Ini 5 bukti proyek monorail mangkrak
Sejak diresmikan Jokowi pada Oktober 2013, kelanjutan proyek belum menunjukkan perkembangan signifikan.
PT Jakarta Monorail selaku pemenang tender proyek pengerjaan Jakarta Monorail kembali mengerjakan proyek kereta massal tersebut yang telah mangkrak sejak 2004. Setelah mangkrak hampir 9 tahun proyek pembangunan transportasi massal kembali dilanjutkan dengan peletakan batu pertama oleh Gubernur Joko Widodo disekitar kawasan Setia Budi Utara, tepatnya di sekitar Tugu 66, Kuningan Jakarta Selatan, pada 16 Oktober 2013. Pemandangan sama terlihat pada lubang tempat tiang pemancang tersebut nantinya dipasang. Lubang sekira memiliki diameter 2X2 meter persegi itu dibiarkan menganga tanpa adanya pembangunan lanjutan. Batu peletakan pertama sebagai tanda pembangunan proyek ini kembali berjalan dibiarkan menumpuk di setiap tempat. Entah untuk apa nantinya batu beton tersebut. Namun terlihat batu itu hanya dibiarkan menumpuk di tempat. Nampaknya pembangunan monorail ini memang tidak dijalankan serius. Selain saling lempar kesalahan antara Pemprov dan pihak pengelola proyek. Alat-alat yang digunakan untuk pembangunan proyek pun dibiarkan terbengkalai. Sama dengan bekas proses pembangunan tahap pertama proyek ini yang berantakan. Spanduk tanda pembangunan monorail pun terlihat semrawut. Tidak tertata rapi dan beberapa spanduk tulisan yang sudah pada rusak.
Namun sejak Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo meresmikan proyek pembangunan monorail pada 16 Oktober 2013 lalu, hingga saat ini pembangunan transportasi massal monorail belum ada perkembangan lanjutan.
Melihat proyek pembangunan transportasi massal yang membutuhkan dana sekitar Rp 17 triliun dengan panjang lintasan sekitar 30 kilometer yang berada di kawasan Setia Budi Utara, tepatnya di sekitar Tugu 66, Kuningan Jakarta Selatan, tergambar jelas proyek ini kembali jalan di tempat.
Berikut 5 bukti pembangunan monorail mangkrak:Tiang pancang monorail kembali terbengkalai
Namun hal ini berbeda dengan yang digembor-gemborkan sejak peletakan batu pertama tersebut. Tiang-tiang pemancang monorail yang masih berdiri kokoh di sekitar Jl Rasuna Said menjadi bukti bahwa proyek ini kembali mangkrak ditempat.
Di titik ini terlihat belum ada pemugaran yang dilakukan PT Jakarta Monorail selaku pihak yang menangani proyek ini. Padahal saat memenangi tender ini PT Jakarta Monorail mengatakan akan memulai fokus bangunan dari pemugaran tiang pemancang yang mangkrak sejak 2004.
"Ada sedikit perbedaan desain rel dan hitungan beban sehingga tiang yang sudah ada akan dikuatkan," kata Direktur Teknis PT Jakarta Monorail Rosa Bovananto kala itu.
Tetapi hingga saat ini tiang pemancang yang memiliki tinggi sekitar 5 meter itu masih berdiri kokoh tanpa adanya pemugaran.Lubang-lubang tempat tiang pancang dibiarkan menganga
Pantauan merdeka.com ke lokasi pembangunan proyek monorail yang berada di Jl Rasuna Said tepatnya di sekitar patung 66 dibiarkan menganga tanpa ditutupi alas penutup.
Saat hujan tiba penggalian lubang yang belum beres membuat lokasi ini terlihat kotor dengan tanah galian dari pembuatan lubang tiang pemancang ini dibiarkan menumpuk berantakan. Serta membuat lubang tersebut hanya penuh diisi oleh air hujan. Belum lagi sisa-sisa potongan besi yang dibiarkan berserakan di lokasi pembangunan.Batu peletakan pertama pembangunan dibiarkan menumpuk
Batu beton itu menumpuk tiga baris dengan dua batu yang menumpuk menjulang keatas. Hal menggambarkan kalau proyek transportasi massal itu memang berjalan di tempat.Alat proyek tergeletak
Seperti selang air terlihat mengular tak teratur sepanjang galian. Selang pipa itu terbangkalai tanpa didasari lapisan di atasnya.
Terlihat sebagian selang air tersebut sudah ada yang menyatu dengan bekas galian sisa tanah yang menumpuk. Namun tidak tertata rapi karena masih ada beberapa selang yang dibiarkan mengular keluar tanah.Spanduk peringatan pembangunan monorail terlihat semrawut
Spanduk yang memakan bahu jalan membuat jalur kendaraan yang melintas kawasan ini terlihat agak tersendat.
Pembangunan proyek monorail yang berada di Jl Rasuna Said untuk sementara dihentikan. Pembangunannya fokus ke daerah yang dianggap lebih banyak tingkat kesulitannya.
"Setahu saya dipindah dulu ke kawasan Dukuh Atas. Di sana kan berbatasan langsung dengan aliran Kali Krukut. Katanya kontur tanah yang yang basah jadi kendala, makanya di sana diduluin," kata pekerja proyek BKT yang enggan disebutkan namanya di lokasi, Selasa (18/2).
Dia mengatakan, dalam tahap pembangunan proyek hal pertama yang dilakukan biasanya proyek itu tertutup secara rapat. Sehingga nantinya tidak mengganggu aktivitas warga lainnya.
"Kalau dibangun bukan spanduk lagi. Biasanya langsung ditutupin seng," ujarnya malam itu.
Namun dengan mangkraknya pembangunan monorail ini menggambarkan ketidakseriusan untuk membangun transportasi massal itu di Ibukota.
Hal itu berbanding terbalik dengan tulisan yang ada di spanduk "Mohon maaf atas ketidaknyamanan anda. Kami sedang membangun monorel untuk Jakarta yang lebih maju."