Uniknya Tradisi Ngawuwuh di Garut, Minum Empat Jenis Rempah untuk Ajarkan Kebaikan
Ngawuwuh menjadi salah satu kearifan lokal asli Kabupaten Garut, Jawa Barat yang hingga kini masih terus dilestarikan. Tradisi ini berupa kegiatan meminum rempah bersama, dengan mengutamakan empat jenis bahan yang berasal dari alam.
Ngawuwuh menjadi salah satu kearifan lokal asli Kabupaten Garut, Jawa Barat yang hingga kini masih terus dilestarikan. Tradisi ini berupa kegiatan meminum rempah bersama, dengan mengutamakan empat jenis bahan yang berasal dari alam.
Ngawuwuh sejatinya sudah berlangsung sejak zaman dahulu. Saat itu para ulama memanfaatkan sumber alam sekitar untuk menyampaikan ajaran baik dari agama Islam. Pelajaran kebaikan tersebut diilhami dari Al Qur’an dan dijadikan sebagai medium pengenalan agama baru di wilayah Kabupaten Garut.
Saat ini, tradisi meminum rempah bersama-sama ini masih terus dinantikan sebagai sebuah acara rutin yang digelar khusus oleh warga di Kampung Mulakeundeu, Desa Sukalaksana, Kecamatan Sucinaraja. Berikut ulasan selengkapnya.
Bentuk Rasa Syukur akan Rezeki dan Kemakmuran Kampung
©2023 Kemdikbud/Merdeka.com
Mengutip laman Kemdikbud, Jumat (3/3), tradisi Ngawuwuh dekat dengan kalangan para petinggi kerajaan serta ulama di masa lampau. Mulanya tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur akan kemakmuran di kampung seperti banyaknya hasil panen yang digelar oleh warga serta tokoh adat.
Namun, di samping sebagai media ungkapan terima kasih kepada Sang Hyang Widhi, para ulama dan kerajaan di Garut sempat mengadopsinya sebagai media dakwah dan pengenalan ajaran Islam. Dikatakan juga jika tradisi meminum rempah ini tertuang dalam Al Qur’an yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW saat masih hidup.
Terdiri dari Empat Jenis Hasil Bumi
Dalam laman smilingwestjava, disebutkan bahwa ngawuwuh merupakan kegiatan meminum rempah-rempah asli Indonesia dengan empat hasil bumi yakni kelapa, jahe, gula merah, dan batang sereh.
Semua bahan tersebut dicampur dan kemudian diolah agar jadi sebuah wedang atau minuman hangat. Proses pembuatan minuman ini dimulai dengan memasukkan jahe, gula merah, dan kelapa yang didiamkan sampai mengeluarkan warna merah. Setelah semuanya mengeluarkan aroma, bisa segera dituang ke gelas untuk diaduk.
Menariknya, pengadukan bahan minuman sehat itu tidak menggunakan sendok atau kayu, melainkan memakai batang sereh utuh. Sebelumnya batang tersebut telah dibakar hingga mengeluarkan aroma khasnya.
Pengadukan menggunakan batang sereh juga tidak dilakukan sembarangan, melainkan harus dilakukan sebanyak 17 kali agar campurannya merata.
Ajarkan Manusia agar Bermanfaat bagi Sesama
Tradisi ini juga sarat akan nilai kesederhanaan yang bisa dilihat dari bahan empat hasil bumi yang menjadi campuran minuman di tradisi Ngawuwuh. Jahe digambarkan sebagai rempah yang tetap merendah di dalam tanah walau punya manfaat menyehatkan bagi tubuh.
Lalu kelapa yang memiliki banyak kegunaan, mulai dari daun sampai akarnya yang mengajarkan agar manusia harus bisa jadi sosok yang bermanfaat bagi sesama dan alam. Pohonnya yang kokoh dan tegap berdiri mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi cuaca yang juga harus diikuti oleh manusia untuk dapat mengikuti alur dan peraturan baik di kehidupan.
Kemudian gula dengan rasa manisnya diharapkan bisa ditularkan ke manusia agar menebar kebaikan tanpa berharap imbalan apapun. Gula merah juga menjadi sumber energi yang bagus bagi tubuh untuk memulai aktivitas sehari-hari, sehingga bisa menghantarkan tenaga dan jadi andalan untuk menjalankan roda kehidupan.
Lalu batang sereh yang digunakan untuk mengaduk wuwuh tadi agar menginspirasi bahwa dalam kehidupan yang sehat, dibutuhkan sebuah pelengkap yang wangi dan harum seperti sereh. Maksud harus di sini adalah berupaya tidak menyulitkan orang lain dan selalui menebar hal-hal positif sehingga disukai banyak kalangan.
Jadi Ajang Silaturahmi
Dalam tradisi ngawuwuh, terdapat aspek sosial yang didapat. Seluruh warga yang mengikuti kegiatan ini dimungkinkan untuk berkumpul di satu tempat untuk menikmatinya. Di sini, unsur silaturahmi akan jelas tampak sehingga menambah tali persaudaraan.
Ini ditinjau dari artinya secara bahasa, di mana Ngawuwuh berarti ‘ngaitkeun kawawuh’ atau merajut interaksi, perkenalan, dan silaturahmi. Wawuh biasanya memiliki makna kenal secara dekat.
Kuatnya makna sosial ini yang kemudian menjadikan Ngawuwuh ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) tahun 2023 oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Dikutip dari ANTARA, Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut Tita Puspitasari mengatakan bahwa penetapan Ngawuwuh menjadi WBTB juga berbarengan dengan kearifan lokal Sunda lainnya yakni camilan Burayot dan Dodol Garut.
"Tindak lanjut setelah penetapan maka menjadi WBTB nasional yang dilindungi, dilestarikan, dikembangkan," katanya, Kamis (2/3)
Selanjutnya, penetapan ini akan ditindaklanjuti sehingga status warisan budayanya akan setingkat lebih tinggi yakni di ranah nasional.