LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. JABAR

Petani Lengkuas di Lebak Tunda Panen, Ternyata Ini yang Jadi Penyebabnya

Arman, salah seorang petani lengkuas (laja merah) mengungkapkan jika saat ini harganya tengah anjlok. Jika sebelumnya memiliki harga sebesar Rp8 ribu di pasaran, namun sekarang harganya anjlok hingga menjadi Rp2.000 per kilogram. Harga tersebut membuat petani rugi puluhan juta karena tak mampu menutupi biaya produksi

2021-06-21 15:57:00
Jabar
Advertisement

Masa panen biasanya kerap ditunggu oleh seluruh petani. Banyak para petani yang mengharapkan keuntungan dari hasil panen untuk menutupi modal.

Namun hal tersebut tampaknya berbeda bagi para penggarap perkebunan lengkuas atau laja merah di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Mereka diketahui terpaksa menunda panen, kendati waktu panen sudah berlalu selama dua minggu ini.

"Kami lebih baik menunda panen hingga dua bulan ke depan" kata Arman (64) seorang petani lengkuas warga Curug Bitung Kabupaten Lebak, Sabtu (19/6) dilansir dari Antara.

Advertisement

Lantas apa yang membuat para petanidi Lebakmenunda masa panen? Berikut informasi selengkapnya:

Harga Anjlok di Pasaran

Advertisement

www.ivandimitrijevic.com

Saat ditemui wartawan, Arman mengungkapkan alasannya menunda panen selama dua bulan ke depan karena saat sekarang harga lengkuas di pasaran tengah anjlok.

Ia menerangkan, laja merah sebelumnya memiliki harga sebesar Rp8.000 di pasaran. Namun sekarang harganya anjlok hingga menjadi menjadi Rp2.000 per kilogram.

Ia pun bercerita jika seharusnya proses pemanenan dilakukan di bulan Juni ini, mengingat usianya sudah memasuki 10 bulan.

"Kami menunda ini sambil menunggu kembali harganya normal," ungkap Arman.

Petani Merugi hingga Puluhan Juta

Arman menilai, lonjakan harga yang terjun bebas itu membuat para petani laja merah di Kabupaten Lebak merugi. Pasalnya, biaya produksi dan pemberian upah menjadi tidak terpenuhi karena jauh dari target.

"Jika harga Rp2.000 per kg tentu petani merugi dengan menghasilkan Rp10 juta dari 5 ton/hektare. Biaya, produksi mulai pembelian bibit hingga upah pekerja habis Rp13 juta/hektare," katanya.

Adapun sebelum harga yang seperti sekarang, pihaknya mampu meraup Rp40 juta/hektare dari Rp8 ribu/kilo lengkuas.

Memanfaatkan Lahan Tidur Milik BUMN

Arman menambahkan, jika saat ini banyak dari para petani lengkuas di Kabupaten Lebak yang memasok barangnya ke Pasar Induk Tanah Tinggi Tangerang, termasuk ke Pasar Induk Kramat Jati di Jakarta.

Hal tersebut disebabkan oleh kegiatan produksi yang ditampung oleh bandar besar di kedua pasar induk tersebut. Menurutnya jika kejadian itu terus menerus terjadi, tidak memanen adalah jalan yang akan dipilih petani.

"Kami merugi jika harga lengkuas dijual Rp2. 000/kg dan lebih baik tak dipanen, " katanya.

Sementara itu Ujang, selaku petani lengkuas lainnya mengaku bahwa panen laja merah di sini merugi karena harga pasaran anjlok jauh (dari Rp8.000 ke Rp2000/kg), hal itu membuat banyak petani yang menunda panen.

Mereka kebanyakan akan mengembangkan tanaman lengkuas dengan memanfaatkan lahan-lahan tidur milik perusahaan, TNI dan BUMN.

Selama ini lanjut dia, lahan tidur tersebut jumlahnya ribuan hektare, dan masyarakat banyak menggunakannya dengan bercocok tanam palawija, hortikutura hingga padi huma.

"Kami mengembangkan lengkuas seluas satu hektare dan normalnya bisa menghasilkan Rp40 juta per hektare, " katanya.

(mdk/nrd)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.