Ahok pilih bayar pemulung untuk bersihkan Jakarta
"Cari aja pemulung yang lewat jalan itu, tinggal kasih uang yang mau anda ambil, ambil buat jual," kata Ahok.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama ( Ahok ) lebih memilih pemulung untuk membersihkan sampah di pinggiran jalan atau di sungai-sungai. Sebab kejelasan teknis kerja petugas kebersihan belum memiliki standar.
"Cari aja pemulung yang lewat jalan itu, tinggal kasih uang yang mau anda ambil, ambil buat jual. Kalau tidak, taruh di karung nanti dijemput. Sederhana," ujar Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (18/2).
Ahok mengatakan, seharusnya kita belajar dari Belanda mengenai pengelolaan sampah. Jika pemulung belum dapat bekerja selama delapan jam, maka harus dibuat sistem agar mereka bekerja demikian. Pemprov DKI ingin membayar mereka sesuai dengan upah minimum provinsi (UMP).
"Banyak laporan pemulung-pemulung, dia hanya dibayar tidak UMP. Padahal kita sudah UMP. Katanya karena pemulungnya baru sejam dua jam kerja, kalau gitu kamu (dinas kebersihan) atur dong. Kalau memang harus kerja delapan jam, ya tanggung jawab. Belanda aja gitu dulu," terang mantan Bupati Belitung Timur ini.
Ia menambahkan, alasan utama memilih pemulung ketimbang swasta karena sampai saat ini perjanjian kerja sama (PKS) antara Pemprov DKI Jakarta dan swasta masih berbasis volume. Sehingga ketika ada pelonjakan volume sampah tidak akan diangkat. Dan ini, Ahok menilai, membuat Pemprov DKI Jakarta harus mengerjakannya dua kali.
"Masak kalau ada sampah di depan saya terus pekerja swastanya cuman laporan kalau itu kotor. Tapi saya harus cari pekerja lain untuk bersihkan. Itukan aneh," ujarnya.
Baca juga:
Warga Tanjung Duren ancam bacok pembuang sampah di lokasi ini
Truk sampah ditolak DPRD, warga Jakarta galang koin
Aksi solidaritas koin untuk truk sampah di Bundaran HI
Pendukung Jokowi galang koin untuk truk sampah di Bundaran HI
Ahok pertanyakan kinerja pengelola TPA Bantargebang