4 Suara lantang Ahok hadapi warga di bantaran sungai
Untuk mengatasi banjir, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tak mau kompromi lagi.
Dalam dua pekan ini Jakarta dilanda banjir hebat. Jalanan protokol dan rumah terendam banjir. Akibatnya aktivitas lumpuh.
Kerugian akibat banjir di ibu kota mencapai puluhan triliun rupiah. Transportasi macet dan pertokoan banyak yang tutup.
Banjir tahunan ini membuat Pemprov DKI pusing. Untuk mengatasi banjir, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tak mau kompromi lagi.
Rumah-rumah di bantaran sungai akan digusur. Menurutnya, rumah-rumah itu menghambat proses normalisasi kali-kali besar di Jakarta.
Ahok akan bersikap tegas pada warga yang tinggal di bantaran sungai. Ini sikap Ahok:
Robohkan semua rumah di bantaran sungai
Tahun ini Ahok bertekad akan menggusur seluruh rumah di bantaran sungai. Baik itu di Ciliwung atau kali-kali besar lainnya.
"Tadi saya lihat rumah-rumah liar. Tidak mau tahu saya, perintahkan untuk robohkan rumahnya. Roboh juga tak apa, karena sudah di tinggal pemiliknya juga," kata Ahok.
Perobohan rumah yang berada di bantaran sungai akan segera dilakukan karena sudah ditinggalkan penghuninya. Dengan demikian, tidak ada penolakan dari warga.
"Karena harta yang paling berharga pasti sudah dibawa dia dong. Kalau ada harta berharga ditinggalkan, sudah pasti rusak karena banjir. Berarti sudah aman, kita keruk saja tidak ada pilihan," tutupnya.
Ahok menantang jangan pilih lagi jika gagal
Ahok bersuara lantang soal penanganan banjir di Jakarta. Jika ia gagal dalam menangani banjir di Jakarta, ia meminta warga DKI untuk tidak memilihnya lagi pada pemilihan gubernur periode mendatang.
"Kalau kami gagal ya orang jangan pilih lagi. Pilih lagi orang yang bisa menjanjikan yang diyakini bisa menyelesaikan masalah banjir dan macet, gitu aja sebetulnya," kata Ahok di Balai Kota Jakarta, Rabu (29/1).
Untuk mengatasi masalah akut itu, tidak bisa diselesaikan dengan sekejap. Banjir dan macet penyelesaiannya membutuhkan waktu lama.
Topik Pilihan: Kemacetan Jakarta | Relokasi Warga Waduk Pluit
Ahok: Ajari kami sikat rumah di bantaran sungai
Ahok kesal lantaran ketika mau merelokasi warga sering mendapat penolakan dan kritikan. Padahal maksud hati baik agar warga tak lagi kebanjiran karena tinggal di bantaran sungai.
"Makanya sekarang saya bilang, orang yang mau ajarin kami, tolong ajarin kami deh untuk kami sikat itu rumah-rumah (di bantaran sungai) agar bisa masuk alat berat biar bisa kerja," kata Ahok.
Ditambah kesadaran masyarakat membuang sampah pada tempatnya masih rendah. Warga kerap kali membuang sampah ke sungai sehingga sampah menumpuk dan menyebabkan banjir.
"Semua sampah apa saja ada, kayu macem-macem. Kita kerja, yang namanya kabel Telkom, kabel listrik, bergelantungan semua. Di bawah jembatan orang pada tinggal di sana. Semua pinggirnya sungai juga rumah rumah liar semua. Kita kerja habis-habisan," ujarnya.
Topik Pilihan: Ahok | Relokasi Warga Waduk Pluit
Banjir rugikan semua orang
Karena sulit menormalisasi kali, Ahok menuding permukiman liar di bantaran sungai sebagai penyebabnya. Sebab, alat berat sulit masuk ke lokasi karena terhalang rumah-rumah warga.
"Rakyat juga merasa rugi kalau ada banjir, sama kayak macet, makanya itu kenapa kami (Ahok dan Jokowi) diminta ke Jakarta untuk menyelesaikan itu. Di mana sudah puluhan tahun tidak pernah selesai kan itu intinya," kata Ahok.
Ahok tak mau banjir tiap tahun terus terulang. Apalagi dampak banjir sangat luar biasa.
Baca juga:
Depok siaga I, Jakarta kembali banjir pagi ini
Marzuki: Penanganan banjir jangan hanya wacana
'Pak Jokowi, mikirin banjir dulu, jangan mikirin presiden'
Kemesraan di tengah banjir
Ahok: bikin waduk baru itu sebagai tambahan, bos!