LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JABAR

Unik, Kampung di Tasik Pasang 500 Kincir Angin untuk Kenalkan Permainan Tradisional

Untuk mengenalkan permainan tradisional yang kian langka, Masyarakat Desa Cisayong melakukan gotong royong dengan membangun Kampung Kolecer. Fungsi lainnya adalah untuk mengusir hama dan membangun semangat perekonomian dari masyarakat sekitar.

2020-07-19 16:01:00
Jabar
Advertisement

Banyak cara unik yang bisa dilakukan untuk mengenalkan permainan tradisional di masa sekarang. Seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Cisayong (Pemdes), Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, yang belum lama ini membuat 500 Kolecer (kincir angin) di area persawahan warga.

Upaya yang terbilang unik tersebut dilakukan untuk mengenalkan permainan anak-anak yang hampir punah. Kolecer atau kincir angin sendiri merupakan permainan yang dibuat menggunakan bambu, dengan dua sisi baling-baling yang akan memutar jika tertiup angin.

Barisan kolecer dengan berbagai variasi warna tersebut, juga dihadirkan sebagai penghias kawasan desa agar terlihat berwarna dan hidup, seperti dikutip dari laman Antara

Advertisement

Kreasi Warga Desa

Facebook Pemdes Desa Cisayong ©2020 Merdeka.com

Advertisement

Yaya Sonjaya selaku tim kreator mengungkapkan, saat ini banyak permainan moderen yang menggeser keberadaan kolecer. Salah satu upaya agar permainan yang mengandalkan tiupan angin tersebut tetap menarik minat masyarakat adalah dengan memajangnya di sekitar pedesaan setempat.

Ia menambahkan jika 500 kolecer tersebut merupakan kreasi dari 39 RT di Desa Cisayong, menurutnya warga di sana berinisiatif membuat 10 jenis kolecer dengan dua variasi. Pertama kolecer original (tanpa warna) dan yang kedua berwarna.

“Ini kegiatan kolecer di kampung kolecer, mau mengenalkan ke masyarakat sekarang. Anak zaman sekarang, zaman dulu seperti apa. Biar pada tau kalo ini jadi hiburan (permainan) masyarakat sunda. Dari nenek moyangnya sudah ada, makanya jangan dilupain” katanya via Humas Pemdes Cisayong.

Untuk Mengusir Hama

Selain difungsikan sebagai pengenalan kembali permainan tradisional, pembangunan kampung kolecer di sana dengan tinggi masing-masing 5 hingga 7 meter tersebut juga difungsikan sebagai media pengusir hama persawahan warga.

Menurut Egi Supriadi, selaku penggagas Kampung Kolecer menjelaskan jika hama pemakan padi seperti burung, akan takut untuk mendekat ke area persawahan ketika melihat aktivitas perputaran kolecer yang juga menimbulkan suara tersebut. Biasanya para burung akan memakan bulir padi yang siap dipanen saat menguning. 

"Pada zaman dahulu kolecer difungsikan sebagai permainan yang biasa digunakan oleh para petani dalam melepas penat setelah bercocok tanam, selain itu kolecer juga bermanfaat untuk mengusir hama burung di sawah warga" tambahnya.

Menghidupkan Perekonomian Warga

Facebook Pemdes Desa Cisayong ©2020 Merdeka.com

Egi juga mengungkapkan jika pendirian kampung kolecer tersebut secara tidak langsung ikut membangun perekonomian warga setempat. Menurutnya semenjak viral di Media Sosial, masyarakat setempat banyak membuka usaha kecil-kecilan di sekitar lokasi.

Ia juga menambahkan para pengunjung yang datang tidak hanya dari wilayah sekitar, melainkan warga Manonjaya, Cineam, Rajapolah hingga Ciawi juga selalu berkunjung ke sana, Mereka datang untuk menikmati pesona wisata kampung kincir angin (kolecer), saat siang hingga sore hari.

"Banyaknya pengunjunng itu berimbas pada peningkatan ekonomi masyarakat. Dimana masyarakat kampung Wangun banyak yang membuka warung kecil-kecilan," ungkap Egi.

Mengandung Filosofi Khusus

Facebook Pemdes Desa Cisayong ©2020 Merdeka.com

Sementara itu Kepada Desa Cisayong, Yudi Cahyudin mengungkapkan jika kolecer memiliki arti yang kuat bagi masyarakat di Cisayong.

Dalam fungsinya, kolecer terus berputar yang ia gambarkan layaknya kreativitas serta semangat ke gotong royongan warga setempat untuk memajukan desanya.

Sehingga kolecer sebagai penggambaran masyarakat yang kreatif dan inovatif bisa terus menginspirasi siapapun agar terus berkontribusi dalam membangun wilayahnya.

"Kolecer mengandung sebuah filosofis dimana didalamnya ada sebuah putaran baling-baling dari bambu dimana dalam arti putaran tersebut otak kita dituntut untuk terus berfikir memikirkan sebuah perputaran, sebuah kemajuan desa yang lebih baik melalui semangat kreativitas dan kegotong royongan" kata Yudi.

(mdk/nrd)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.