LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JABAR

Terbengkalai dan Dianggap Mistis, Ini 5 Fakta Terowongan Wilhelmina di Pangandaran

Terowongan Wilhelmina saat ini masih memiliki daya tarik karena bernilai sejarah dan kesan mistis yang kuat. Berikut 5 fakta menarik seputar terowongan tersebut.

2022-12-07 12:08:00
Jabar
Advertisement

Terowongan Wilhelmina menjadi ikon di Desa Pamotan, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Lokasi ini sempat berjasa membantu lalu lintas kereta api untuk membelah perbukitan di masa lalu. Kini kondisinya tampak terbengkalai, dan kerap dianggap mistis.

Seperti terlihat, kondisi mulut terowongan banyak ditumbuhi rumput dan semak belukar, sehingga tidak mudah dilewati. Tampilan bangunan pun tampak kusam, khas bangunan peninggalan Belanda.

Namun, Terowongan Wilhelmina saat ini masih memiliki daya tarik karena bernilai sejarah dan kesan mistis yang kuat. Berikut 5 fakta menarik seputar terowongan tersebut.

Advertisement

Nama Terowongan Diambil dari Nama Ratu di Belanda

Terowongan Wilhelmina  ©2022 Dokumentasi Kemdikbud/Merdeka.com

Advertisement

Serupa dengan bangunan peninggalan kolonial lainnya, terowongan ini memiliki nama Belanda yang diberikan oleh para pendirinya. Menurut laman Kebudayaan Kemdikbud yang dirujuk Rabu (7/12), nama Wilhelmina diambil dari seorang ratu yang berkuasa di Kerajaan Belanda bernama Wilhelmina Helena Pauline Maria.

Menurut sumber tersebut, ratu ini sempat memerintah antara tahun 1890-1948. Saat berkuasa, Wilhemina membawa pengaruh luar biasa bagi Kerajaan Belanda, terutama saat perang dunia dan krisis ekonomi.

Yang menarik, Ratu Wilhelmina juga menerapkan politik etis alias balas budi, termasuk di Hindia Belanda (Indonesia). Hal ini yang kemudian mendukung kemajuan sumber daya manusia, termasuk masifnya pembangunan dan fasilitas publik.

Dibangun Tahun 1914 untuk Memudahkan Transportasi Kereta

Inisiasi pembangunan terowongan sendiri dimulai saat Staatsspoorwegen (Nederlandsch-Indische Staatsspoorwegen) atau perusahaan kereta api Hindia Belanda menggencarkan penyatuan berbagai jalur kereta api di tanah Jawa tahun 1900-an. Kemudian 14 tahun setelahnya, terowongan tersebut dibangun untuk mempermudah jangkauan rel yang kerap terhalang perbukitan.

Alasan pembuatan terowongan ini tepat, mengingat kawasan Pangandaran saat itu masih terdiri dari lembah dan perbukitan sehingga sulit untuk dijangkau. Dengan adanya terowongan ini akses tersebut bisa ditembus.

Struktur terowongannya pun dibuat dengan beton tebal, demi menahan bebatuan andesit yang terkandung penuh di bukit tersebut. Hasilnya, jalur bawah gunung itu bisa terwujud dengan total panjang mencapai 1.127,1 meter (1,12) KM.

Sejak itu, Terowongan Wilhelmina menjadi jalur utama kereta api yang melintasi rute Banjar – Cijulang juga menghubungkan jalur alternatif kereta dari Kalipucang menuju Lembah Parigi dan sebaliknya.

Pembangunan Berisiko Tinggi

Pembangunan terowongan tersebut dikerjakan dengan hati-hati karena memiliki risiko yang tinggi. Proses pengerjaannya juga dibantu dengan teknologi tepat guna saat itu. Sejumlah warga pun dikerahkan untuk membantu memahat bebatuan yang tebal.

Dahulu, sempat terjadi perdebatan terkait pembangunannya, lantaran lokasi yang terjal dan akan memakan biaya besar. Namun proyek tersebut tetap berjalan, lantaran didukung pihak swasta yang banyak memiliki perkebunan di sana.

Saat selesai, jalur dan terowongan itu membantu mobilitas masyarakat termasuk mengangkut hasil perkebunan ke perkotaan dan keluar daerah.

Sebelumnya proyek pembangunan juga diketahui sempat terhenti lantaran banyak kejadian yang tidak masuk akal. Beberapa di antaranya banyaknya pekerja yang tiba-tiba sakit, dan meninggal dunia. Lalu ada juga yang menyebut jika banyak tenaga ahli yang mundur lantaran sulitnya menembus bebatuan di pegunungan tersebut.

Menyandang Gelar Terowongan Terpanjang di Indonesia

Sayangnya, lambat laun jalur tersebut mulai sepi hingga akhirnya jalur tersebut terpaksa ditutup. Beberapa waktu setelahnya jalur ini kembali dioperasikan, dan terakhir kali melayani kereta api di tahun 1983.

PT. KAI sempat merencanakan pengaktifan kembali jalur tersebut di tahun 2018 bersama jalur-jalur mati kereta api. Namun sampai sekarang upaya tersebut masih belum terealisasi.

Walau demikian, rencana tersebut masih dimungkinkan terjadi lantaran kondisi lahan yang masih memadai, dibanding jalur lain di wilayah Parahyangan seperti Rancaekek–Tanjungsari dan Cikudapateuh–Ciwidey.

Terowongan Wilhelmina sempat menjadi saksi kejayaan jalur kereta api Banjar – Pangandaran – Cijulang dan dinobatkan sebagai terowongan kereta terpanjang di Indonesia.

Terkesan Mistis

©2022 Dokumentasi Kemdikbud/Merdeka.com

Terakhir, kondisi Terowongan Wilhelmina masih tidak terurus. Dinding-dinding beton di dalamnya lembap, hingga terjadi rembesan air di beberapa titik.

Kondisinya pun gelap dan becek sehingga menambah kesan seram di lokasi. Sisa-sisa rel juga sudah tidak terlihat, dan menurut informasi sebagian hilang dan terbenam tanah.

Terowongan membentang dari timur laut ke barat daya, dengan pola garis lurus. Untuk lebar terowongan ini mencapai 826 cm, dengan tinggi 450 cm. 

(mdk/nrd)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.