Ahok vs DPRD DKI, rakyat lama-lama capek
Apalagi anggota DPRD DKI lebih mementingkan urusan pribadi dan kelompoknya.
Direktur Lingkar Madani Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti menilai kisruh DPRD DKI dan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terjadi akibat partai politik tidak menjadi corong aspirasi rakyat. Apalagi anggota DPRD DKI lebih mementingkan urusan pribadi dan kelompoknya.
"Parpol yang wujudnya DPRD tidak berfungsi, misalnya DPRD lebih cepat berproses melakukan angket pada Ahok daripada menyelamatkan dana Rp 12,1 triliun," kata Ray Rangkuti di Resto D'Consulate Jakarta, Kamis (12/3).
Menurutnya, masyarakat akan muak dengan drama di DPRD DKI yang membohongi nalar sehat terkait dana siluman. Warga Jakarta bakal lebih mendukung Ahok yang berusaha menyelamatkan uang rakyat.
"Rakyat lama-lama capek, koruptor terus dimaafkan. Siapa pun kepala daerah yang mengusung akuntabilitas dan transparansi akan didukung beramai-ramai sekali pun ditimpa berbagai isu," terang dia.
Lanjut dia, gaya Ahok yang dianggap temperamental itu hanya serangan lawan politiknya. Isu itu diembuskan karena tidak ada celah untuk menjatuhkan Ahok.
"Gaya-gaya Ahok itu biasa-biasa saja, ketika berbicara dengan notasi tinggi itu gaya bukan pemarah. Ini dianggap bahasa arogan karena tidak ada lagi bahan untuk menyerang Ahok," pungkas dia.
Baca juga:
Ahok pastikan e-budgeting aman dari kebocoran
Ahok soal Gagat: Dia dikontrak sebagai tenaga ahli e-budgeting
Survei Cyrus: Citra Ahok arogan 17,5%, DPRD DKI korupsi 10,2%
Soal dana siluman di APBD DKI, Ahok dinilai sasar kelompok tertentu
Forum Pemuda Betawi: Ahok enggak punya etika komunikasi, lengserkan!
Survei: 63,4 % warga Jakarta lebih percaya Ahok ketimbang DPRD DKI
Ahok: DPRD DKI gak perlu lagi bangun-bangun opini di televisi