lalu menggusur rumah yang berada Jalan Agung Perkasa 8, Sunter Jaya.
Hasan mengatakan, saat hari penggusuran, beberapa pemilik rumah memutuskan untuk membongkar tempat tinggalnya sendiri. Tapi ada juga yang memilih bertahan, namun rumahnya terpaksa diratakan dengan tanah oleh alat berat.
"Kita sudah panik semua, awalnya ada bentrokan tapi nggak lama," kata Hasan Basri.
Semua Hilang
Hasan dan warga setempat lainnya mendirikan bangunan sederhana dari kayu bekas untuk hidup sementara.
Risma, korban gusuran lainnya tak tahu harus berbuat apa. Rumah yang dibangun di situ sudah rata dengan tanah.
"Kita mau tinggal dimana lagi, satu persatu semuanya hilang," tutup Risma.
Klarifikasi Wali Kota Jakut
Wali Kota Jakarta Utara, Sigit Widjatmoko menegaskan pembongkaran beberapa bangunan di Jalan Agung Perkasa VIII, Sunter Jaya, Tanjung Priok, Jakarta Utara atas sepengetahuan warga yang akan digusur. Tidak ada intimidasi ataupun kekerasan dalam proses sebelum ataupun saat proses pembongkaran.
Ia menambahkan, ada beberapa warga yang malah membongkar sendiri bangunan semi permanen yang difungsikan sebagai tempat menampung barang rongsok tersebut. Pihaknya hanya membantu.
"Jadi semua atas sepengetahuan warga, bahkan proses pembongkarannya kita hanya membantu, itu dilakukan sendiri oleh mereka," ujar Sigit usai rapat di Balai Kota, Jakarta Pusat, Senin (18/11).
Pemkot Jakarta Utara dikatakan Sigit bukan sekadar membongkar lapak-lapak rongsokan warga tanpa ada solusi seperti fasilitas rumah susun.
Rumah susun di Marunda, kata Sigit, telah disediakan Pemkot untuk menampung mereka terdampak penggusuran. Namun menurutnya, tidak ada warga yang mendaftar. Para warga justru kembali ke tempat tinggal masing-masing.
"Mereka pada umumnya kembali ke tempat tinggal, ada yang di Penggilingan, ada yang di daerah Kebon Bawang, ada yang ke Tanah Abang," ujarnya.
Sigit meyakini tidak ada warga yang mendaftar ke rumah susun karena sejatinya pemilik lapak rongsokan tersebut memiliki tempat tinggal. Lokasi rongsokan hanya sebagai tempat usaha.
Reporter Magang: Abyan Ghafara Andayarie
(mdk/rnd)