Anies Dinilai Sudah Jawab Kritik Gubernur Suka Berkata-kata dan Siap Maju Pilpres
Usep mengaku, narasi kata-kata dibanding karya-karya mencuat lantaran selama ini Anies kerap mendapat serangan kritik sebagai Gubernur hanya pandai berkata. Sementara tidak dalam bekerja.
Pengamat politik dari Populi Center, Usep M Achyar menilai pernyataan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada acara talk show PAN di Bali, merupakan jawaban terhadap segala kritik. Adanya kritik tersebut memperkuat Anies siap untuk maju dalam kontestasi Pilpres 2024.
Usep mengaku, narasi kata-kata dibanding karya-karya mencuat lantaran selama ini Anies kerap mendapat serangan kritik sebagai Gubernur hanya pandai berkata. Sementara tidak dalam bekerja.
"Itu sebenarnya mengkritik Mas Anies bahwa beliau tidak bisa kerja, kemudian ini direspons sama Pak Anies bahwa kata-kata juga perlu sebelum kerja," ucap Usep kepada merdeka.com, Kamis (7/10).
Disinggung apakah pernyataan Anies sebagai bentuk sindiran terhadap pihak yang kerap mengutamakan karya dibandingkan gagasan dari hasil karya tersebut, Usep menjawab hal itu sangat mungkin terjadi.
Pendapat Usep, bahwa selama menyampaikan agar tidak meremehkan kata-kata, Anies tengah mengkritik kondisi saat ini yang cenderung aktivisme. Padahal, imbuhnya, secara ideal diharapkan seorang pejabat publik dapat memiliki porsi kata dan aksi yang sesuai.
"Jadi memang kata-kata Pak Anies memang kritik ilmu pengetahuan selama ini sebenarnya yang hanya aktivisme. Memang ada orang yang pintar di konsep ada yang tidak bisa bekerja, ada yang pintar kerja tETApi tidak cakap di konsep," pungkasnya.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memaparkan sejumlah terobosan yang dilakukan selama menjadi orang nomor satu di ibu kota. Mulai dari pembangunan, transportasi hingga penanganan Covid-19.
Hal tersebut diungkap Anies dalam acara Workshop Nasional PAN yang digelar di Bali. Dalam paparannya, Anies juga menyinggung soal gaya kepemimpinan di Indonesia.
Anies bercerita tentang gagasan dalam sebuah pengambilan kebijakan. Menurut dia, seorang pemimpin tak bisa hanya memikirkan karya saja tapi tanpa adanya gagasan.
Anies merumuskan pengambilan kebijakan yang dilakukan di Jakarta dalam tiga hal. Yakni gagas, narasi dan karya.
Anies mengatakan, apabila tidak ada gagasan dan narasi, karya tidak memiliki makna. Dia pun menyesalkan sejumlah pihak yang mempersoalkan kata-kata. Sebab, gagasan memang dalam bentuk kata-kata. Menurut dia, jika tak ada kata-kata, maka tidak ada kitab suci.
"Tetapi di balik kata-kata ada pesan ada gagasan, munculkan narasinya, baru karya. Kami di Jakarta pegang itu, gagasan, narasi, karya. Jangan sampai karya, karya, karya, karya, tetapi tidak ada gagasannya," jelas Anies.
Baca juga:
Demokrat: Pejabat Publik Harus Siap Terima Masukan, Tak Boleh Emosional
Anies Pastikan Pengelolaan Kampung Susun Cakung Diserahkan ke Warga
Anies Resmikan Pembangunan Kampung Cakung untuk Warga Bukit Duri Korban Gusuran
PKS Setuju dengan Anies: Pejabat Harus Menerima Kritik, Dilarang Baper
Anies Sebut Kegiatan Vaksinasi Buat Pencari Suaka Merupakan Tugas Kemanusiaan
PDIP Curiga Nilai Commitment Fee Formula E Tak Semahal yang Disampaikan Pemprov DKI