Semasa Kecil Tak Ingin jadi Pendeta, Kini Ignatius Suharyo Dipercaya jadi Uskup Agung Jakarta
Ia mengajak para jemaahnya menjadi 100% Katolik sekaligus 100% Indonesia.
Ia mengajak para jemaahnya menjadi 100% Katolik sekaligus 100% Indonesia.
Semasa Kecil Tak Ingin jadi Pendeta, Kini Ignatius Suharyo Dipercaya jadi Uskup Agung Jakarta
Semasa kecil mengaku tak ingin jadi pandeta, kini Ignatius Suharyo justru dipercaya sebagai Uskup Agung Jakarta. Pendeta kelahiran Bantul DIY itu sudah menjadi tokoh penting di Keuskupan Jakarta sejak 2009 silam.
Profil
Ignatius Suharyo lahir pada 9 Juli 1950 dari pasangan ayah Florentinus Amir Hardjodisastra dan ibu Theodora Murni Hardjadisastra. Suharyo adalah anak ketujuh dari sepuluh bersaudara. Kakaknya, yakni RP. Suitbertus Ari Sunardi OCSO adalah rahib imam di Pertapaan Santa Maria Rawaseneng Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sementara dua saudarinya menjadi biarawati, yakni Suster Christina Sri Murni, FMM dan Suster Maria Magdalena Marganingsih.
Masa Kecil
Suharyo kecil bercita-cita menjadi polisi. Kepada kedua orang tuanya ia menegaskan tak ingin jadi pastor. Suatu saat, pastor yang melayani misa di desa tempat tinggalnya bertanya apakah Suharyo berminat masuk seminari. Ia pun menjawab bersedia.
Inisiatif
Sebagai sosok yang penuh kehati-hatian, selama lima tahun pertama Suharyo belajar memahami dinamika Keuskupan Jakarta tanpa banyak bicara.
Saat itu, ia mengusulkan agar Keuskupan Jakarta mengembangkan semangat cinta tanah air. Cinta tanah air diwujudkan dengan setiap tahun menggali setiap sila dalam Pancasila. Masing-masing sila Pancasila diterjemahkan dalam gagasan-gagasan sederhana hingga dipraktikkan menjadi tindakan. Sehingga dalam lima tahun, umat katolik khususnya jemaah Keuskupan Agung Jakarta mendalami betul semangat cinta tanah air.
100% Indonesia
Menurut Ignatius Kardinal Suharyo, nilai asli bangsa Indonesia adalah kerelaan berbagi kepada orang lain. Hal ini kemudian ia terjemahkan ke dalam program kerohanian di Keuskupan Agung Jakarta. Ia menyelaraskan nilai asli bangsa Indonesia dengan ajaran Katolik.
"Setiap tahun satu tema, didalami dijadikan gerakan bersama. Tahun kemarin, martabat manusia. Tahun ini, kesejahteraan bersama. Tahun depan, solidaritas dan subsidiaritas. Tahun berikutnya, memberi perhatian lebih kepada saudara-saudari yang kurang beruntung. Terakhir, menjaga dan merawat bumi," papar mantan Dekan Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma itu.