Disdik DKI Tegaskan Belum Ada Laporan Klaster Covid-19 di Sekolah Sejak PTM
Dia mengaku terkejut dengan hasil survei dari Kemendikbud Ristek, bahwa 25 sekolah di Jakarta menjadi klaster penularan Covid-19. Untuk itu, Dinas Pendidikan akan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan untuk mengantisipasi klaster sekolah.
Kepala Bidang SMP-SMA Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Putoyo mengatakan, selama uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) periode April-Juni tidak ada laporan sekolah menjadi klaster penularan Covid-19. Uji coba PTM sempat dihentikan periode Juli-Agustus akibat terjadi lonjakan kasus positif Covid-19 varian Delta.
"Enggak ada, belum ada klaster di sekolah," katanya di Jakarta, Kamis (23/9).
Dia mengaku terkejut dengan hasil survei dari Kemendikbud Ristek, bahwa 25 sekolah di Jakarta menjadi klaster penularan Covid-19. Untuk itu, Dinas Pendidikan akan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan untuk mengantisipasi klaster sekolah.
"Iya belum tentu, kalau 1 kan belum tentu dari situ (sekolah) tapi kalau ada beberapa dan selalu jika ada kayak gitu kita langsung koordinasi dengan Dinkes melalui Puskesmas setempat dan langsung dikejar ke mana, karena memang sumbernya bisa jadi bukan dari PTM," jelasnya.
Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan, terdapat 610 sekolah di Jakarta menggelar uji coba tatap muka, dengan rincian;
1. Uji coba terbatas pembelajaran campuran tanggal 7 April 2021 : 85 sekolah
2. Uji coba tahap 1 pembelajaran campuran tanggal 9 Juni 2021 : 138 sekolah
3. PTM terbatas Agustus 2021 : 372 sekolah
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebelumnya pernah mengatakan sejak uji coba pembelajaran tatap muka di sekolah pada 30 Agustus 2021, belum ada laporan penularan kasus positif Covid-19. Dia berharap, selama uji coba PTM, tidak menimbulkan klaster penularan virus.
"Kita baru menjalani 10 hari, sejauh ini Alhamdullilah tidak ada kasus penularan yang terjadi. Tapi tentu kita pantau," ucap Anies usai meninjau pelaksanaan PTM di beberapa sekolah bersama Wakil Presiden Ma'ruf Amin, Rabu (8/9).
Anies sepakat dengan pernyataan Ma'ruf, bahwa selama PTM, sekolah turut aktif memantau kehadiran peserta didiknya. Dengan batasan maksimal 50 persen kapasitas, jangkauan sekolah untuk memantau kehadiran peserta didiknya dapat dilakukan dengan mudah.
"Bila ada anak dua hari berturut-turut tidak masuk sekolah maka sekolah harus mencari tahu apa yang terjadi pada anak itu. Bila ada kasus, mereka otomatis tidak masuk. Jadi jumlah siswa yang tidak terlalu banyak untuk ikut PTM itu 50 persen diharapkan memudahkan sekolah untuk memantau anak-anaknya," imbaunya.
Sebelumnya Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) melaporkan terdapat 25 sekolah di DKI Jakarta yang menjadi klaster penularan Covid-19 selama gelaran pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Hal itu terungkap dalam survei Kemendikbudristek terhadap sekolah yang menggelar PTM terbatas per Kamis, 23 September 2021.
Angka itu setara 2,77 persen dari 902 sekolah di Jakarta yang telah mengisi survei.
Kemendikbudristek mencatat ada 227 guru dan tenaga kependidikan serta 241 siswa yang terkonfirmasi positif Covid-19 selama PTM terbatas di DKI Jakarta.
Klaster paling banyak ditemukan pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), yakni sebanyak enam sekolah. Kemudian Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) lima sekolah, Sekolah Dasar (SD) dua sekolah, Sekolah Menengah Atas (SMA) empat sekolah, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) lima sekolah dan Sekolah Luar Bisa (SLB) dua sekolah.
Baca juga:
Disdik Kaget Disebut 25 Sekolah Jakarta Jadi Klaster Penularan Covid-19
25 Sekolah di Jakarta Jadi Klaster Penularan Covid-19
Ada Klaster Covid-19 dari Sekolah, Pemprov DKI Selidiki Potensi Penularan Virus
15 Ribu Siswa dari 1.303 Sekolah Positif Covid-19 selama Gelar PTM Terbatas
149 Sekolah di Jawa Barat Jadi Klaster Covid-19 Selama PTM Terbatas
Dua Guru SD di Tasik Terpapar Covid-19, Diketahui saat Ikut Seleksi PPPK
Muncul Klaster Covid-19 saat PTM di Jateng, Gibran Minta Random Testing di Sekolah