Cara Komunitas Sisterhood Usir Jenuh Perempuan Pencari Suaka saat Pandemi
Kegiatan para pengungsi yang berada di Indonesia selama pandemi diisi dengan beragam kelas daring.
Pandemi Covid-19 yang tengah menjangkiti dunia termasuk Indonesia tak luput membuat para pencari suaka terdampak. Belum lagi mendapatkan kepastian dari UNHCR (Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi)terkait negara tujuan, kini mereka dihadapkan Pandemi Covid-19 yang membuat seluruh sektor kalang kabut.
Nimo, Manager Design and Evaluation dari Sisterhood mengatakan pihaknya membuat sejumlah program untuk menjaga 'kewarasan' para pencari suaka terutama kaum hawa menghadapi Pandemi.
Kegiatan para pengungsi yang berada di Indonesia selama pandemi diisi dengan beragam kelas daring.
"Ada lima kelas kami buka untuk mengisi kegiatan mereka khususnya wanita agar tetap di rumah saja, seperti kelas bahasa inggris, kelas menjahit, klub buku akhir pekan, kelas daring aerobic, dan kelas membuat manik-manik," tutur Nimo dalam diskusi via video conference oleh LBH Jakarta, Jumat (19/6).
Nimo melanjutkan, motivasinya dari giat komunitas Sisterhood ini selain untuk menjaga mereka betah di rumah, juga untuk memberi dukungan kepada para kelompok wanita pengungsi dari beban hidup mereka yang berat.
"Kami sadar selama lockdown ini berdampak pada mereka, mulai dari keuangan juga mental yang depresi dan lingkungan sekitar," jelas Nimo.
Donasi dari Pengungsi ke Pengungsi
Terdampak secara finansial membuat Nimo membuat gerakan donasi dari pengungsi ke pengungsi.
Menurut dia, hal tersebut cukup berat namun antar pengungsi dengan latar negara berbeda saling membantu.
"Selama pandemi ini distribusi sangat sulit, menantang karena makanan dan peralatan yang hygine selalu tidak mencukupi memenuhi kebutuhan harian, tapi dengan hubungan yang baik kita bisa lalui bersama," tutur Nimo.
Nimo berpesan, menjadi pengungsi bukanlah keinginan mereka. Kendati keadaan di negara mereka yang memaksakan hal tersebut.
"Kita butuh cinta dan kepedulian untuk menyembuhkan trauma mereka, kita dukung mereka untuk terus tetap hidup tanpa diskriminasi," Nimo menandasi.
Reporter: Muhammad Radityo
Sumber : Liputan6.com