Denyut Kehidupan di Bawah Jalur Kereta Ibu Kota
Mereka berharap mendapat perlindungan. Bagaimanapun juga, warga miskin tetap berhak mendapat jaminan kehidupan. Tak jarang, keluar pernyataan satir dari hati mereka.
Ada denyut kehidupan di sana. Di antara suara gemuruh dari lintasan rel ganda kereta di kawasan Manggarai, Jakarta, Kamis (7/1). Persis di bawah jalur ganda kereta ibu kota, ruang hidup para tunawisma.
©2021 Merdeka.com/Iqbal Nugroho
Delapan keluarga menghuni kolong lintasan rel ganda yang baru rampung. Bisa dikatakan penghuni baru. Sebab, baru 3 bulan menetap di sana. Mendirikan bangunan sementara, berdinding triplek dan beralaskan kain bekas spanduk serta barang bekas.
©2021 Merdeka.com/Iqbal Nugroho
Kohar (63) salah satunya. Rokok kretek diisap dalam-dalam. Dia berbagi cerita. Kohar memilih tinggal di kolong rel setelah gubuk miliknya tergusur proyek jalur jalur kereta di dekat Stasiun Manggarai.
©2021 Merdeka.com/Iqbal Nugroho
"Setelah digusur saya ngontrak selama sebulan, karena tidak kuat bayar akhirnya saya pindah ke kolong ini," ungkap Kohar.
©2021 Merdeka.com/Iqbal Nugroho
Kohar merantau ke Jakarta sejak 1982. Awalnya menjadi kuli proyek. Dia berhenti seiring usianya semakin tua dan tubuh makin rentan di makan zaman. Sejak itu, dia sulit mendapat pekerjaan. Tak ada pilihan. Menjadi pemulung satu-satunya jalan bertahan hidup di ibu kota.
©2021 Merdeka.com/Iqbal Nugroho
Selain Kohar, Siti (45) juga baru beberapa bulan ini tinggal di sana. Bersama sang suami. Setelah diterjang badai Pandemi Covid-19, kehidupannya berubah drastis. Untuk membayar kontrakan saja tak mampu.
©2021 Merdeka.com/Iqbal Nugroho
"Dulu saya kerja di konveksi, tapi gara-gara Covid saya kena pengurangan dan menganggur sampai sekarang," jelas Siti.
©2021 Merdeka.com/Iqbal Nugroho
Kisah Kohar dan Siti mewakili segelintir warga marginal yang memilih tinggal di tempat tak lazim. Ketimpangan sosial yang semakin tinggi di Ibu Kota.
©2021 Merdeka.com/Iqbal Nugroho
Mereka berharap mendapat perlindungan. Bagaimanapun juga, warga miskin tetap berhak mendapat jaminan kehidupan. Tak jarang, keluar pernyataan satir dari hati mereka.
©2021 Merdeka.com/Iqbal Nugroho
"Kalau bisa yang diperhatikan jangan mereka yang di kawasan Sudirman saja, tapi masih banyak warga seperti kita ini di Jakarta," kata Kohar sambil berlalu menarik gerobaknya.
(mdk/noe)